"Haaa ... aku sangat mengantuk!” lirih Sehan yang menguap.
"Tidurlah dulu, Tuan! Perjalanannya masih panjang untuk sampai di perkampungan perbatasan kota itu," kata Pak Natifgad si supir taksi.
Nampak seorang pasangan muda pengantin baru yang baru saja menikah beberapa jam yang lalu, sedang duduk berdampingan di dalam mobil masih memakai pakaian pernikahan mereka, seorang pengantin pria bernama Sehan memakai jas pengantin berwarna hitam dengan dasi yang begitu manis, sedangkan sang istri yang baru saja dinikahinya bernama Kanisa mengenakan gaun pernikahannya berwarna putih internasional juga riasan yang terlihat begitu mewah.
Namun, mereka nampak tak saling tegur sapa.
"Oh iya, bisa katakan kenapa orang tua kalian mengusir dan juga menyuruh kalian untuk pergi dari rumah mereka?" tanya Pak Natif.
"Hei, kami tidak diusir oleh siapapun, maupun diusir oleh orang tua kami. Aku dan Si Nona ini–emh maksudku istriku Kanisa tidak diusir oleh orang tua kami," jawab Sehan.
"Lalu?" tanya lanjut Pak Natifgad.
"Iya, kami memang sudah dibelikan rumah oleh mereka dan ini kami akan langsung pindah ke rumah baru itu, isi koperku pun begitu penuh," jawab Sehan badmood.
"Hmm, baiklah. Aku akan secepat mungkin membawa pengantin baru ini ke rumah kalian dan kalian akan segera ...." Pak Natif tidak melanjutkan pembicaraannya dengan memotong ucapannya sendiri.
"Apalah kau ini Pak supir, lebih baik tidak usah memperlaju kecepatan mobilnya, ya? Itu bisa bahaya nanti, yang sewajarnya saja!” saran Sehan ketus.
"Baiklah-baiklah maaf,” jawab Pak Natif.
"Hoh, entah kenapa istriku itu diam saja bahkan tidak berbicara sedikitpun padaku yang sudah menjadi suaminya," gumam Sehan yang melirik Kanisa, istri yang duduk di sebelahnya.
Perjalanan demi perjalanan mobil taksi yang mengangkut pengantin baru Sehan dan Kanisa berlalu begitu sangat cepat, indahnya pemandangan kota dengan kendaraan yang begitu sangat ramai di sore hari yang begitu sangat cerah juga masih adanya cahaya matahari yang begitu cantik bersinar terang berlalu begitu saja.
Mobil pun berhenti di depan sebuah rumah yang tidak lain adalah rumah Sehan dan Kanisa yang dibelikan oleh orang tua untuk mereka tinggali setelah pernikahannya ini.
"Pak supir turunkan semua koper dan juga tas-tas kami! Sekalian bawa masuk ke dalam rumah kami juga, ya!" perintah enteng Sehan.
"Baiklah," jawab Pak Natifgad.
"Hoh, memangnya dia buat apa sehingga tidak mau mengangkat barang-barangnya masuk ke dalam rumah?” batin ketus Kanisa yang mulai merespons.
"Hei, istriku apa kau tidak mau turun?" tanya iseng Sehan.
"Memangnya kenapa?" tanya balik Kanisa yang terlihat melirik tajam Sehan.
"Wah, jadi ini sifat aslimu? Luar biasa aku baru tahu sekarang, lanjutkan, tapi awas matamu tidak bisa balik normal karena melirikku tajam, ya?” jawab Sehan sambil meledek.
Sehan mulai berjalan ke area rumah barunya yang baru mau ditempatinya bersama sang istri Kanisa dengan membawa kunci rumah, sedangkan Pak Natif si supir taksi sibuk mengeluarkan barang-barang dan koper dari bagasi mobil.
"Rumahnya seperti di foto yang ditunjukkan oleh ibuku." Sehan melihat layar ponselnya dan menyamakan rumah ini.
Rumah ini begitu sangat modern meskipun tidak tingkat dan halaman rumah cukup indah yang di dekat jalan perkampungan ini. Rumahnya begitu luas dan bersih. Sungguh ini adalah benar-benar rumah baru.
Sehan pun mencoba membuka pintu utama rumah tersebut, sedangkan di sisi lain Kanisa mulai keluar dari mobil dengan nampak kesusahan dengan gaun mewahnya.