What's Left After Goodbye

Bells
Chapter #1

Bab 1

CINDERELLA. Romeo and Juliet. Rama dan Shinta. Siti Nurbaya. Roro Jonggrang…

Semua naskah adaptasi itu dipenuhi oleh penanda kertas berwarna merah muda yang menggulung di bawah lapisan tipis debu dan coretan familiar yang membuatku berhenti sejenak, tanpa sadar menahan napas. Tulisan tangan Elena masih sama seperti yang kuingat: terlalu miring, dengan jarak spasi kata yang tidak konsisten, huruf-hurufnya tidak terbentuk sempurna satu sama lain hingga membuatnya agak sulit dibaca. 

Aku sudah mengenalnya seumur hidup untuk bisa menghafal semua kebiasaan-kebiasaannya, termasuk bagaimana dia selalu menggerakkan pena dengan buru-buru—hasil yang didapatnya sejak kami baru belajar menulis, karena kami harus menyelesaikan setidaknya satu halaman buku latihan pra-sekolah dasar sebelum diizinkan bermain, atau dalam kasus Elena: menonton televisi.

Jemariku bergerak lambat untuk membalik satu per satu lembaran kertas yang kuletakkan di atas pangkuanku. Elena tidak pernah lupa menambahkan detail-detail kecil seperti, “mata berkaca-kaca tapi jangan sampai menangis” atau “sudut-sudut bibir terangkat tipis” di bawah kalimat bagiannya yang diwarnai dengan stabilo berwarna pastel, dan aku menemukannya hampir di setiap halaman. 

Aku ingat menyaksikan separuh pertunjukan yang diperankannya secara langsung di panggung auditorium sekolah, dan separuhnya lagi lewat video amatir yang direkam oleh Hazel, sahabatku, menggunakan perangkat kamera DSLR miliknya. Hasilnya terlihat sangat bagus dan cukup profesional sampai-sampai ayahku mengusulkan agar kami memutarnya di televisi ruang keluarga pada Minggu pagi—yang menurut ibuku adalah cara paling tidak produktif untuk memulai hari, tetapi dia-lah yang bersorak paling keras setiap kali Elena muncul di layar, dan setelah pertunjukan usai, kami bertiga memberikan tepuk tangan paling meriah untuknya.

“Ah, hentikan, kalian membuatku malu!”

Semburat merah muda yang perlahan-lahan muncul di wajahnya, juga tawa yang menggema di seluruh ruangan hari itu barangkali akan menghantuiku untuk waktu yang lama.

“Apa sudah semua?”

Aku tersentak dari gelembung lamunanku dan mendongak. Ibuku baru saja muncul membawa kotak kardus tambahan yang dijanjikannya dan meletakkannya di lantai, tak jauh dari tempatku duduk bersila. Kami sudah menghabiskan hampir sepanjang pagi untuk, seperti yang dikatakan olehnya dengan hati-hati beberapa hari yang lalu, mencoba memberikan kesempatan kedua pada barang-barang Elena yang masih layak pakai. 

Jujur saja, aku bukannya keberatan dengan idenya. Sungguh. Tidak mudah bagi Ibu manapun untuk membuat keputusan semacam itu. Tapi bukan berarti aku tak merasa kesulitan sama sekali. Sejak tadi, dadaku terasa sesak, seolah ada tali-tali tak kasat mata yang menjeratku dan membuat udara di sekelilingku jadi lebih sulit dihirup. Bagaimana pun juga, tempat ini adalah dunia yang paling dekat dengan Elena. Dari boneka beruang besar di atas ranjang, naskah yang disimpan rapi di laci terbawah meja belajarnya, hingga koleksi dvd dan poster-poster film yang ditempel di sepanjang dinding kamar, aku seolah bisa melihat segala yang menjadi tujuan hidupnya andai tahun lalu tidak pernah terjadi. 

Andai dia tidak menaiki taksi yang salah dan tak pernah kembali ke rumah. 

“Ini yang terakhir,” kataku, menunjuk ke arah tumpukan pakaian di samping kaki tempat tidur yang sudah kupisahkan sebelumnya. Aku tak bisa memutuskan apakah aku harus memasukkannya ke dalam kotak ‘pakaian - formal/semi formal/seragam’ atau ‘pakaian - santai/jins/piyama’ dan ibuku berkata akan mencarikan kotak tambahan untuk kategori baru: ‘pakaian - kostum’

“Haruskah aku menghubungi seseorang dari Teater Aksara?” 

Lihat selengkapnya