KONON, seseorang yang dalam hidupnya memiliki sahabat (bukan jenis teman nongkrong atau teman dengan tipu muslihat yang hanya memanfaatkan satu sama lain demi reputasi atau semacamnya) adalah golongan orang-orang yang beruntung.
Pertemuan pertamaku dengan Hazel terjadi sekitar lima belas tahun silam. Dia adalah teman resmi pertamaku di TK: kecil, tak kenal takut, dan memiliki kira-kira seribu kosa kata lebih banyak dariku. Dia punya kepribadian yang berbanding terbalik denganku, tetapi serupa dengan Elena, yang membuat kami bertiga mudah akrab satu sama lain.
Aku ingat kata-kata pertamanya, saat itu ibunya menggenggam tangannya erat-erat, seolah jika tak melakukannya, dia akan menyelinap kabur dan terlibat dalam kekacauan yang tak terduga (salah satu cerita legendaris yang nantinya kudengar adalah dia yang mencoba memakan tanah liat berbentuk kue); “Wow. Aku nggak pernah bertemu anak kembar sebelumnya. Kalian betul-betul mirip!”
Saking seringnya mendengar kalimat semacam itu dari orang asing yang kami temui, aku hanya meresponnya dengan senyum seadanya, berbeda dengan Elena yang langsung mengulurkan tangan ke arah Hazel untuk mengajak berkenalan. Barulah saat itu ibunya melepaskan genggamannya agar mereka bisa berjabat tangan. “Kamu mirip sekali dengan Boo!”
“Boo?” ulang Hazel.
“Boo! Pintu bunga-bunga! Mike Wazowski!”
Monster Inc adalah salah satu film kesukaan Elena, dan penampilan Hazel waktu itu—dengan kaus berwarna pink fuschia dan rambut yang dikuncir dua berponi memang terlihat sangat mirip karakter bocah yang tak sengaja masuk ke dalam perusahaan monster lewat pintu yang berfungsi sebagai portal khusus.
“Oohhh, aku tahu Boo!” kata Hazel, nyengir lebar saat dia menyadarinya. “Tapi aku lebih suka si bunglon. Tahu, kan, yang punya kemampuan mengubah kulitnya buat sembunyi?”
Aku mengernyit. “Tapi, dia jahat,” selaku.
“Tentu saja dia jahat. Dia, kan, monster yang menakuti anak-anak,” kilah Hazel. “Dan warnanya ungu!”
“Itu masuk akal,” sahut Elena, yang membuatku langsung melongo heran. Aku bersumpah dia sangat membenci karakter itu sebelumnya. Dia selalu mengerutkan hidungnya setiap kali si bunglon licik (yang menurutku lebih mirip kadal) melakukan sesuatu.
Hazel tersenyum puas. “Bagus. Kalian mau jadi temanku?”
Lagi-lagi aku menoleh ke arah Elena, dan melihat binar antusias yang terpantul di kedua matanya, kurasa segalanya sudah diputuskan bahkan seandainya Hazel tidak bertanya.
***
Satu-satunya masalah adalah, Hazel terlalu periang dan (kadang-kadang) tak bisa diprediksi.
Selain bergabung dalam kelompok pertemanan berisi lima anggota dengan nama paling konyol sedunia (sebut saja Itik Kecil), bergaul dengan Hazel membuatku mau tidak mau terlibat dalam lingkaran sosial yang tidak biasa, dan saat kubilang ‘tidak biasa’, aku bahkan tidak bercanda—rasanya seolah dia kenal semua orang yang ditemuinya secara acak: kakak mahasiswa yang bekerja sebagai pegawai paruh waktu di minimarket dekat rumah yang sesekali membantu kami mengerjakan pr, vokalis band lokal yang selalu memberi kami tiket konser gratis, pria paruh baya penjaga kolam renang yang mengizinkan kami masuk setelah jam tutup (Hazel berteman dengan putrinya), sampai ke nenek pemilik toko barang-barang antik yang dengan senang hati memberitahu kami soal silsilah keluarganya sejak awal tahun 1900-an, bahkan sebelum Indonesia merdeka.
Gara-gara itu, Elena jadi memanggilnya dengan sebutan Hebara.
“Alias Hazel-kapibara,” katanya. Julukan yang menurutku kelewat cocok untuknya, karena kapibara konon bisa berteman antar spesies, bahkan dengan monyet atau buaya sekali pun.
Aku membiarkan pikiranku berkelana jauh ke masa lalu dalam perjalananku menuju Trove—sebuah kafe yang belakangan ini sering muncul di media sosial berkat promosi dari salah satu influencer terkenal, yang membuatku tak sengaja melupakan paper bag berisi hadiah ulang tahun Hazel (dress pantai selutut berwarna kuning cerah yang kubeli di Yogyakarta.) Begitu menyadarinya, aku buru-buru memutar tumitku sebelum tiba di pintu kafe. Aku sudah setengah jalan kembali menuju brio merah ibuku yang berhasil kuparkir dengan susah payah ketika pandanganku teralihkan pada sosok jangkung yang baru saja mematikan mesin motor. Kedua tangannya yang berlapis sarung tangan kulit terangkat ke atas untuk melepas helm di kepalanya.
Aku mengenali tas gitar di balik punggungnya lebih dulu sebelum menemui tatapan Shaka Mahesa, sahabatku yang lain, satu dari lima anggota Itik Kecil yang masih tersisa selain aku dan Hazel.
“Ela?” katanya, terdengar agak ragu-ragu, seolah dia sendiri tidak yakin dengan penglihatannya sendiri.
“Shaka.” Aku melambaikan tanganku dalam gerakan menyapa. Dia mengayunkan kaki untuk turun dari motor besarnya, lalu mengambil beberapa langkah lebar untuk menghampiriku.
“Wah, ternyata benar,” katanya.
Keseluruhan penampilannya masih sama seperti yang kuingat, meski dengan beberapa perubahan mencolok. Kulitnya yang berwarna zaitun tampak semakin gelap, kurasa karena dia terlalu banyak beraktivitas di bawah sinar matahari. Iris mata dan rambut tebalnya yang berwarna hitam pekat dibiarkan tumbuh panjang dan diikat di belakang kepala, mirip penampilan Lee Do-Hyun dalam film Exhuma. Kurasa tepat seperti itulah tampilan yang selalu dia inginkan saat menjadi mahasiswa, karena dia tak pernah punya kesempatan untuk memanjangkan rambut selama di sekolah dulu.
Aku berdehem. “Lama nggak ketemu, ya.”
“Kelewat lama,” sahutnya, sambil menyelipkan kunci motornya ke dalam jaket kulit hitam yang melapisi kaus putihnya dan memberiku pelukan singkat. “Kapan kamu balik ke Jakarta?”
“Um, tiga hari yang lalu.” Aku menelan ludah, merasa agak bersalah karena tidak langsung menghubunginya. Sudah berapa lama kami tidak bertemu secara langsung?
Hazel dan Shaka mengunjungiku setiap hari tanpa terlewat sekali pun setelah pemakaman Elena tahun lalu untuk memastikan aku baik-baik saja—paling tidak bertahan hidup hari itu. Mereka berusaha membuatku bangun dari tempat tidur, mandi (atau sekedar membasuh muka dan menggosok gigi), dan tidak melewatkan waktu makan lebih dari sekali.
Mereka juga-lah yang meyakinkanku agar tidak mengundurkan diri ketika hasil SNBT diumumkan dan namaku dinyatakan lolos dalam jurusan kedokteran hewan (yang merupakan pilihan pertamaku) setelah sebelumnya gagal di SNBP.
“Coba pikirkan baik-baik,” kata Hazel waktu itu, saat aku tidak kunjung melakukan proses registrasi ulang meski tenggat waktu yang ditentukan oleh Universitas Ganadipa, salah satu kampus unggulan di Yogyakarta, sudah semakin dekat. Hanya tersisa beberapa jam saja. Kedua tangannya mencengkeram masing-masing bahuku dengan erat. “Hidupmu nggak boleh berhenti di sini, oke?”
Kurasa dia tidak mengerti. Ada bagian dalam diriku yang merasa terlalu bersalah untuk melanjutkan hidup, seolah hari dimana Elena meninggal adalah hari kematianku juga. Bedanya, jantungku masih berdetak. Aku terjebak dalam selubung tipis yang memisahkan antara dunia lamaku dengan kenyataan.
“Dia benar,” timpal Shaka, dengan senyum yang dimaksudkan agar terlihat meyakinkan, namun aku bisa melihat sorot kepanikan di kedua matanya yang berwarna gelap. “Bukannya ini kesempatan yang sudah kamu tunggu-tunggu?”
Ya, tadinya, pikirku.
Aku sudah merencanakan banyak hal sebelum kecelakaan itu terjadi, tapi semua itu tidak penting lagi. Tidak tanpa Elena.
“Kamu bisa mulai semuanya dari awal di Yogyakarta,” desak Hazel. “Kalau perlu, aku dan Shaka yang akan mengantarmu ke sana. Abaikan saja soal kuliah. Kakakku bilang, semester awal belum seserius itu, kok. Kamu bisa pergi ke pantai atau ke tempat-tempat wisata sesuka hatimu. Bertemu teman-teman baru. Seenggaknya jangan menyerah sekarang sebelum kamu memulainya.”
Shaka mengangguk-angguk. “Elena pasti nggak menginginkan itu,” katanya, dan Hazel memberinya semacam tatapan memuji.