What's Left After Goodbye

Bells
Chapter #3

Bab 3

LIMA Itik Kecil. Itulah julukan yang disematkan oleh orang-orang di sekitar kami bertahun-tahun lalu—padaku, Elena, Shaka, Hazel, dan juga… Kenzo. 

Semua gara-gara peran yang kami tampilkan untuk pentas Ugly Duckling di tahun pertama sekolah dasar. Dari sanalah orangtua kami saling mengenal satu sama lain dan mulai melibatkan kami dalam berbagai aktivitas bersama—piknik di taman kota, bermain pasir di pantai buatan, mengunjungi kebun binatang dan aquarium, pergi ke pertunjukan teater, dan macam-macam lagi.

Pernah suatu ketika, kami pergi ke kolam renang sepulang sekolah. Aku masih ingat saat kami berlima meluncur bergantian di lintasan perosotan, melewati jembatan bertali di atas kolam, menunggu ember raksasa menumpahkan air di atas kepala kami, lalu berlomba-lomba menaiki ban renang plastik warna-warni untuk mencari tahu siapa yang bisa berenang paling cepat di kolam arus, sampai insiden itu terjadi: pinggiran dinding kolam yang tajam berhasil menggores sisi samping ban milikku dan menciptakan robekan panjang. Insiden itu sebetulnya mustahil terjadi andai pelampungku tidak kelebihan udara saat ayahku memompanya. 

Masalahnya, aku sudah tertinggal cukup jauh dari yang lain, dan pelampung di bawah tubuhku menyusut dengan cepat, menyisakan plastik kempis yang tak bisa membantuku mengapung. Ketakutan menyelimutiku saat menyadari ujung kakiku tidak mencapai dasar kolam. Aku berusaha menggerakkan kakiku dengan panik. Tanganku berusaha menggapai ke permukaan air dengan sia-sia. 

Ingatan selanjutnya hanya berupa bayang-bayang samar: suara panik mulai terdengar semakin keras, isakan Elena, lalu seorang pria bertubuh besar meluncur masuk ke dalam kolam, dan tangan-tangan kuat menarikku ke luar. Begitu kepalaku menyembul dari dalam air, sinar matahari terasa begitu menyengat di kulitku, mataku terasa perih, dan air menetes-netes dari ujung-ujung rambut dan pakaian renangku, lalu keluar dari hidung dan mulutku dalam bentuk batuk yang menyakitkan, dan aku nyaris tak bisa bernapas dengan benar. 

Tepat seperti itulah yang kurasakan ketika melihat Kenzo, sekarang, di hadapanku. Napasku tercekat selama sesaat. Pikiran pertama yang melintas di benakku adalah: Mustahil itu dia. 

Tetapi penilaian itu langsung berubah dalam sekejap. Kedua mataku melebar seolah melihat hantu. Hanya saja, dia bukan hantu. Sama sekali bukan. Aku melihat langsung ke masa lalu dan membeku. 

“Ela?”

“Uh…” Aku bahkan tak bisa bereaksi dengan benar. 

Dia terlihat asing sekaligus tidak asing di waktu yang bersamaan. Kenzo versi terbaru dengan versi ingatanku saling tumpang tindih satu sama lain dalam pikiranku, dan aku menemukan diriku tanpa sadar membandingkan keduanya. Mula-mula dari segi fisiknya yang kini menjulang pesat seolah terkena mantra pertumbuhan selama empat tahun terakhir. Dia memang tak setinggi atau seatletis Shaka, tapi tetap saja aku harus mendongak untuk bisa menatap wajahnya—yang fitur-fiturnya tidak selembut dulu. Garis rahang dan hidungnya terlihat semakin tegas, menghilangkan kesan kekanakan yang melekat padanya, mengubahnya jadi lebih menawan. Meski begitu, kebiasaan-kebiasaan lama tampaknya tidak pernah meninggalkannya, seperti bagaimana dia selalu mengenakan dua lapis pakaian meski cuaca sedang panas; atau caranya mengikat tali sepatu dengan simpul ganda yang rumit; atau bagaimana dia mengenakan arloji hitam yang sama di pergelangan tangan kanannya. 

“Kenapa kalian nggak mencoba kue-kuenya dulu?” sela Hazel, yang tampaknya menyadari ketegangan di antara kami berdua. Dia menunjuk ke arah meja panjang yang masih cukup ramai. Clara Florencia masih ada di sana. “Muffin coklatnya nggak terlalu manis, dan macaroon-nya punya lebih dari sepuluh rasa!” 

Aku mendesah pelan. “Heba…” Aku memberinya tatapan ini bukan waktunya untuk membicarakan soal makanan. Tapi saat itu perhatiannya teralihkan pada ponsel di tangannya. Dia memberiku isyarat tangan yang berarti hendak mengangkat telepon ke luar, dan tanpa menunggu jawabanku, dia sudah lebih dulu beranjak menuju pintu kafe sambil menempelkan ponselnya ke telinga, meninggalkanku sendirian bersama Kenzo.

Ah. Mungkin aku harus berpura-pura mengangkat telepon juga. Atau aku bisa melangkah pergi begitu saja—toh, dia tidak punya alasan untuk menahanku. Aku sudah setengah jalan memutar tubuhku ketika Kenzo berkata, “Bisakah kita bicara?”

Kedua tanganku terkepal erat di masing-masing sisi tubuhku. Kenapa sekarang?

“Dua menit juga nggak masalah,” katanya. 

Aku menoleh padanya sambil mengernyit. Dua menit? Memangnya dia pikir dia bisa menambal tahun-tahun yang hilang dalam waktu sesingkat itu?

“Nggak sekarang.” 

Aku bahkan tidak ingin memberinya semenit. Tapi apa yang kulihat di mata Kenzo adalah sesuatu yang lebih mirip sorot kebingungan, seolah dia tidak bisa memahami reaksiku barusan. Seolah dia tidak menyadari jarak yang kini membentang di antara kami bahkan tak akan bisa ditempuh dengan ribuan langkah sekalipun. 

Dia menelan ludah. “Oke,” katanya. “Jadi, lain kali?”

Aku memilih tidak menjawab.


***

Lihat selengkapnya