TIDURKU malam itu sama sekali tidak nyenyak. Semalaman, aku kerap terbangun beberapa kali gara-gara mimpi yang menyebalkan—dengan kemunculan Kenzo sebagai bintang tamu tak diundang.
Kenzo versi terbaru ini terlihat canggung dan tidak familiar sama sekali. Dia berusaha mengejarku kemana pun aku pergi, mencegahku melakukan sesuatu, dan membuatku jengkel bukan main. Bahkan dalam mimpi sekalipun, dia masih saja tak bisa kumengerti.
Aku mengernyit ketika merasakan sinar matahari menimpa wajahku. Cahayanya menembus masuk melalui jendela kamar yang tirainya terbuka lebar—pasti ulah ibuku, dan aku mengerjapkan mata beberapa kali untuk membiasakan diri. Tanganku meraba-raba ke bawah bantal dan meraih ponsel. Pendar cahaya dari ponsel mengenai wajahku. Layarnya menunjukkan angka 08.33.
Aku memaksa turun dari tempat tidur, setengah menyeret kakiku ke dalam kamar mandi untuk mencuci muka dengan air dingin, berusaha keras menyingkirkan wajah Kenzo dari pikiranku. Betapa terkejutnya aku saat melihat pantulan bayanganku sendiri di depan cermin wastafel. Gadis yang menatapku itu benar-benar kelihatan… kacau. Sama sekali tidak terlihat seperti aku: wajah pucat, bibir kering dan pecah-pecah, rambut berantakan, kantung mata hitam tebal di bawah mata.
Bagus sekali.
Aku mengambil handuk dan memutuskan untuk mandi, dimulai dengan melumuri rambutku dengan sebanyak mungkin sampo organik beraroma mawar, menggosok tubuh dengan spons mandi (yang sangat jarang kulakukan kecuali aku punya acara penting), dan menyikat gigi keras-keras sebelum berkumur dengan cairan berwarna biru muda yang rasanya membakar langit-langit mulutku. Setelah menghabiskan hampir tiga puluh menit berkutat dengan tubuhku dari ujung kepala hingga ke ujung kaki, akhirnya aku keluar dari kamar mandi dengan kondisi lebih mirip manusia normal.
Kutarik kaus lengan pendek hitam dengan sablon kata-kata Slow Sundays melewati kepalaku, dan kupadukan dengan rok bunga-bunga yang kukenakan ke pesta ulang tahun Hazel kemarin. Ketika turun ke lantai bawah, aku tak menemukan siapa pun. Tentu saja—ini hari Senin. Hanya ada sebaris pesan ditulis tangan yang ditinggalkan ibuku di pintu kulkas menggunakan sticky notes kuning: Ibu sudah masak sup telur di panci, tinggal dipanaskan untuk sarapan.
Ibuku biasanya tidak memasak di pagi hari karena menganggapnya sebagai pekerjaan yang merepotkan, dan ayahku tak pernah memprotes. Mungkin karena mereka sama-sama berbagi sentimen sebagai pegawai kantoran—ibuku bekerja di perusahaan periklanan dan ayahku di perusahaan asuransi. Tapi setelah aku kembali ke rumah, aku menyadari kalau ibuku tak pernah melewatkan hari tanpa memasak sesuatu meski hanya menu-menu sederhana.
Jadi, aku menyalakan kompor.
Kurasa satu-satunya kegiatanku hari ini adalah… tidak melakukan apa-apa sampai kedua orangtuaku kembali.
Itulah gunanya liburan.
***
Atau setidaknya, begitulah rencana awalku sebelum bel pintu rumah berbunyi pada pukul sebelas, dan aku menemukan Shaka berdiri di balik pintu. Motor besarnya terparkir di luar gerbang.
“Halo.”
Aku mengerjap. Penampilannya kali ini tampak modis namun kasual. Dia memadukan celana jins abu-abu dengan kaus putih yang ditimpa jaket varsity biru. Tidak seperti kemarin, rambut panjangnya dibiarkan setengah terurai. Sepatu kets putihnya sepertinya baru dicuci.
“Kamu mau pergi kencan?” tanyaku.
Dia meringis sebelum menggeleng. “Aku bosan setengah mati di rumah, dan kupikir kenapa aku nggak menemuimu saja dan kita bisa pergi ke bioskop atau apalah.”
“Kita—apa?”
“Nonton film?” tawarnya. “Setelah itu mungkin kita bisa makan siang di Trove.”
Dalam kelompok kami, Shaka adalah penggemar berat film nomor dua setelah Elena. Aku ingat bagaimana mereka saling mengingatkan satu sama lain soal jadwal tayang film yang akan datang. Jika film itu menarik, mereka akan menontonnya sampai berkali-kali, entah itu di bioskop maupun OTT.
Tidak seperti Elena yang hobi membuat jurnal bertulis tangan khusus untuk mengulas film yang pernah dia tonton, Shaka lebih memilih blog pribadi atau aplikasi seperti Letterboxd.
“Lena suka hal-hal yang merepotkan, tapi aku nggak,” dia pernah memberitahuku dulu. Dan aku setuju. Kadang, aku juga tak mengerti kenapa Elena sangat senang menyusahkan diri sendiri.
“Kamu nggak mengajak Heba?” tanyaku, heran.
“Dia sedang ada rapat organisasi,” kata Shaka, seolah aku harusnya tidak perlu menanyakan hal yang sudah jelas. “Dan Kenzo sedang berkunjung ke rumah lamanya. Hanya kita berdua saja yang tersisa.”
Sepuluh menit kemudian, aku sudah mengganti rokku dengan celana jins panjang (karena siapa juga yang mau membonceng motor miliknya dengan memakai rok?) dan kami bergabung dalam ingar bingar jalan raya. Kami baru saja keluar dari portal perumahan saat aku membuka kaca helm yang menutupi bagian depan wajahku dan memajukan tubuh sampai daguku berada di atas bahunya. Kedua tanganku berpegangan pada ujung-ujung kemejanya.
“Ngomong-ngomong, apa maksudmu Kenzo kembali ke rumah lamanya? Memangnya dia nggak tinggal di sana?” tanyaku.
“Hmm? Nggak, dia menginap di studio milik sepupunya.” Shaka menghentikan motornya tepat di depan garis putih lampu merah. “Lagipula, mana bisa dia tinggal dengan ayahnya, sih?” gerutu Shaka. “Maksudku, setelah semua itu. Aku juga nggak akan mau kembali. Bayangkan saja harus bersikap hati-hati di rumahmu sendiri karena ada perempuan lain yang berstatus sebagai ibu barumu berkeliaran…”
Ayah Kenzo sudah menikah lagi beberapa tahun lalu—dengan wanita muda yang bekerja sebagai resepsionis di klinik bersalinnya. Meski orang-orang dewasa tak mau mengatakannya secara gamblang, kami bisa mengira-ngira apa yang terjadi. Tidak sulit untuk menebaknya karena pernikahan itu dilangsungkan hanya tiga bulan setelah Ibu Kenzo pergi.
“Jadi, kenapa dia pergi ke sana?” tanyaku.
“Karena ayahnya menyuruhnya,” kata Shaka, tak habis pikir. “Bocah itu sangat penurut, kan? Bahkan setelah dia dimarahi habis-habisan pada pertemuan sebelumnya.”
“Apa yang terjadi?”
Shaka melirik sekilas ke arahku lewat kaca spion. “Soal jurusan kuliahnya. Ayahnya ingin Kenzo mengundurkan diri dan mendaftar di jurusan kedokteran lewat jalur lain yang masih buka. Atau kalau nilainya nggak cukup, dia diminta untuk mengikuti ujian UTBK ulang tahun depan.”
“Wah, mengerikan.”
“Ya, kan? Kalau aku jadi dia, lebih baik aku melanjutkan studiku di Jepang. Aku nggak ngerti kenapa bocah idiot itu justru lebih memilih kembali ke sini dan mengacaukan masa depannya sendiri.”
Aku menghela napas panjang. Dia benar. Kenzo seharusnya tidak pernah kembali ke sini. Padahal dia sudah bersusah payah menghapus jejaknya…
“Tapi, hei. Kukira kamu nggak tertarik dengan apa yang terjadi padanya,” celetuk Shaka.
“Aku?” ulangku. “Kenapa?”
“Menurut Heba, kamu masih marah padanya.”
“Apa?” Aku hampir tersedak ludahku sendiri. “Heba bilang begitu?”
“Tapi menurutku, kamu cuma… kecewa? Kalian tadinya cukup dekat, kan?” ucapnya. “Maksudku, sebagai sesama introver dalam geng kita, aku merasa kalian melihat dunia dengan cara yang mirip. Nggak seperti kami yang lain.”
Aku terdiam mendengar analisis Shaka. Mungkin itulah sebabnya dulu aku memandang Kenzo lebih dari sekedar teman biasa. Di antara sahabatku, dia bisa memahamiku di level yang berbeda.
Jadi, dimana sebetulnya letak kesalahannya? Saat aku menulis surat cinta konyol untuknya? Saat dia mengabaikannya? Saat dia pergi tanpa kata untuk tinggal bersama keluarga ibunya?
Atau saat Elena meninggal tahun lalu dan dia tak pernah muncul?
Bagian rasional dari pikiranku mungkin bisa memahami kalau alasan Kenzo mengabaikanku atau surat konyolku bisa saja disebabkan oleh masalah pelik yang saat itu menimpa keluarganya, tapi bagaimana mungkin dia bersikap sedingin itu terhadap berita kematian Elena?