MUNGKIN seharusnya aku tidak kembali ke rumah.
Aku bisa saja memilih menghabiskan liburan panjang kali ini dengan mengikuti program kepanitiaan organisasi di kampus, atau mendaftar menjadi sukarelawan di tempat-tempat yang pernah direkomendasikan oleh beberapa kakak tingkat kenalanku—penampungan hewan terlantar atau klinik hewan dan memasukkannya ke dalam cv.
Setidaknya di sana aku tak perlu bertemu dengan Hansel. Atau Kenzo. Atau merasa cemas akan kemunculan hantu-hantu lain dari masa lalu yang tahan untuk menggangguku.
“Ada yang salah dengan nasi gorengnya?”
Aku mendongak dari piring makan malamku yang hampir tak tersentuh dan mendapati ibuku menatapku dengan gelisah. Ayahku, yang sedang makan sambil mengecek sesuatu dalam Ipadnya juga menoleh.
“Kamu nggak apa-apa, El?” tanyanya.
Seketika rasanya aku ingin menangis. Alasan utamaku tidak sering kembali ke rumahku selama setahun belakangan ini (selain karena kesibukanku sebagai mahasiswi tahun pertama) lebih disebabkan karena orangtuaku bersedia menjengukku di indekos setiap sebulan sekali.
Setelah Elena meninggal, aku tak pernah merasa siap menghadapi apa pun—baik masa depan maupun orangtuaku. Sahabat-sahabatku. Para guru dan teman-teman sekolahku. Atau bahkan orang asing yang turut berduka setelah membaca tentang insiden itu di situs berita lokal. Aku tidak siap mendengar ucapan belasungkawa yang hanya berisi kata-kata berulang yang sama, atau sekedar penghiburan yang tidak ada artinya.
Kamu akan baik-baik saja, Ela.
Semuanya akan membaik seiring berjalannya waktu.
Semakin sering aku mendengarnya, semakin kata-kata itu terdengar seperti kebohongan yang payah. Alih-alih terhibur, aku justru merasa semakin lelah. Semakin sesak. Sampai pada titik dimana aku sudah tak bisa menghadapi mereka lagi. Setelah insiden bersama Hansel malam itu, aku lebih memilih bergelung di kamar sambil memeluk selimut flanelku—hanya bergerak ketika Shaka dan Hazel datang berkunjung. Aku menolak menemui para tamu yang datang karena aku tahu mereka akan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi atau menyampaikan kata-kata duka ‘mendalam’, sesuatu yang sama sekali tak kubutuhkan.
“Aku membenci semua itu,” aku memberitahu Hazel.
Berita tentang kematian Elena bahkan dimuat dalam beberapa koran lokal dan situs berita harian yang ramai diperbincangkan kala itu: Kronologi Kecelakaan Mobil yang Menewaskan Siswi SMA; Polisi Menggelar Olah TKP Kecelakaan Mobil di Jalan XY, Kronologi Lengkap Sebagai Berikut; Diduga Mengemudi dalam Kondisi Mengantuk, Kecelakaan Lalu Lintas di Jalan XY Menewaskan Supir dan Penumpang…
Ada waktu-waktu dimana aku merasa begitu… tak berdaya. Pada saat itulah mimpi-mimpi buruk tentang mobil dan kilat ledakan menyelinap datang dan pergi seenaknya, tak peduli siang atau malam, dan melihat bayang-bayang Elena di setiap sudut rumah, di antara semua barang-barang yang takkan pernah disentuhnya lagi hanya membuat segalanya makin tak tertahankan.
Mulanya kedua orangtuaku sudah siap andai aku tak melanjutkan kuliah. Mungkin mereka berpikir lebih baik aku tetap berada di dekat mereka untuk sementara waktu. Ayahku bahkan sudah mengatur jadwal konseling untuk kami bertiga bersama seorang psikolog kenalannya, tapi usaha Shaka dan Hazel untuk meyakinkanku mengubah rencana yang sudah mereka buat—dan aku akhirnya pindah ke luar kota dengan membawa duka di pangkuanku.
“Cuma sedikit mual,” kataku.
“Mau pergi ke dokter?” tanya Ibu. “Atau mau Ibu buatkan makanan yang lain? Sup telur seperti tadi pagi?”
Aku menggeleng. “Aku boleh ke atas saja?”