AKU tak bisa mengalihkan pandangan dari Kenzo. Itu memang dia. Kurasa rambutnya baru saja dipangkas lebih pendek. Dia mengenakan kaus putih dibalik kemeja lengan panjang berwarna biru muda—yang terlihat kontras dengan warna mawar dari buket di lengannya. Aku tak bisa menjelaskan perasaan apa yang saat itu memenuhi dadaku, tapi jelas bukan sesuatu yang positif.
Tak lama kemudian, pintu itu terbuka.
Clara, yang masih mengenakan semacam pakaian yoga—atasan crop berwarna hitam dan celana ketat abu-abu tampak terkejut melihat buket yang disodorkan oleh Kenzo di depan wajahnya, tapi kedua tangannya tetap menerimanya dengan senyum cerah.
Aku memalingkan pandanganku dari mereka berdua dan menarik diri ke balik gerbang. Jantungku berdebar kencang. Apa itu barusan?
Kenzo dan… Clara?
Oke.
Itu adalah kombinasi yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Sistem pikiranku bekerja dengan cepat menciptakan berbagai spekulasi: dia dan Clara bertemu di pesta ulang tahun Hazel beberapa hari yang lalu, kan? Apakah segalanya dimulai dari sana? Tidak. Itu terlalu cepat. Kenzo pasti kembali beberapa minggu lebih awal untuk mengikuti ujian UTBK dan sibuk mengurus berbagai hal setelah kepindahannya ke Jakarta—bukankah itu yang dikatakan oleh Hazel waktu itu? Kalau begitu, mungkinkah mereka berdua bertemu sebelum ujian berlangsung dan mulai berhubungan diam-diam? Atau mungkinkah mereka sudah saling berkontak sejak Kenzo di Jepang? Bisa jadi.
Aku mengatupkan bibir sebelum kesadaran menghantamku dengan cepat, seolah seseorang baru saja menyiram seember air dingin di atas kepalaku.
Kenapa juga aku harus peduli?
Aku memejamkan mata dan menghela napas dalam-dalam, berusaha mengingatkan diriku kalau itu sama sekali tak ada hubungannya denganku, bahwa perasaanku padanya sudah berakhir sejak lama, dan mereka berdua bebas untuk berkencan dengan satu sama lain jika saling menyukai, jadi tak ada alasan bagiku untuk mencari tahu lebih jauh, apalagi sampai bersembunyi di balik gerbang seperti orang bodoh.
Ayolah, Ela.
Aku kembali membuka mata, dan dengan tekad baru yang berusaha kutanamkan paksa dalam hati, aku menghampiri kotak yang kuletakkan di atas trotoar dan mengangkatnya. Butuh beberapa kali percobaan sampai aku berhasil—bagian bawahnya harus kutahan dengan lutut agar kotak itu tak terjatuh, dan ketika aku berhasil mengangkatnya sambil berdiri tegak, kulihat Kenzo baru saja melangkah melewati gerbang dan tatapan kami bertemu.
Sesaat, kami sama-sama terdiam, mengawasi satu sama lain. Lalu, Kenzo bertanya, “Perlu bantuan?”
Aku menggeleng. “Nggak, aku baik-baik saja,” tolakku.
Tetapi tampaknya dia tidak mendengar kata-kataku barusan—atau sengaja berpura-pura tidak mendengarnya karena dia tetap berjalan menghampiriku dengan langkah-langkah lebar dan sebelum aku sempat bereaksi, dia sudah mengambil alih kotak yang kubawa ke dalam pelukannya.
“Hei!”
Tanpa berkata apa-apa lagi, Kenzo berbalik memunggungiku dan mendahuluiku berjalan melewati gerbang. Tentu saja dia tahu kemana tujuan akhirku. Barangkali ‘pacar’ barunya sudah membagikan soal rencana kami hari ini, dan itulah sebabnya dia tidak bisa tinggal lebih lama setelah memberikan buket bunga padanya.
“Kenzo,” panggilku, sambil membuntutinya dari belakang.
Dia tidak menyahut.
“Kenzo!”
Kami sudah tiba di depan pintu ganda yang tertutup rapat ketika dia akhirnya meletakkan kotak itu di lantai dan berbalik menghadapiku. “Kamu segitunya nggak mau dibantu?” tanyanya. Tatapannya terlihat gusar. “Atau karena aku-lah yang menawarkan bantuan?”
Kutelan kembali kata-kata yang hampir saja keluar dari mulutku: Memangnya siapa yang memintamu untuk peduli?
Bahkan setelah sekian tahun tidak bertemu, dia masih tak berubah sedikit pun. Kenapa dia selalu saja melakukan sesuatu yang membuatku salah paham dan berharap lebih?
“Karena aku bisa membawanya sendiri,” kataku getir.
Dia menghela napas, lagi-lagi memperlihatkan ekspresi wajah yang sama seperti yang kulihat saat pertemuan terakhir kami.
“Aku benar-benar nggak ngerti,” gumamnya.
Kata-kata yang diucapkan oleh Shaka waktu itu jelas salah besar. Bukannya bisa memahamiku, kurasa Kenzo adalah yang terburuk dari semua orang. Mungkin selama ini kami tidak pernah memandang dunia dengan cara yang sama, dan itulah sebabnya aku berakhir jadi pihak yang dikecewakan.