What's Left After Goodbye

Bells
Chapter #7

Bab 7

KALI pertama aku menyadari perasaanku pada Kenzo adalah saat kami berlima pergi mengunjungi taman hiburan pada libur kenaikan kelas sembilan. 

Detailnya jelas sudah mengabur karena momen itu terjadi kira-kira lima tahun yang lalu saat kami jauh lebih muda, dan mustahil aku bisa memutarnya kembali seperti semacam cuplikan film, tapi aku ingat aku mulai melihatnya dengan cara berbeda setelah kami kembali dari trip singkat itu. 

Sungguh—apa yang berubah? Kami sudah mengunjungi tempat itu sejak kecil. Shaka, Hazel, dan Elena selalu mengantre untuk menaiki semua wahana permainan paling menantang yang bisa mereka temukan, menyisakan aku dan Kenzo untuk menikmati waktu santai kami. 

Aku bukannya takut dengan wahana-wahana ekstrem, karena aku sudah mencobanya berulang kali sebelum memutuskan kalau mereka tak cocok untukku—setelah dua kali muntah dan merasakan pening yang tak mau hilang sampai berjam-jam pada kunjungan-kunjungan kami sebelumnya, aku memilih menyerah. Tubuhku rupanya tak bisa mengatasinya. Tapi Kenzo berbeda. Satu-satunya alasan kenapa dia tidak bergabung bersama yang lain adalah karena dia tak mau meninggalkanku sendirian, tidak peduli seberapa keras aku berusaha mendorongnya.

“Berhenti mendorongku,” katanya. 

“Pergilah, aku akan menunggu kalian sambil makan es krim.”

Dia mengedikkan bahu. “Aku juga mau es krim,” sahutnya, dan kami melambai pada ketiga Itik Kecil yang bergabung dalam antrian panjang menuju wahana roller coaster

Kami sedang duduk di kursi kosong yang tersedia di samping kios penjual es krim ketika dia mulai menjelaskan teorinya tentang energi potensial yang tersimpan ketika roller coaster naik ke puncak lintasan, dan bagaimana energi itu akan berubah menjadi energi kinetik ketika roller coaster meluncur turun. 

Sebetulnya aku tak menangkap apa yang sedang dia katakan, tapi aku menganggukkan kepalaku, berpura-pura memahaminya, karena itulah yang biasanya kulakukan. 

Kedua matanya selalu tampak berbinar setiap kali dia membicarakan trivia-trivia semacam itu, dan aku senang mendengarnya bicara. Selain memiliki kemiripan yang tak biasa dengan aktor Koshi Mizukami, Kenzo juga sebetulnya memiliki suara yang merdu—bahkan Shaka pernah mencoba membujuknya bergabung menjadi vokalis dalam band yang hendak dibentuknya bersama teman-temannya, tapi Kenzo bilang dia tak bisa mengutamakan latihan band di atas sesi bimbingan pelajaran yang didapatnya setiap pulang sekolah, jadi Shaka pun menyerah. 

“Um, Ela? Kenapa menatapku begitu?” tanya Kenzo, yang membuat wajahku memanas. Es krim coklatku sudah meleleh ke dasar mangkuk kertasnya, dan karena aku tak berminat untuk menghabiskan sisa cairan lengket itu, aku berdiri dan membuangnya ke tempat sampah tak jauh dari kursi kami.

“Gimana kalau kita lihat-lihat dulu?” tanya Kenzo, yang sudah menyusul di belakangku. 

Kami menghabiskan waktu untuk berkeliling taman hiburan. Aku membeli lima gantungan kunci enamel berbentuk bianglala dengan harga paling murah di toko oleh-oleh dan mengulurkan satu padanya. Dia mengajakku berfoto di mesin photobooth tak jauh dari toko, lalu kami berhenti sejenak di stan permainan karnaval yang cukup ramai didatangi pengunjung.  

Setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk melempar tiga bola warna-warni ke arah menara kaleng berjarak kira-kira tiga setengah meter. Tapi, rupanya kami berdua (terutama aku) sangat payah dalam melempar. Tak satu pun bola milik kami berhasil menjatuhkan kaleng terakhir yang diperlukan untuk mendapat hadiah utama—boneka bebek raksasa, tapi Kenzo memenangkan boneka koala dengan pita biru di leher yang berukuran jauh lebih kecil, dan aku mendapat gantungan kunci bianglala yang persis sama dengan yang kubeli di toko oleh-oleh. 

“Ayo tukar hadiahnya.” Dia mengulurkan boneka itu padaku tanpa ragu. 

Aku mendongak menatapnya, tanganku menggenggam erat hadiah yang kudapat barusan sampai menciptakan pola lingkaran di telapak tanganku. “Tapi, aku sudah memberimu gantungan kunci yang sama tadi.”

Kenzo menggeleng. “Aku bisa berikan yang satunya untuk ibuku. Dia akan menyukainya.” 

“Kalau begitu, berikan saja koala itu untuk adikmu,” aku bersikeras. 

“Mika sudah punya banyak boneka di rumah,” kata Kenzo, dan aku hampir membalas kalau aku juga sudah punya banyak koleksi bonekaku sendiri, tapi ketika dia mendorong si koala ke dalam pelukanku, aku sama sekali tak punya keinginan untuk melepasnya, jadi aku diam saja. Kuserahkan gantungan kedua yang kudapatkan padanya dan dia memasukkannya ke saku celana dengan senyum puas.

Malam itu, aku memutuskan untuk tidur di kamar Elena. Kami biasa melakukannya—yang saking seringnya membuat Ibu mengusulkan agar salah satu dari kami mengepak barang-barang dan pindah ke kamar yang lain, tapi kami lebih suka begini. Saat aku sudah hampir tertidur di sampingnya, dia bertanya, “Apa kencannya menyenangkan?”

Aku menarik selimutku hingga menutupi dagu sebelum menjawab dalam bisikan malu-malu, “Iya, sangat menyenangkan.”


***


Kaki kiriku berpijak pada paving yang salah dan membuatku hampir kehilangan keseimbangan, tapi aku berhasil mengatasinya pada saat-saat terakhir dengan berpegangan pada rak bunga alih-alih terjungkal.   

Belakangan ini, rasanya aku terlalu sering melamun. Terlalu banyak hal membuatku melarikan diri ke dalam gelembung abstrak pikiranku, dan itu sama sekali tidak bagus. 

Lihat selengkapnya