What's Left After Goodbye

Bells
Chapter #8

Bab 8

SELAMA dua hari berikutnya, mendadak aku jadi punya kesibukan baru yang menyita waktuku. 

Sesungguhnya, aku pasti sudah gila karena menganggap serius kata-kata Kenzo. Tapi tetap saja aku merasa penasaran. Maksudku, dalam semua bayanganku soal masa lalu, tak pernah kubayangkan kalau aku-lah yang melewatkan suratnya dan bukan sebaliknya. Itu sebabnya dia terlihat amat bingung setiap kali kami bertemu. Ada kepingan puzzle yang selama ini kulewatkan.

Tapi, bagaimana itu bisa terjadi?

Aku yakin sudah membongkar semuanya: meja belajar, rak buku, laci lemari, sampai kotak-kotak kontainer berisi barang-barang lamaku. Tapi, selain penemuan si koala berpita biru yang tampak menyedihkan dalam lapisan debu di bawah ranjang (yang saat itu juga langsung kulempar ke dalam mesin cuci), aku tak berhasil menemukan apa yang kucari. 

Ibuku mengira aku sedang dalam mode declutter ekstrim, yang tidak sepenuhnya salah, tapi juga tidak cukup untuk dibilang benar. Pada hari ketiga, aku terpaksa mengakui kalau surat itu memang tak pernah sampai ke tanganku. Tidak terselip di buku mana pun, di saku mana pun, atau di laci mana pun. Pasti hilang di suatu tempat. Dan aku tak bisa bertanya pada Kenzo setelah menyuruhnya melupakan semuanya. Paling tidak, aku takkan bisa melakukannya tanpa mengorbankan harga diriku. 

Bagus.

Sekarang aku-lah yang jadi kelewat gelisah karena tak bisa berhenti memikirkannya. Isi surat itu. Aku penasaran setengah mati dengan pesan yang ditulis oleh Kenzo. Maksudku, sudah berulang kali aku menciptakan skenario dalam pikiranku. Versi yang paling kuharapkan tentu adalah dia membalas perasaanku (catat saja, usiaku waktu itu baru empat belas tahun.) Kami akan berkencan secara resmi dan menjalani kehidupan SMA terbaik, pergi ke universitas bersama, tetapi bayangan yang kubuat setelahnya terlalu memalukan untuk diingat. 

Versi lainnya memuat hal yang berbanding terbalik: pengandaian jika dia menolakku. Mungkin kami akan bersikap canggung selama beberapa waktu, tapi aku sudah bertekad penolakan itu tak akan merusak persahabatan kami berlima. Dia terlalu berharga bagiku. Tak pernah terpikirkan olehku bahwa dia akan pergi tanpa meresponnya—atau setidaknya itulah yang kupikirkan selama empat tahun terakhir sebelum dia tiba-tiba bicara soal surat balasan yang tak pernah kuterima. 

Aku melempar tubuhku ke atas ranjang, dan membenamkan wajah ke dalam bantal. Belakangan setiap kali aku mencoba memikirkan soal Kenzo, rasanya pertanyaanku selalu bertambah tapi tak ada satu pun yang terjawab—membuatku makin frustasi saja. 

“Bisa gila aku.”

“Jelas kamu bisa gila kalau terus menerus mendekam di kamar.” 

Kuangkat tubuhku dengan bertumpu pada kedua siku. Hazel, yang punya akses bebas-masuk ke rumah kami (terutama kamarku), berdiri di ambang pintu yang setengah terbuka. 

“Kapan kamu datang?” 

“Sekitar dua menit yang lalu,” katanya. Dia mengangkat bungkusan di tangannya dan aroma khas bakmi ayam langsung menyebar ke seluruh ruangan. “Belum makan siang, kan?”


***


“Jadi, kudengar kamu sudah baikan dengan Kenzo,” Hazel nyengir lebar saat dia sedang menata mangkuk-mangkuk bersih ke dalam lemari dapur. Sesungguhnya aku penasaran bagaimana dia bisa tahu segalanya. 

“Kenzo bilang begitu?”

“Nggak tepat begitu, sih,” katanya. “Aku nggak sengaja bertemu dengannya di minimarket pagi ini dan dia bilang dia sudah mencoba bicara denganmu.”

“Oh, yah… begitulah.”

“Apa maksudmu ‘begitulah’?”

Aku mengedikkan bahuku. “Dia memang sudah meminta maaf.”

“Oke, itu sudah cukup bagus untuk permulaan.”

Kami menghabiskan dua setengah jam berikutnya untuk menonton ulang Harry Potter seri pertama di televisi ruang keluarga. Rasanya seperti memutar mesin waktu ke masa lalu—seolah kami kembali menjadi sepasang bocah sebelas tahun yang sedang menunggu-nunggu surat Hogwarts kami sambil berbaring di sofa. Kami bahkan sengaja membiarkan jendela terbuka agar burung hantu bisa langsung masuk ke dalam. 

“Ingat waktu kamu terobsesi dengan Draco Malfoy dulu?” celetuk Hazel. 

“Siapa yang nggak terobsesi dengan Draco Malfoy dulu?” kataku. 

Hazel mengedikkan bahu. “Voldemort jauh lebih cakep.”

Aku memutar bola mata. “Saat masih punya hidung, ya.”

Dia tertawa. 

Momen-momen seperti inilah yang paling kurindukan saat bersama Hazel. Dulu, kami bertiga—termasuk Elena, biasa memiliki waktu terpisah untuk melakukan aktivitas khusus tanpa para cowok. Mulanya Shaka selalu memprotes, terutama setelah Kenzo pergi ke Jepang, karena itu berarti hanya dia saja yang dikecualikan. Pernah suatu ketika kami mengizinkannya bergabung dan mengerjainya habis-habisan. 

“Apa kalian benar-benar menikmati semua ini?” tanyanya. 

Lihat selengkapnya