AKU baru punya kesempatan untuk bertemu Kenzo lagi pada Sabtu malam.
Ini adalah kali kedua kami berempat berkumpul di tempat yang sama setelah pesta Hazel. Shaka bersikeras agar kami pergi menonton band-nya yang diundang untuk tampil dalam acara pembukaan kafe di dekat kampusnya, dan kami setuju untuk datang.
Bagus, karena Etheria punya lagu baru.
Itu bunyi pesan terakhir yang dikirimkannya di ruang obrolan. Hazel menjadi yang terakhir mengirimkan ‘Oke’-nya dan mobilnya muncul di depan rumahku pada pukul setengah tujuh untuk menjemputku.
Aku tahu Hazel sedang dalam suasana hati yang buruk karena dia tampak tak bisa berkonsentrasi menyetir, jadi aku membujuknya untuk bertukar tempat sebelum kami keluar dari area perumahan menuju jalan raya yang lebih ramai demi keamanan. Aku menyempatkan diri untuk bertanya, “Ada apa?” tapi dia cuma menggeleng.
“Bertengkar dengan pacarmu?”
“Dengan kakakku, lebih tepatnya.”
Usia Hazel dan kakak laki-lakinya hanya terpaut dua tahun, tapi mereka lebih mirip Tom & Jerry yang bertengkar sepanjang waktu. “Apa masalahnya kali ini?” tanyaku.
“Dia nggak tahu kapan harus berhenti bicara omong kosong.”
“Ah.”
Cara mereka berkelahi benar-benar berisik. Aku tak pernah melihat yang seperti itu sebelumnya. Dengan Elena sebagai satu-satunya sosok ekstrover di rumah, ketika kami berdua bertengkar, aku lebih memilih mendiamkannya dan dia akan pergi entah ke mana untuk menenangkan diri sampai kami siap bicara. Tapi Hazel dan kakaknya saling berteriak satu sama lain, tak ada yang mau mengalah sampai tenggorokan mereka sakit dan pintu-pintu dibanting keras.
“Aku benci dia. Jauh lebih baik kalau aku adalah anak tunggal. Dia membuatku sinting setengah mati,” keluh Hazel.
Tapi dia takkan menginginkannya saat itu benar-benar terjadi. Sama halnya aku tak pernah ingin jadi anak tunggal, dan diamku membuatnya menyadari betapa salahnya kata-katanya barusan. “Sori—aku pasti sudah gila. Itu bukan sesuatu yang harusnya kuucapkan cuma gara-gara merasa kesal.”
Ketika kami tiba di Kala Kopi, yang ternyata adalah kafe dua lantai dengan konsep industrial modern, kulihat tempat itu sudah dipenuhi oleh pengunjung yang antusias. Barisan papan bunga berisi ucapan selamat dipasang di area pintu masuk bersama dengan poster promosi diskon pembukaan yang berlaku sampai tiga hari ke depan. Kami bertemu beberapa orang yang mengenali Hazel dan berhenti sejenak untuk menyapa. Dia memperkenalkanku pada teman-teman kuliahnya yang agak nyentrik namun menyenangkan, sebelum kami bergabung dengan Kenzo di meja dekat jendela besar.
Sudah ada empat minuman yang masing-masing diletakkan di atas coaster kayu agar tak meninggalkan jejak cairan kondensasi di atas meja bersama piring-piring kecil berisi aneka kue yang dipesan lebih awal dan kami bertukar sapa dengan agak canggung. Aku tak bisa menatap mata Kenzo lebih dari tiga detik dan berpaling ke arah lain. Shaka ada di atas panggung, belum menyadari kehadiran kami karena fokusnya tertuju pada permainan gitarnya.
Tanganku baru saja menarik gelas kaca berisi minumanku—Salted Caramel Latte ketika Hazel menggumamkan, “Wah, bajingan itu juga ada di sini.”
Baik aku maupun Kenzo menoleh secara bersamaan, mengikuti arah pandangnya. Aku langsung menangkap subjek yang dia maksud. Hanya berjarak tiga meja di sisi kanan kami, kulihat Hansel Pradipta sedang asik berbincang dengan teman-temannya, dan aku merasakan napasku tertahan saat teringat kata-kata terakhirnya. Sampai ketemu lagi, Ela.
“Kudengar kamu hampir memukulnya lagi?” celetuk Hazel.
Aku mendesah. “Shaka memberitahumu?”
“Clara memberitahuku.”
Oh, ya, aku lupa kalau Clara Florencia (dalam kebetulan yang tak disangka-sangka) menyaksikan dua kejadian itu secara langsung—baik yang terjadi di halaman belakang rumahku tahun lalu, maupun yang hampir terjadi pada pertemuan kami di bioskop. “Aku menahan diri dengan baik, kok,” kataku.
Hazel tergelak, tapi Kenzo yang malang, yang jelas tak tahu apa-apa berkat tahun-tahun yang hilang tampak seperti rusa masuk kampung. “Apa yang sedang kalian bicarakan?”
Kubiarkan Hazel mengambil alih tugas menjadi narator cerita. Tentu saja dia melakukannya dengan berlebihan. Dia menyelesaikan ceritanya tepat ketika Shaka berjalan menuju meja kami—beberapa murid SMA tampaknya mengambil alih panggung, memberi anggota Etheria waktu untuk beristirahat. Dia menjatuhkan tubuhnya di kursi di samping Kenzo dengan wajah cerah.
“Ini pertama kalinya kita berkumpul lagi di meja yang sama, kan?” katanya, yang membuatku teringat dengan foto dalam pigura di atas nakasku. Kepada Kenzo, dia berkata, “Mau menyumbang satu atau dua lagu?”
Cowok itu buru-buru menggeleng. “Kurasa itu bukan ide yang bagus.”
“Kenapa?” tanyaku.
“Pasti karena dia cuma ingat lirik lagu imut dalam bahasa Jepang,” celetuk Hazel, yang membuat kami tertawa.
“Adikku sangat menyukainya, sih,” kata Kenzo.
Seolah baru teringat sesuatu, Shaka merogoh ke dalam sakunya dan mengeluarkan ponsel. “Ayo kita berfoto sebelum bocah-bocah itu selesai.”
Tepat saat itu terdengar lengkingan nada fals dari arah panggung, tapi mereka tampaknya tak peduli dan tetap bernyanyi dengan antusias. Kami sudah mengambil paling tidak lima puluh foto dalam sudut yang mirip sebelum Shaka mulai membahas soal proses pembuatan lagu. Ketika ponselku bergetar, aku tak terlalu mengikuti sisa percakapan.
“… Gio ingin kami punya musik video yang layak, tapi sulit untuk menemukan tempat yang tepat dan sesuai dengan konsep yang kami inginkan.”
“Mungkin kamu harus minta bantuan Clara,” kata Kenzo. Aku mendongak dari layar ponselku saat mendengar nama Clara disebut, karena dia-lah yang barusan mengirimiku pesan.
“Ngomong-ngomong, apa kalian punya acara besok?” tanyaku. Tiga pasang mata menoleh padaku di waktu bersamaan. “Mau menonton pertunjukan musikal?”
“Musikal?” ulang Shaka.
Aku membalik layar ponselku untuk menunjukkan tiket elektronik yang kudapat secara cuma-cuma pada mereka. “Clara memberikannya sebagai ucapan terima kasih.”
Rupanya dia diterima sebagai salah satu staf kreatif untuk pertunjukan adaptasi teater musikal terbaru, Peter Pan: Second Star to the Right. Tidak tanggung-tanggung, dia bahkan mengirimkan empat tiket sekaligus supaya aku bisa menontonnya dengan sahabat-sahabatku.
“Oh, tapi aku sudah mendapatkan tiket untuk pertunjukan itu,” kata Hazel, segera setelah dia memastikan tanggal dan waktu yang tertera dalam ponselku.
“Kamu membeli tiketnya sendiri?” tanya Shaka.
“Pacarku membelinya,” Hazel mengoreksi. “Dia penasaran setelah tahu aku suka menonton pertunjukan teater dan musikal, jadi, yah… begitulah.”
“Begitu,” sahut Shaka.
Bukan aku saja yang tampaknya menyadari perubahan raut wajah Shaka. Aku bertukar pandang dengan Kenzo selama sedetik sebelum berpaling.
“O…ke. Kalau begitu, aku akan mengembalikan tiketmu,” kataku, yang disetujui Hazel dengan anggukan samar.
Kesan canggung itu tak mau hilang meski kami sudah mengalihkan pembicaraan, dan sekali pun setuju untuk datang besok, Shaka tetap terlihat dalam suasana hati yang buruk. Hazel mengabaikan semua itu dan mengalihkan fokus pada ponselnya. Barulah ketika Gio—vokalis Etheria memanggil Shaka kembali ke panggung, dia kembali terlihat bersemangat.
“Kalian harus dengarkan yang satu ini,” kata Shaka. Dia melirik ke arah Hazel selama sedetik sebelum beranjak mengikuti Gio.
Aku bisa mengerti kenapa dia bilang begitu setelah mendengar bait pertama liriknya.
Saat aku melihat bintang-bintang
Tak ada hal lain yang kupikirkan
Selain wajahmu di masa lampau
Hatiku membisikkan tanya
Apakah kau ada di sana?
Dalam langit gelap gulita
Memberi sinar sebagai pertanda