What's Left After Goodbye

Bells
Chapter #10

Bab 10

BESOK paginya, aku membuka mata gara-gara suara berisik dari lantai bawah. Kupikir aku hanya membayangkannya saja, mengira kalau aku masih bermimpi, tapi setelah bunyi KLANG! yang sama kembali terdengar, aku menganggapnya sebagai isyarat untuk bangun.

Aku mengucek mata, dan saat membukanya, pandangan pertamaku jatuh pada selusin lili yang kini berada dalam vas keramik yang kuisi dengan campuran air, gula, dan cuka putih (resepnya kucari di internet semalam) di atas meja belajar. Aromanya benar-benar fantastis. 

Ketika aku turun ke bawah, sebuah kejutan sudah menantiku: Hazel berada di dapur bersama ibuku, mengenakan salah satu koleksi celemek motif bunga-bunga merah.

“Heba?” sapaku. “Aku nggak mengira kamu akan datang sepagi ini.”

“Oh, hei, El. Aku baru saja menawarkan diri untuk, er, membantu ibumu.” Dia meringis saat aku menghampirinya. Di telingaku, dia berbisik, “Trims untuk bantuannya semalam.”

“Apa yang terjadi?”

“Bukan apa-apa, kamu nggak perlu memikirkannya.”

“Kamu nggak terlibat masalah, kan?”

“Mana mungkin,” dia tersenyum. “Satu-satunya masalah adalah ternyata aku nggak seberbakat yang kukira saat di dapur.”

Ibuku tertawa mendengarnya. “Namanya juga latihan,” katanya. Kepadaku, dia berkata, “Masih ada celemek lain di lemari kalau kamu mau bergabung.”

“Bergabung?” ulangku. 

“Ibu baru dapat resep Soto Mie Bogor dari Tante Jinny,” jelasnya. 

Tante Jinny adalah saudara kandung ibuku yang menetap di Bogor. Mereka juga kembar identik. Dia punya seorang anak perempuan seusia Mika, adik Kenzo, yang bisa saja menjadi adikku karena kemiripan visual di antara kami. 

“Akhir-akhir ini, Ibu jadi sering memasak,” kataku. 

Sejak dulu, ibuku selalu memulai hari dengan berolahraga, sekedar jogging di atas treadmill atau menggelar matras yoga di ruang keluarga, tapi belakangan aku bahkan jarang melihatnya memakai pakaian olahraganya yang biasa. Dia pergi pagi-pagi sekali sebelum bersiap ke kantor untuk membeli bahan makanan segar, dan meski kemampuan memasaknya tidak sebaik itu, dia tetap mencoba berkutat di dapur sampai nyaris terlambat. 

Ibuku tampak agak salah tingkah. “Ibu pikir kamu juga ingin makan masakan rumahan,” gumamnya, dan sebuah ingatan muncul di benakku tanpa bisa kucegah. 

Tahun lalu, kami berempat—aku, Elena, dan kedua orangtua kami sedang makan malam di restoran Jepang yang biasa kami datangi saat akhir pekan. Ayah dan Ibu banyak membicarakan soal pengalaman merantau mereka setelah lulus SMA dan bagaimana kehidupan kami akan berubah secara total nantinya. Aku masih sibuk menikmati hidangan penutup; sejenis es serut yang disiram oleh sirup, susu kental manis dan selai kacang merah ketika Elena tiba-tiba berkata, “Semua teman-temanku bilang, saat mereka jauh dari rumah, yang mereka rindukan pertama kali adalah masakan rumahan. Tapi Ibu kan nggak suka memasak. Apa aku harus merindukan omelan Ibu?”

Kubayangkan kalimat itu menghantui ibuku setiap harinya sejak Elena meninggal, memaksakan sesal yang tak kunjung pergi. Aku tahu dia akan membawa rasa bersalah itu sampai kapan pun. 

“Um, oke, aku nggak sabar mencicipinya.” Aku memutar tumitku dan berjalan menuju lemari. Aku mendongak menatap langit-langit ruangan dan mengerjapkan mataku yang mulai berair. Masih terlalu pagi untuk menangis.

“Mau kubantu memakainya?” tanya Hazel. 

Aku mengibaskan tangan sambil lalu.  


***


Hazel baru mengemudi pulang setelah sarapan. Soto Mie buatan kami ternyata lumayan juga, meskipun sambal buatan ibuku terlalu pedas. Karena Hazel akan berangkat ke gedung pertunjukan nanti bersama pacarnya, kami berjanji akan bertemu sebelum acara dimulai. 

Aku hampir mengira Shaka dan Kenzo membatalkan janji karena mereka tak kunjung membalas pesanku di ruang obrolan sejak pagi. Aku baru hendak mengeluarkan mobil ibuku dari garasi saat kulihat sebuah mobil Audi putih berhenti di depan gerbang. Shaka, yang rupanya sudah menjemput Kenzo, menyambutku dengan gembira saat aku masuk ke kursi belakang. 

“Siap berangkat, Princess?” Aku menabok lengan Shaka. 

Cowok itu memiliki tiga orang kakak laki-laki di rumah. Mobil itu pastilah milik salah satu kakaknya—tebakanku pasti milik kakak pertamanya yang berprofesi sebagai koki selebriti populer. Lagipula, Shaka jauh lebih suka bepergian menggunakan motor.

“Apa? Kenapa tiba-tiba memukulku?” protesnya. 

Aku ingin memberinya pukulan lain, tapi menahannya. 

“Astaga, suasana hatimu sedang buruk, ya?” Dia mengusap bagian lengannya yang terkena pukulanku dengan dramatis. 

“Kalian berdua manusia-manusia primitif, ya? Nggak punya inisiatif untuk membuka grup?” omelku. “Buat apa kalian punya ponsel?”

“Nggak ada yang mengundangku dalam grup,” kata Kenzo, bingung. “Aku mengganti nomorku, ingat?”

“Ini salahmu,” kataku, menuding Shaka. 

“Tenang, aku akan menambahkanmu setelah ini, Babe,” kata Shaka. Dia menepuk-nepuk bahu Kenzo dengan satu tangan. “Ada hal lain lagi yang kulewatkan?”

“Sudahlah.” Aku mengerling ke arah arloji di tangan kiriku dan mendesah pelan. Pertunjukan akan dimulai pukul dua siang. Itu kurang dari dua jam lagi. “Kita bakal terlambat.”

“Oke, oke. Tenang. Kita nggak akan terlambat.”

Tapi bahkan dengan pengetahuannya soal jalan pintas yang tak kuketahui, kami baru tiba di basement gedung Teater Budaya sekitar satu jam kemudian, dan tempat itu sudah ramai oleh pengunjung yang datang. 

“Sudah lama aku nggak pergi ke sini,” kata Kenzo. 

“Aku juga,” kataku. 

“Gedung ini terlalu mengingatkanku pada Lena,” kata Shaka ketika kami tiba di pintu masuk, dan aku setuju dengan ucapannya. 

Meski aku tahu itu sama sekali tidak mungkin, rasanya seolah aku bisa melihatnya: rambut ikal panjangnya berkibar terbawa angin ketika dia berlari ke luar gedung, wajahnya berseri-seri menyambut kedatangan kami. Kedua tangannya melambai dengan antusias. Untuk sesaat, aku bisa mendengar gelak tawanya memenuhi telingaku.

Kupejamkan mataku sejenak dan kuhela napas dalam-dalam. 

Saat aku membuka mata lagi, bayangannya sudah menghilang. 

“Ayo tukar tiketnya dulu,” kata Shaka, dan kami bergabung dalam antrian penukaran tiket yang lumayan panjang, tapi tetap teratur. Kami mendapatkan masing-masing tiket fisik berupa gelang kertas, brosur pertunjukan, dan kupon potongan harga untuk produk kacamata yang diberikan oleh sponsor. Mereka juga membagikan goodie bag berisi snack dan air mineral. 

Kami sudah menunggu di depan pintu masuk ruang pertunjukan ketika Hazel akhirnya muncul, bergandengan tangan dengan cowok asing yang belakangan ini membuatku penasaran setengah mati.  

“Hai!” dia melambaikan tangannya dan menghampiri kami. 

Cowok itu super jangkung. Tinggiku bahkan tak mencapai bahunya. Dia sedikit lebih tinggi dari Shaka, sedikit lebih atletis, tapi kurasa tak lebih tampan dari kedua sahabatku—meski itu adalah pendapat yang kelewat subjektif. Mungkin karena dia memancarkan kesan yang… entahlah, tak terlalu ramah? 

“Kamu ingat Shaka dan Kenzo dari pertemuan sebelumnya, kan?” kata Hazel. “Nah. Ini Elara.” Cowok itu mengulurkan tangan ke arahku, dan wajahnya mendadak berubah ramah. 

“Ela, ini Kelvin.” 

Senyumnya manis. Kuakui itu.

“Halo,” sapaku.

Lihat selengkapnya