MEMASUKI bulan Agustus, aku hanya punya kira-kira dua puluh hari tersisa sebelum kembali ke perantauan. Dan jujur saja, aku tak terlalu menantikannya. Membayangkan segunung tugas dan kegiatan perkuliahan yang amat melelahkan membuatku tidak berselera melakukan apa-apa, jadi aku berusaha untuk tidak memikirkannya sama sekali.
Hazel, yang semula paling antusias mengumpulkan kami berempat, justru menjadi yang jarang kutemui belakangan ini. Dia sering sekali membatalkan janji bertemu, yang membuatku kesal. Aku hanya bertemu dengannya kalau dia tidak sedang terlibat dengan kegiatan organisasinya atau bertemu pacarnya, dan karena Shaka juga sering memiliki jadwal manggung di kafe-kafe bersama band-nya, aku jadi punya lebih banyak waktu luang dengan diriku sendiri.
Tapi, hari ini berbeda. Kenzo memberitahuku kalau dia dibebaskan dari pekerjaannya di toko bunga—mereka sudah mendapatkan pegawai pengganti baru-baru ini, dan dia mengundangku untuk datang. Bukan untuk nongkrong diam-diam di toko bunga seperti waktu itu, tapi ke lantai dua. Ke tempat tinggalnya.
Dan aku gugup setengah mati.
Aku melempar pandang ke arah koala berpita biru yang setelah dicuci bersih duduk di tengah-tengah bantal tidurku. Hubungan ambigu yang saat ini berada di antara kami membuatku agak bingung. Aku tak yakin apakah kami masih teman biasa—kadang-kadang, rasanya seperti dia berusaha melakukan pendekatan dengan mengirimkan pesan-pesan penuh perhatian… ah, tidak. Ucapan selamat malam atau apa pun sejenis itu tak bisa masuk hitungan, kan?
Aku tak boleh memberikan makna pada setiap hal-hal kecil yang dia lakukan atau aku akan mengulang sejarah yang sama seperti dulu.
Sudah cukup, putusku, lalu aku bangkit dari tempat tidur untuk bersiap-siap. Aku menggunakan blouse putih dengan motif floral, celana high waist dan mengepang rambutku agar jatuh ke sisi kanan bahuku. Ujungnya kuikat dengan kuncir rambut.
Saat aku tiba di toko bunga pukul satu siang, Sophia, sepupu Kenzo, sedang memangkas daun dan duri dari setumpuk mawar segar di atas meja konter bersama dua orang pegawai baru yang masih terlihat agak canggung. Tangan mereka tak sepiawai Sophia saat memegang alat khusus yang bentuknya mirip stapler bergerigi itu.
“Oh, hai, Ela.”
“Halo,” balasku. Sejujurnya ini bukan pertemuan pertama kami. Aku pernah berkunjung beberapa hari yang lalu untuk membeli buket mawar pesanan ibuku. Sophia mengira aku adalah pacar Kenzo, dan meski aku sudah bilang bukan, dia justru berkata dengan jenaka, “Toh, itu bakal terjadi,” katanya. Dia memberiku tiga batang lili sebagai bonus.
“Dia sudah menunggumu dari tadi.” Sophia mengedipkan sebelah matanya. “Naik saja ke atas. Tangganya ada di samping kamar mandi.”
“Um, oke.”
“Dan, Ela.”
“Ya?”
Dia tersenyum lebar, memamerkan barisan giginya yang super rapi dan super putih. “Santai saja. Dari sini, aku nggak bisa dengar apa-apa. Berkencanlah dengan nyaman”
Kurasakan wajahku memanas. Sebelum dia sempat melontarkan kalimat lainnya, aku buru-buru menyelinap menuju tangga yang sempit dan melangkahkan kakiku dengan hati-hati.
Begitu tiba di anak tangga teratas, aku melihat pintu bercat putih itu mengayun terbuka dan Kenzo berdiri dalam balutan pakaian rumahan yang santai—celana training dan hoodie berwarna hijau gelap. Tersenyum lebar.
“Kupikir aku mendengar suaramu,” katanya. Dia menyingkir dari pintu dan mempersilakanku masuk. “Kamu datang tepat waktu.”
Aku mengedarkan pandangan ke seisi ruangan. Tempat itu memang terlihat seperti apartemen studio dengan satu kamar tidur dan kamar mandi kecil. Ada dapur sederhana di sudut lainnya, sofa yang diletakkan di depan jendela besar, balkon yang kulihat dari depan toko, meja kopi, dan kipas angin yang kuyakini takkan banyak membantu mendinginkan udara—aku bersumpah langit Jakarta punya setidaknya tujuh matahari yang bersinar terik.
Kenzo menjaga tempat itu dengan rapi. Agak terlalu rapi, sebetulnya. Tak ada setitik debu yang bisa kulihat dimana pun.
“Kamu belum makan siang, kan?” tanyanya.
“Belum,” jawabku. Ketika hidungku menangkap aroma lezat di udara, aku memutar tubuhku dan melihat dia sudah membawa nampan kayu berisi hidangan lengkap dan meletakkannya di meja kopi.
“Kamu sudah memesan makan siang duluan?” tanyaku.
“Eh, aku… membuatnya sendiri,” dia berkata dengan agak salah tingkah.
Aku mengerjap, dengan tololnya berkata, “Kamu bisa memasak?”
“Cuma sedikit.”
Dia pasti bercanda. Melihat apa yang disajikannya di atas meja, tentu saja semua itu tidak cuma sedikit. Dia bahkan jauh lebih jago dariku, yang hanya bisa mengolah bahan-bahan sederhana selama tinggal di indekos.
Kenzo menyuruhku duduk di sisi lain meja dan aku menyilangkan kaki di atas karpet tipis yang melapisi lantai. Visual masakannya jelas tak kalah dengan buatan restoran.
“Kenapa kamu nggak memintaku datang lebih awal tadi?” tanyaku. “Pasti repot sekali memasak semua ini sendirian…”
“Aku sudah terbiasa melakukannya, kok,” katanya. Lalu dia bercerita bahwa sejak penyakit jantung neneknya memburuk, dia dan ibunya harus bergantian menjaganya di rumah sakit. Tapi, karena Ibu Kenzo juga harus pergi bekerja, Kenzo-lah yang kebagian tugas mengurus rumah dan adik perempuannya.
“Ini menu favorit Mika,” katanya.
Pada dasarnya hidangan itu terdiri dari nasi, ayam teriyaki dengan saus pekat, sup miso, salad kubis, dan acar timun. Aku baru mengunyah gigitan pertama ayamku dan langsung berseru, “Wow, ini, enak banget!”
Dia tertawa. Sisa makan siang itu terasa menyenangkan—Kenzo memutar playlist favoritnya, yang separuhnya merupakan lagu dari musisi Jepang (RADWIMPS, Utada Hikaru, One Ok Rock), tapi aku tak keberatan. Dia memperlihatkan foto terbaru adik-adiknya. Mika sudah jauh lebih besar dari terakhir kali aku melihatnya. Dan dua lainnya… Jina berusia tiga tahun sekarang; Kina bahkan belum genap setahun. Mereka sama sekali tak mirip dengan Kenzo, tapi dia jelas terlihat menyayangi mereka.
Aku kembali mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan, dan perhatianku jatuh pada satu-satunya pigura berisi foto kucing putih dengan kondisi heterokromia (warna iris matanya biru dan coklat) yang dipasang di dinding.
“Itu Poppy. Kucing peliharaan Sophia,” kata Kenzo.
“Ah, aku jadi ingat Clara menawariku untuk mengadopsi salah satu anak kucingnya.”
“Oh, ya? Bukannya kamu juga pernah mengadopsi kucing dulu?”
Aku mengangguk. “Cuma sebentar.”
Kejadiannya saat kami masih kelas tujuh SMP. Aku dan Elena tak sengaja menemukan Heli (seperti nama anjing dalam lagu anak-anak jaman dulu) di area tempat pembuangan sampah dekat sekolah, dalam kardus setengah basah. Sendirian. Kedinginan.
Heli jelas sakit parah. Tubuhnya dipenuhi jamur dan kutu. Saat kami membawanya ke klinik hewan, bulunya yang berwarna abu-abu tua harus dicukur habis, menyisakan kulit yang dipenuhi oleh gumpalan jamur. Tapi masalahnya bukan hanya itu saja, karena Heli juga menderita malnutrisi dan cacingan.
“Dia masih punya harapan,” dokter paruh baya itu menenangkan kami, sambil menyuntikkan cairan obat ke bawah kulit tengkuk Heli. Setelah dia memberikan tablet obat cacing dan meresepkan salep khusus untuk jamur di kulitnya, kami pun membawanya pulang.
Bulu Heli kembali tumbuh setelah beberapa minggu. Dia adalah kucing yang amat penurut, dan senang bermain bola-bola tisu atau kertas buatanku yang direkatkan dengan selotip. Ibu melarang kami membawanya masuk kamar, jadi kami meletakkan kandangnya di ruang keluarga. Pada saat kami yakin bahwa dia sudah benar-benar sembuh, timbul masalah lain: Heli tiba-tiba batuk tak henti-henti.
Dokter memberikan diagnosis bahwa Heli menderita pneumonia dan harus dirawat inap. Kami membawanya pulang setelah beberapa hari. Saat itu, dia sudah tak seaktif biasanya, dan pada hari kelima Heli di rumah, perutnya tiba-tiba membesar. Jadi kami kembali lagi ke klinik.