What's Left After Goodbye

Bells
Chapter #12

Bab 12

ADA alasan mengapa aku dan Shaka kelewat khawatir untuk sesuatu yang kedengarannya sepele seperti pertengkaran pasangan. 

Sewaktu kelas sebelas dulu, Hazel pernah berkencan dengan seorang kakak kelas yang memang sudah terkenal bermasalah. Dia tampan. Tapi berandal. Dan caranya berpacaran benar-benar obsesif, kalau dilihat dari riwayat hubungannya sebelumnya, tapi Hazel, yang tampaknya sudah terpesona sepenuhnya, tak bisa mendengar apa yang berusaha kukatakan. 

Aku sudah berkali-kali mencoba untuk memintanya putus, tapi dia tak pernah menganggap ucapanku serius. Melihat usahaku yang tak ada habisnya, Elena berkata agar aku membiarkannya saja, karena segala macam bujukan kami takkan mempan padanya. Tidak saat dia sedang mabuk cinta.

“Kalau capek, dia akan berhenti sendiri,” kata Elena. 

“Tapi…”

“Mustahil kamu bisa membujuknya kalau dia tidak sadar sendiri.”

Meski aku tahu ucapannya benar, tetap saja aku tak bisa membiarkan begitu saja. 

Mereka sudah berkencan selama satu semester ketika aku menyadari ada sesuatu yang salah. Hazel, yang tak pernah keluar dari peringkat sepuluh besar, jadi tidak fokus dalam belajar dan sering terlihat gelisah. Bahkan dia sering terlambat mengumpulkan pr, dan beberapa kali harus mengikuti remedial untuk mata pelajaran yang sebetulnya dikuasainya dan membuatnya dipanggil ke ruang guru untuk ditanyai. Dia jarang menghabiskan waktunya bersama kami dengan berbagai macam alasan (sekali waktu dia berbohong soal harus mengunjungi rumah neneknya dan ketahuan oleh Shaka.) Pokoknya, dunianya hanya berputar pada satu orang saja, dan itu membuatku tak tahan lagi. 

Aku dan Shaka nekat mengunjungi rumahnya tanpa pemberitahuan lebih dulu. Ibu Hazel, yang sudah seperti ibu kami sendiri, menyuruh kami untuk masuk ke dalam kamarnya dan membangunkannya karena dia sedang tidur siang. Tentu saja kami tidak melakukannya, karena kami menggunakan kesempatan itu untuk melakukan sidak dadakan.

Saat itulah kami tahu kalau Hazel sudah dimanfaatkan habis-habisan. Mejanya dipenuhi oleh tugas-tugas sekolah yang bukan miliknya. Di bawah meja, ada banyak kotak kardus paket yang menumpuk. Saat aku memeriksanya satu per satu, jelas dia tak membeli barang-barang itu untuk kebutuhannya sendiri: sepatu olahraga berukuran empat puluh dua, power bank, konsol game, action figure, sampai rokok elektronik. 

“Dia gila,” desis Shaka, sembari memegang rokok di tangan. “Dia mau menghancurkan dirinya sendiri, ya?”

Saat Hazel akhirnya bangun dari tidur siangnya dan melihat kami, dia langsung menangis tersedu-sedu. Kurasa itulah batas yang mampu dihadapinya. 

“Dia mengancamku,” kata Hazel, sebelum kami sempat bertanya. 

Shaka mengguncang bahunya. “Dan kamu malah diam saja? Bahkan menyembunyikannya dari kami?”

“Aku takut, oke?” isaknya. Aku mengusap-usap punggungnya. “Dia mengikutiku kemana-mana. Mengawasiku. Kalau aku nggak menurut, dia bakal mengganggu kalian juga…”

“Kenapa nggak memutuskan hubungan lebih awal?” tuntut Shaka. “Ela sudah berkali-kali memperingatkanmu, tapi kamu nggak pernah mau dengar!”

“Dia bilang, dia bakal menyebar foto-foto itu…” bisik Hazel. 

Aku terkesiap. “Foto-foto apa?” kataku. Kepanikan langsung terbit dalam benakku. “Heba, jangan bilang kalau kamu pernah mengambil foto-foto yang—yang seperti itu?” 

“Nggak! Bukan begitu!”

Aku baru mengerti setelahnya. 

Begitu hubungan mereka berakhir, cowok itu ketahuan membuat foto-foto AI dengan wajah Hazel dalam pakaian yang tidak senonoh lalu menyebarnya di grup obrolan gengnya yang berisi murid-murid berandal lain di kelas dua belas. Lalu menyebar dari satu perangkat ke perangkat lain. Semua yang tergabung dalam grup itu langsung mendapat hukuman skorsing selama sepuluh hari dan poin seratus setelah disidang habis-habisan oleh pihak Kesiswaan, yang membuat mereka terancam tidak lulus. 

Lihat selengkapnya