MENGUNJUNGI ingatan itu amatlah menyakitkan, tapi aku tak bisa mencegahnya untuk tidak menguasai kepalaku, apalagi ketika memori itu memaksakan diri untuk muncul ke permukaan.
Tiga belas Mei adalah tanggal yang ditentukan sekolah untuk upacara wisuda angkatan kami. Mula-mula, segalanya berjalan dengan lancar. Paling tidak itulah yang kupikirkan, karena kami berempat dinyatakan lulus dengan nilai yang cukup baik. Aku sudah kelewat jenuh dengan minggu-minggu ujian kelulusan dan malam-malam nyaris tanpa tidur yang kupakai untuk belajar tanpa henti. Mengakhirinya secara resmi jelas membuatku lega. Sudah berkurang satu beban di pundakku, beban lainnya bisa menunggu.
Setelah mengambil kira-kira dua ratus foto (aku, Elena, dan Hazel dalam balutan kebaya kutubaru, sementara Shaka memakai setelan jas lengkap saling memamerkan ijazah dan medali kelulusan), kami pun berpisah.
Hazel dan Shaka, yang terpilih menjadi panitia acara after party yang diadakan nanti malam harus pergi bersama yang lain untuk melakukan pengecekan terakhir di lokasi, dan karena Elena punya agenda terpisah dengan teman-teman klub teaternya (termasuk Clara Florencia) aku memilih pulang ke rumah bersama orangtua kami dan melakukan apa yang sudah sangat kepengin kulakukan sejak tadi: tidur siang.
Itulah sebabnya aku tak menyadari kapan Elena pulang, dan kapan dia pergi lagi. Gara-gara tidur siang sialan itu.
“Aku bakal terlambat nanti,” Elena memberitahu lewat telepon. “Ada masalah di risleting gaunku. Aku akan berangkat langsung dari butik setelah memperbaikinya.”
Saat itu aku baru saja berganti pakaian dengan dress satin berwarna hitam yang dulunya milik ibuku. Setelah dikecilkan di bagian dada dan pinggang, gaun itu kini membalut tubuhku dengan sempurna. “Sampai ketemu nanti, kalau begitu.”
“Ela,” panggilnya, tepat sebelum aku memutus sambungan.
“Mmm? Ada apa?”
“Hanya… kita belum benar-benar bicara hari ini.”
Aku mengernyit. “Kita bisa bicara lagi nanti, kan?”
“Mmm. Jangan pulang tanpa aku,” katanya.
“Nggak akan.”
Tapi setelah pukul delapan malam, lewat satu jam acara dimulai, aku tak kunjung mendapat kabar darinya. Ponselnya juga tak bisa dihubungi, tidak seperti biasanya. Aku mencoba mengirim pesan di semua akun media sosialnya yang kutahu, berharap dia cuma kehabisan baterai di suatu tempat. Pada saat ibuku menelepon, aku sudah setengah jalan menuju lobi hotel tempat pesta itu dilaksanakan, bertekad untuk menunggu Elena di sana.
“Kamu bisa keluar dari hotel sekarang?” tanya ibuku, melewatkan basa-basi. Kepanikannya tak berhasil diredam berkat suaranya yang bergetar dari ujung sambungan. “Ibu sudah minta seseorang untuk menjemput…”
Aku tahu ada sesuatu yang salah ketika aku menemukan Tante Jinny (yang tampak luar biasa mirip dengan ibuku dalam balutan kemeja batik dan celana kerja hitam) berbicara dengan salah satu guru dengan wajah serius. Saat matanya menangkapku, dia bergegas menghampiriku dan membawaku ke luar.
“Ada apa, Tante?” tanyaku, menyelipkan ponsel ke dalam clutch bag berkilau. Hak tinggiku membuatku tak bisa berjalan terlalu cepat.
“Lena,” jawabnya singkat, dan aku mencelos. Dia menggiringku masuk ke dalam mobilnya, tapi tak mau memberi penjelasan apa pun meski aku sudah mendesak, merengek, merajuk, bahkan pada akhirnya meninggikan suaraku. Satu-satunya yang dia katakan adalah Elena baru saja mengalami kecelakaan. Dia tak memberitahuku di mana, atau seperti apa kondisinya.
“Tante juga nggak tahu detailnya,” katanya.
Perjalanan yang seharusnya singkat itu terasa luar biasa panjang. Udara di dalam mobil terasa begitu dingin, menusuk hingga ke tulang, dan cenderung sulit untuk dihirup. Gemerlap lampu yang terperangkap di balik jendela gedung-gedung pencakar langit di sepanjang kanan kiri jalan bahkan tak mampu mengalihkanku dari pikiran-pikiran buruk.