BERITA baiknya, operasi Hazel berjalan dengan lancar.
Besok siangnya saat aku berkunjung ke rumah sakit, Kak Ian, kakak laki-laki Hazel yang sedang kebagian shift menungguinya, menitipkan Hazel padaku supaya dia bisa pulang untuk mengambil beberapa barang di rumah.
“Cuma sebentar, kok,” katanya. “Tolong, ya, Ela.”
Begitu masuk ke dalam ruangan, aku melihat Hazel, yang masih dalam balutan pakaian rumah sakit, melambaikan tangannya yang tidak terluka dengan gembira. Kalau bukan karena tangannya yang dibebat dia hampir tidak terlihat seperti seseorang yang baru saja melewati pagi di meja operasi. Entah apakah senyum itu sungguhan, atau dia hanya berusaha mencairkan suasana, aku tak begitu yakin.
“Aku sudah menunggumu,” katanya, saat aku berjalan mendekat dan meletakkan keranjang berisi buah-buahan di meja. “Pasti aku membuat kalian semua khawatir, ya?”
“Syukurlah kamu baik-baik saja,” kataku, seakan kejadian kemarin bukanlah hal yang besar, dan aku tak pernah mengalami serangan panik di parkiran. Aku duduk di kursi kecil di samping ranjangnya yang ditinggalkan oleh Kak Ian. “Gimana kondisimu?”
“Sangat baik, lebih dari yang kuharapkan. Bisa pulang dalam dua atau tiga hari ke depan,” jawabnya. “Dokter bilang aku akan sembuh total, kok—bakal ada bekas luka, tapi.”
Bekas luka itu barangkali akan menemaninya seumur hidup.
Aku mendesah. “Kenapa? Apa itu membuatmu nggak percaya diri memakai baju lengan pendek?” tanyaku.
Dia tergelak. “Mana mungkin. Aku nggak sabar memamerkannya,” katanya, sambil memiringkan kepala dengan jenaka, dan aku mengawasi arm sling yang menyangga lengan kanannya dengan kening berkerut.
“Sakit?”
Hazel mengangkat satu alisnya, seakan menilai. “Nggak terlalu. Yah, sedikit,” katanya. “Ini kali pertamaku masuk ruang operasi. Di dalam sana dingin sekali…”
“Mari berdoa supaya nggak ada lain kali," kataku.
Dia tergelak. “Mm-hmm. Dibanding merasa sakit, aku sebenarnya merasa malu.”
"Malu?"
"Maksudku, kalian melihat adegan picisan semacam itu..." dia menghela napas dalam-dalam. "Memangnya ini sinetron?"
“Dengar, soal kemarin…” aku memulai.
“Ngomong-ngomong soal itu," Hazel menyelaku. "Bisa nggak kamu meyakinkan kakakku supaya dia nggak macam-macam pada Kelvin?”
Aku mengernyit. “Apa maksudmu?”
“Dia nggak sepenuhnya salah… kamu tahu sendiri, akulah yang berlari mengejarnya. Justru itu salahku.”
“Kalau dia nggak menarik tangannya begitu…” Aku membuang napas kasar. “Pokoknya nggak ada gunanya membelanya di depanku.”
Hazel menggeleng pelan. “Dia nggak seburuk itu, kok. Maksudku, kamu tahu bagaimana pengalamanku dengan orang yang lebih buruk. Tapi dia nggak begitu.”
“Shaka bilang, kalian membuat keributan di Trove,” kataku. “Jadi, sebelumnya kalian juga sudah bertengkar. Kamu pergi tiba-tiba malam itu juga untuk menemuinya, kan? Dan alasanmu sering membatalkan janji denganku akhir-akhir ini, itu juga karena dia, kan?”
“Dia pacarku. Tentu saja dia ingin punya lebih banyak waktu berdua.”
“Dia juga merasa cemburu pada semua orang di dekatmu. Apalagi Shaka,” kataku.
“Wajar dia begitu, aku sangat dekat dengan Shaka.”
“Pokoknya, dia harus bertanggung jawab.”
Hazel berusaha untuk berargumentasi, berkata kalau Kelvin punya alasan masuk akal untuk merasa marah, tapi karena teman-temannya terus berdatangan menjenguknya sebelum dia berhasil meyakinkanku, pada akhirnya dia menyerah. Clara Florencia muncul di depan ruangan tidak lama kemudian, membawa sekotak pizza berukuran besar.
“Aku nggak bisa tinggal lama,” tolaknya, saat Hazel menyuruhnya duduk di sofa. “Ada acara keluarga yang harus kudatangi, dan sepupuku perlu tumpangan dari sekolah.”