BIAR kuberitahu salah satu hal yang paling menyebalkan saat kau punya sepasang sahabat laki-laki: mereka takkan bisa diam lebih dari lima menit tanpa membuat keributan.
Mulanya, banyak yang tak mengira Kenzo yang pendiam bisa dekat dengan Shaka yang super berisik. Tapi, anak laki-laki bakal tetap jadi anak laki-laki. Tentu saja mereka segera menemukan kesamaan dengan satu sama lain. Boardgame, misalnya. Wisata kuliner. Futsal. Kemping.
Tapi, mereka juga kadang-kadang bertengkar, seperti saat Shaka tak sengaja mematahkan kaki figurin Spiderman milik Kenzo saat kami kelas tiga, atau saat Kenzo membatalkan janji main bola untuk pergi ke toko buku. Atau sekarang, saat aku meminta mereka mengambil kue coklat yang sudah kupesan sebelumnya di toko langgananku untuk merayakan selamat-datang-kembali-Hazel, yang sudah dibolehkan pulang dari rumah sakit hari ini.
Aku bisa mendengar suara ribut-ribut bahkan saat aku masih berada di ruang tamu. Begitu membuka pintu depan, aku menemukan mereka masih sibuk berdebat satu sama lain.
“Apa yang terjadi? Apa seseorang menjatuhkan kuenya?” tanyaku.
“Tanya dia,” kata Kenzo. Aku belum pernah melihatnya semarah itu sebelumnya. Dan dia bukan tipe yang mudah marah. Jadi apa pun yang terjadi tak mungkin sesuatu yang kecil.
“Shaka?”
Dia menggeleng. “Bukan apa-apa.”
“Oh, ya, dia melakukan sesuatu semalam,” sela Kenzo, dan Shaka memberinya semacam tatapan memperingatkan. Itu adalah cara yang biasa dia lakukan kalau tak ingin melibatkanku.
“Ada apa, sih?” Aku menelan ludah, membayangkan yang terburuk saat mereka tak kunjung menjawab. “Apa kamu mendatangi Kelvin dan memukulnya?” tanyaku. Kadang, dia benar-benar harus tahu kapan waktunya menahan diri.
“Tentu saja nggak. Aku nggak memukulnya atau melukainya dengan cara apa pun,” bantah Shaka, seakan tersinggung dengan tuduhanku. “Seujung kuku pun nggak.”
“Lalu? Apa yang kamu lakukan?”
“Er—cuma memberinya sedikit pelajaran.” Shaka melipat kedua lengan di depan dada, wajahnya tampak puas. “Lagipula, bajingan itu pantas mendapatkannya.”
“Kamu… melakukan apa, tepatnya?” desakku.
“Dia mengempiskan semua ban mobil milik Kelvin dan mencopot spionnya,” kata Kenzo. “Dia mungkin akan memereteli mesinnya andai nggak kucegah.”
“Kamu gila,” desisku. “Sinting. Nggak punya akal sehat…”
“Bukan salahku dia tiba-tiba muncul di Trove,” gerutu Shaka, seakan itu bisa dijadikan alasan. “Aku cuma memastikan dia nggak bisa pulang dengan mudah.”
Hampir saja aku tertawa keras-keras. Sia-sia saja aku memutar otak untuk mengusir Kelvin dari parkiran rumah sakit waktu itu supaya mereka tidak bertemu. Rasanya seakan semesta sudah mengatur agar kekacauan tetap akan terjadi lewat cara-cara terburuk. “Gimana kalau dia melaporkanmu ke polisi? Atau mendatangimu dan mengajakmu berkelahi?”
“Aku bakal senang kalau dia melakukannya,” kata Shaka, acuh tak acuh. “Bukan dia saja yang bisa memakai tinju, tahu.”
Memangnya aku nggak tahu itu? “Apa kamu benar-benar nggak merasa khawatir sedikitpun?” tanyaku. “Ini bisa jadi masalah besar!”
“Tenang saja, Ela, nggak akan terjadi apa-apa. Yah, kecuali kalau dia mengadu pada Heba. Tapi aku yakin harga dirinya terlalu tinggi untuk melakukan itu.”