MAU makan siang di Trove?
Aku mengetikkan balasan Ya-ku pada Hazel dan mengikat rambutku dalam cepol tinggi. Lagipula, aku tak punya kegiatan lain hari ini. Ibuku sebetulnya menyuruhku untuk mulai berkemas dan berbelanja barang yang bakal kubutuhkan saat kembali ke indekos nanti, tapi aku sedang tak ingin melakukannya.
“Nanti dulu saja,” kataku. “Masih ada cukup waktu, kan.”
“Ya sudah, terserah kamu saja.”
Saat aku tiba untuk menjemput Hazel di rumahnya, dia sedang sibuk memasukkan sesuatu ke dalam kotak persegi berukuran sedang di atas meja. Begitu mendekat, aku bisa melihat setumpuk case bening berisi CD.
“Ini…”
Aku tahu apa itu. Hazel pernah memberikan salinannya pada Elena dan kami menontonnya bersama di televisi ruang keluarga bersama orangtua kami. Semua itu adalah rekaman-rekaman pertunjukan Teater Aksara yang pernah diambil oleh Hazel dengan kamera miliknya, lalu dipindahkan ke CD setelah melewati proses editing oleh Kak Ian.
Tangan Hazel yang tak dibebat mengulurkan sekeping case padaku. “Hadiah,” katanya. “Ini dari pertunjukan Siti Nurbaya.”
Itu adalah peran terakhir yang diambil Elena tahun lalu. Pertunjukan DAT terakhir yang kami—aku, Hazel, dan Shaka saksikan bersama di auditorium sekolah. “Aku belum sempat memberikannya pada Lena.”
Aku memandangi benda itu sambil menelan ludah.
“Trims,” kataku, sambil menerimanya.
Kalau harus memilih, sebetulnya Siti Nurbaya bukanlah jenis kisah favoritku. Kurasa alur ceritanya sama tragisnya dengan Romeo and Juliet yang ditulis oleh Shakespeare. Cinta terlarang. Kematian… kenapa pula Elena selalu menjadi pemeran utama dari kisah-kisah yang menyedihkan seperti itu? Sudah berapa kali aku melihatnya tewas di atas panggung dengan berbagai cara?
“Apa yang akan kamu lakukan dengan CD-CD yang lain?” tanyaku.
“Clara menginginkannya,” jawabnya. “Dia bilang, dia ingin membuat dokumenter tentang Teater Aksara. Aku nggak tahu apakah itu untuk tugas kuliah atau proyek pribadinya, tapi tetap saja mengesankan.”
“Ah… dia sudah mulai masuk kuliah?”
“Kampusku juga mulai lebih awal dari kampusmu, kan,” kata Hazel. “Untungnya aku dibebaskan dari kegiatan organisasi untuk sementara waktu, jadi aku nggak perlu mengkhawatirkan soal masalah orientasi dan tetek bengek lainnya.”
“Benar juga.”
“Menyenangkan juga punya waktu luang.” Hazel memasukkan CD terakhir dan menutup kotaknya. “Kita berangkat setelah Clara datang mengambil ini, ya.”
Aku mengangguk. “Oke, nggak masalah.”
Cewek itu tiba sekitar sepuluh menit kemudian. Setelah berbasa-basi menanyakan kondisi Hazel, pandangannya bertemu denganku dan dia langsung tersenyum.
“Ela! Halo.”
“Hai,” aku balas menyapa. Clara tampak cantik seperti biasa, apalagi dengan riasan berkilau yang menonjolkan mata bulatnya. “Kamu mau pergi ke pesta?”