“JADI, kamu benar-benar menyukai Kenzo?”
Elena meletakkan cangkir kosong bekas susu hangat di atas meja di samping tempat tidurnya. Itu adalah salah satu kebiasaan yang tak pernah dia tinggalkan sejak kecil. Minum susu sebelum tidur. Ibu selalu mengomel setiap kali dia meninggalkan cangkir bekas di kamar karena bisa mengundang semut, tapi Elena tak pernah mau dengar.
Wajahku memanas begitu mendengar kata-kata itu. “Nggak tahu,” jawabku. Tanganku menarik selimut flanelku hingga menutupi sebagian wajahku, menyisakan hanya sepasang mata untuk membalas tatapannya. “Mungkin?”
Pada waktu itu, kami memang sedang memasuki fase puber ekstrem. Selain harus beradaptasi dengan perubahan bentuk tubuh dan fase menstruasi untuk pertama kalinya, kami juga mulai memandang lawan jenis dengan cara yang berbeda.
Di antara kami berlima, Shaka adalah yang paling populer. Bahkan Kenzo, yang lebih sering menghabiskan waktunya di perpustakaan juga punya penggemar aktif. Hazel sudah memilih pacar pertamanya, Nico, dan Elena baru saja mendapat pengakuan cinta dari kakak kelas minggu lalu, yang ditolaknya dengan alasan klasik tak boleh pacaran—karena kami memang belum dibolehkan untuk memiliki pacar.
“Jadi, itu sebabnya kamu menolak Ricky?”
Ah. Ricky adalah teman sebangkuku saat kelas tujuh dulu. Dalam kebetulan yang aneh, dia adalah sepupu Nico, pacar Hazel. Kami bahkan sempat bertemu saat jam istirahat hari ini, saling menyapa, lalu pergi ke tujuan masing-masing. “Aku nggak menolaknya. Dia nggak mengatakan apa-apa,” bantahku.
“Semua orang tahu dia menyukaimu. Dia sering mencuri-curi waktu untuk bicara denganmu.”
Aku menurunkan selimutku ke dada dengan agak kesal. “Itu karena dia mau meminjam buku pr-ku dan menyalinnya.”
Saking seringnya dia melakukannya, aku sampai berniat menetapkan tarif per halaman untuk kerja kerasku—yang sedikit banyak memiliki campur tangan Kenzo (tentu saja aku selalu bertanya padanya saat mengalami kesulitan.) Aku bisa saja menjadi kaya raya hanya dengan meminjamkan catatanku pada Ricky.
“Nah, dia bisa pinjam orang lain, kan?” Wajah Elena tampak serius. “Pasti dia menyukaimu.”
“Menurutmu begitu?”
“Tentu saja.”
Meski dia tampak sangat yakin dengan teorinya barusan, aku tak menganggap ucapannya serius. “Itu nggak penting,” kataku, sambil menatap langit-langit kamarnya yang serupa milikku. “Aku nggak mau pacaran dengan Ricky.”
Tidak saat aku sudah punya seseorang yang kusukai. Sejujurnya, aku merasa agak khawatir. Kenzo lebih banyak diam belakangan ini, dan meskipun ujian akhir belum dimulai, dia tetap pergi ke perpustakaan untuk belajar. Atau membaca buku yang belum pernah dia baca. Kadang-kadang, dia bahkan membaca koran nasional. Kalau Shaka tidak menariknya keluar untuk bermain futsal di lapangan, kurasa dia tidak akan terkena sinar matahari sepanjang hari.
“Apa rencanamu?” tanya Elena.
“Rencana apa?”
“Tentu saja soal Kenzo.”
“Entahlah,” gumamku. “Menurutmu aku harus memberitahunya?’
“Itu terserah padamu, kan…” Elena bergabung denganku di balik selimut. Jemari kaki-kaki kami bersentuhan—rasanya geli. “Kalau kamu mau mengungkapkannya, kamu harus bersiap untuk dua kemungkinan: ditolak atau diterima. Itu bisa membuat hubungan kalian berubah sepenuhnya.”
Tapi pada saat itu, aku hampir yakin Kenzo juga memiliki perasaan yang sama padaku. Sudah berkali-kali aku memergokinya menatap ke arahku dan langsung memalingkan wajah. Dia juga meminjamiku buku pr-nya. Mengajariku soal-soal ujian…
“Bagaimana kamu akan melakukannya?” tanya Elena.
Wajahku semakin memanas saat membayangkan rencana yang telah kusiapkan selama berminggu-minggu terakhir ini. “Surat, mungkin. Aku nggak cukup berani untuk mengatakannya langsung.”
Elena mengerjap. “Surat?”