What's Left After Goodbye

Bells
Chapter #18

Bab 18

IBUKU sedang duduk di ruang tamu saat aku turun ke bawah sorenya. Di hadapannya terbuka kotak kardus berukuran sedang berisi apa yang kelihatannya kemasan bibit tanaman dan berbagai macam perlengkapan berkebun. Kedua matanya fokus membaca selebaran Tata Cara Menanam Tanaman Hidroponik Sendiri di Rumah. Belakangan ini, dia sedang tertarik untuk mengembangkan hobi baru di waktu senggang. Kurasa Tante Jinny yang mempengaruhinya. 

“Aku mau ketemu teman,” kataku.

Ibuku menoleh. “Hazel?”

“Bukan, teman dari sekolah.”

“Di mana?”

“Cuma di sebelah. Di kedai.” 

Dia mengernyit. Saat kupikir ibuku akan bertanya lebih jauh soal siapa yang hendak kutemui dan aku sibuk memikirkan kebohongan apa yang harus kubuat, dia justru berkata, “Kamu kurang tidur, ya?” 

Meski aku sudah mencoba menyamarkan kantung mataku dengan membubuhkan concealer, kurasa bengkaknya masih agak terlihat. 

Aku menelan ludah. “Iya, tapi nggak apa-apa.”

“Ya sudah.” Dia mengangguk sebelum kembali pada brosurnya. Aku sudah mencapai pintu depan ketika dia menambahkan, “Jangan pulang terlambat, Ela.”

Aku mengiyakan ucapan ibuku sebelum melesat keluar. Kali ini, aku memilih untuk berjalan kaki, karena tempat pertemuan yang kuatur secara mendadak itu masih berada di area perumahan. Berjarak sekitar dua ratus meter dari rumah kami, dekat dengan taman, ada sebuah kafe mungil bernama Kedai Teh Bunga Mawar. 

Tempat itu hanya memiliki empat buah meja kayu kecil dengan masing-masing dua kursi, dan cuma ada selembar daftar menu yang dilaminasi di atas konter pemesanan—minumannya terdiri dari aneka teh dan makanannya hanya tiga jenis roti lapis saja, tapi karena dibuat dengan baik, mereka jadi banyak mendapat pesanan lewat aplikasi pesan antar dan menerima penilaian tinggi dari para pembeli. Termasuk aku dan sahabat-sahabatku. Tapi, ada satu orang lagi yang memang sering berkunjung bahkan sebelum dia berkencan dengan Elena, dan mataku menemukannya lebih dulu sebelum dia menemukanku; duduk di kursi dekat jendela, sibuk memainkan ponsel. 

Aku tahu ini bukan sekedar pertemuan biasa. Setiap langkah yang kuambil menuju ke arahnya terasa semakin berat, dan sirine peringatan dalam benakku terus menerus menganggap keseluruhan rencana ini sebagai bencana—tapi sudah terlambat untuk mundur. 

Sejujurnya aku agak terkejut saat tahu Hansel masih menggunakan nomor lamanya (yang kublokir setahun lalu setelah insiden itu.) Fakta bahwa dia juga masih menyimpan kontak nomorku, bahkan menerima ajakan impulsifku untuk bertemu hari ini membuat perasaanku semakin gelisah. 

Dia baru mendongak dari ponselnya saat aku menarik kursi kosong di seberangnya. 

“Halo. Kita ketemu lagi,” sapanya.

“Kamu datang lebih awal,” balasku, lalu duduk. Kurasa jauh lebih mudah menghadapi orang asing dibanding orang yang pernah dekat denganmu, dan kini menjadi semacam musuhmu. Tapi dia tahu sesuatu yang tak kuketahui, dan mungkin ini adalah kesempatan terakhirku. 

“Oh, ya.” Dia menganggukan kepala. “Soalnya aku penasaran. Aku nggak mengira kamu akan menghubungiku duluan.”

“Aku juga,” sahutku. 

Rasanya benar-benar aneh—duduk di hadapan seseorang yang kau benci. Bertatapan dengannya. Berusaha menyimpan semua perasaanmu sejenak dan bersikap netral. Dalam dunia paralel dimana dia dan Elena saling mencintai satu sama lain, aku adalah pendukung nomor satu mereka. Tapi pada realita versi ini, bahkan sebelum Elena meninggal, hubungan mereka sudah berakhir dengan cara yang buruk. Kecuali, jika tuduhan Hansel terbukti…

Aku menelan ludah. “Ada sesuatu yang ingin kutanyakan.”

Hansel menyilangkan kedua tangannya di atas meja. “Apa yang membuatmu mengira aku bakal menjawab?”

Dia bahkan tak mencoba berbasa-basi sebelum menolak. Bukan berarti aku tak menduganya sebelumnya. Aku sudah tahu dia takkan membuka mulut dengan mudah dan kekesalanku memuncak. 

“Sudah kuduga ini ide yang buruk,” kataku, berusaha agar terdengar tak peduli meski tak terlalu berhasil. “Mungkin seharusnya aku nggak mengirim pesan mengajakmu bertemu. Lupakan saja.” 

Aku sudah bersiap-siap untuk berdiri ketika dia berkata, “Apa ini soal Lena?”

Dia tampak tenang. Tak menampilkan ekspresi tersinggung atau bahkan bermusuhan. Hanya murni penasaran. 

“Ya,” jawabku. 

“Begitu,” dia menghela napas. “Karena kamu sudah di sini, kenapa nggak sekalian saja bicara?”

Aku terdiam sejenak. Sejujurnya, aku masih ingat momen pertemuan pertamaku dengan Hansel di lapangan upacara saat acara pembukaan MPLS SMA kami dulu, tapi tak pernah benar-benar bicara dengannya. Dia langsung akrab dengan Shaka (kurasa para ekstrover memang selalu menemukan satu sama lain), dan setelah berakhir tahu namanya, aku hanya melihatnya sepintas setiap kali berpapasan di koridor, atau di poster-poster kampanye pemilihan ketua OSIS saat kelas sebelas. 

Kami baru mulai berteman setelah dia menyatakan perasaannya pada Elena. Sejujurnya itu adalah tahun yang menyenangkan. Dia cukup akrab dengan orangtuaku. Dia sudah seperti anggota keenam Itik Kecil dan bergabung bersama kami dalam berbagai hal—bahkan dia banyak membantu Shaka dan Etheria tampil di panggung. Tapi masa-masa itu sudah lama berlalu. 

“Kamu bersikeras kalau Lena berselingkuh darimu.” Lidahku terasa kelu saat kata-kata itu meluncur dari bibirku. “Hari itu, kamu bilang dia punya banyak rahasia yang nggak kuketahui.”

“Kukira kamu nggak percaya kata-kataku.”

“Tadinya, ya,” jawabku. 

“Apa yang membuatmu berubah pikiran?”

Aku menunduk, menatap jari-jari tanganku yang saling bertaut di atas pangkuanku. “Aku belum berubah pikiran. Aku hanya… ingin mencari tahu kebenarannya.”

Lihat selengkapnya