What's Left After Goodbye

Bells
Chapter #19

Bab 19

ADA!

Aku menatap laci terbawah meja belajar Elena dengan ngeri. Otot perutku menegang. Bukankah aku sudah melihatnya saat aku merapikan pakaian Elena tempo hari bersama ibuku? Di antara naskah-naskah drama, album foto Itik Kecil, kotak jam tangan, kini setumpuk kartu pos itu langsung menarik perhatianku seutuhnya.

Aku tak ingat kapan dia mulai mengumpulkan kartu-kartu itu, tapi ketidaktertarikanku-lah yang mengambil peran terbesar. Kupikir itu adalah salah satu cendera mata atau properti drama. Tak pernah kubayangkan Kenzo akan mengirimnya jauh-jauh dari Jepang. Kenapa dia tak pernah mengatakan apa pun soal itu? 

Aku menghela napas dalam-dalam. Satu per satu, pikirku. Seperti boneka Matryoshka yang punya banyak bagian sebelum mencapai ke inti, aku juga harus bersabar ketika membuka setiap lapisan demi lapisannya. Aku tahu aku sudah sangat dekat dengan apa yang kucari. 

Kebenaran. 

Tanganku terulur ke dalam laci dan menarik keluar kartu-kartu pos itu ke atas pangkuanku. Jumlahnya ada delapan lembar. Bagian depan kartu-kartu itu memiliki gambar ilustrasi dari kota-kota yang ada di Jepang—Osaka, Kyoto, Hiroshima, Fukuoka, Kagoshima, Sapporo, Yokohama, Tokyo…

Di bagian belakang, tulisan tangan yang familiar memberitahuku kalau Kenzo sedang menghabiskan liburan musim panas dengan berkeliling Jepang. Tampaknya dia mengirimkan kartu-kartu pos itu saat tiba di satu kota. Setiap pesan-pesannya diawali dengan kata yang sama: Hai, El!

Tapi, siapakah El yang dia maksud? 

Sejujurnya, sekarang aku bisa melihat mengapa dulu Hansel berpikir begitu. Meski pesan-pesan ini sepintas tampak kasual (misalnya: Aku sedang mengunjungi museum monumen perdamaian di Hiroshima!), tapi pesan itu diakhiri dengan; entah mengapa, aku banyak memikirkanmu akhir-akhir ini. 

Kartu pos Osaka bahkan punya pesan yang lebih berani: Kuharap kita bisa bertemu lagi. Tapi pesan di kartu Tokyo-lah yang membuatku menyadari kepada siapa pesan itu ditujukan: Aku pergi ke Sumida Aquarium hari ini, mereka punya pameran ubur-ubur yang keren. Pasti bakal menyenangkan kalau bisa mengunjunginya bersamamu.

Oh, Tuhan. 

Aku memejamkan mataku rapat-rapat. Apa yang sebenarnya Elena pikirkan saat dia menerima semua ini? 

Saat membuka mata lagi, aku mengedarkan pandangan ke seisi ruangan. Meski ibuku rutin membersihkannya setiap beberapa hari sekali agar tak ada debu yang menumpuk, kamar itu tetap memiliki kesan yang dingin. Hampa. Ditinggalkan. Hanya dihuni keheningan yang membuat telingaku berdenging. Tapi pada suatu masa, Elena pernah duduk di sini, di tempat yang sama denganku, membaca semua kartu-kartu ini dengan perasaan, entahlah, mungkin berbunga-bunga. Mungkin tegang. Atau keduanya. 

Aku tak pernah membayangkan akan berada dalam situasi ini sebelumnya; ditinggalkan bersama isi kotak pandoranya yang membuat hatiku pedih. Aku masih belum sepenuhnya merekatkan luka akibat kematiannya, dan sekarang sayatan baru kembali terbentuk. Panjang dan dalam. 

Sesungguhnya, diamnya-lah yang membuatku paling menderita. Di antara semua orang yang kukenal di dunia ini, aku memercayainya dengan hidupku. Tapi, ternyata itu tidak cukup untuknya. Bukan hanya mengambil surat yang ditulis untukku dan menyembunyikannya selama bertahun-tahun, Elena juga tak ragu menyimpan kartu-kartu pos yang dikirimkankan oleh Kenzo untuk dirinya sendiri. 

Berita buruknya, itu bukan yang terakhir. 


***


Aku sedang memeriksa kalender akademik dari surat edaran kampus yang baru saja dibagikan oleh ketua angkatan di grup kami ketika Jeff tiba-tiba meneleponku untuk pertama kalinya setelah sekian lama, mengingatkanku agar segera mengisi KRS untuk semester ini. 

Suaranya terdengar agak asing, berjarak, seakan dia sendiri tak tahu harus mengatakan apa. Aku bahkan tak punya cukup ruang untuk bisa memikirkannya, dengan Kenzo dan Elena telah mengambil alih semua tempat dalam kepalaku. 

Apa pun yang pernah terjadi di antara kami, maupun yang hampir terjadi, semua itu tidak penting lagi. 

“Kamu nggak perlu begitu,” kataku, merujuk pada sikapnya yang kelewat sungkan padaku. “Kita masih berteman, kan?”

“Tentu saja,” balasnya. “Aku hanya… merasa bersalah padamu.”

“Jangan.”

Selama setahun mengenalnya, aku tahu dia adalah anak yang baik. Sejujurnya, setelah pergi dari rumah tanpa punya rencana pasti dan hanya bergantung pada kenekatan, aku tak berharap dapat menemukan sosok yang bisa menandingi Shaka atau Hazel sebagai sahabat, tapi Jeff adalah kompensasi yang tak pernah kusangka-sangka akan muncul dalam hidupku. Justru aku akan senang kalau dia bisa menemukan sesuatu yang membuatnya bahagia. Baik itu dalam bentuk… yah, mantan pacarnya. 

“Kabari aku nanti, ya,” tutupnya. 

Karena pengisian KRS baru bisa dilakukan setelah pembayaran UKT, aku menghabiskan satu jam berikutnya untuk mengantre di Bank, dan satu jam berikutnya untuk mencari charger laptopku. Aku tak bisa menemukannya dimana pun. Jangan-jangan aku meninggalkannya di indekos. Dan karena orangtuaku masih berada di kantor, aku juga tak bisa meminjam milik mereka. 

“Kalau kamu butuh sekarang, pakai saja komputer Ayah,” kata ibuku, saat aku meneleponnya untuk menanyakan apakah aku boleh meminjam laptopnya nanti, setelah dia pulang kerja. 

“Oh, benar juga.” Aku hampir lupa karena sudah lama tak pernah memakainya.

Beberapa tahun yang lalu, ayahku menyulap satu-satunya kamar tamu di lantai bawah rumah kami sebagai semacam ruang kerjanya, tapi tempat itu lebih tepat disebut sebagai gudang elektronik. Lemarinya sendiri dipenuhi oleh perangkat yang sudah tak bisa digunakan lagi. Ponsel-ponsel. Radio. Kamera. Pengering rambut. Setrika. Pemutar piringan hitam. 

Ruangan itu tidak terkunci, jadi aku menyelinap masuk dan langsung melangkah menuju meja di samping jendela. Aku meletakkan ponselku di samping mouse nirkabel dan menyalakan komputer milik ayahku yang sudah digunakan hampir selama sepuluh tahun terakhir. 

Hal pertama yang kulakukan adalah membuka situs kampusku, GanaEdu, memasukkan nomor NIM dan kata sandi, lalu pergi ke pilihan halaman Mahasiswa, dan mengklik opsi Isi KRS. Untungnya, karena kampusku tidak menggunakan sistem siapa-cepat-dia-dapat, aku tak perlu berebut dengan teman-temanku yang lain untuk mengambil mata kuliah yang kuinginkan. Dosen pengajar dan jam kuliah juga akan ditentukan oleh sistem, jadi aku tak perlu susah payah menyusun jadwalku sendiri agar tak bertabrakan. 

Lihat selengkapnya