What's Left After Goodbye

Bells
Chapter #20

Bab 20

PADA pagi berikutnya, aku tak bisa beranjak dari tempat tidur. Kepalaku terasa pening setiap kali mencoba bergerak, jadi aku memilih menarik selimutku kembali menutupi kepalaku seakan itu bisa menjadi penghalau, dan sebelum aku menyadarinya, aku sudah kembali ke alam mimpi. Aku tak tahu sudah berapa lama waktu berlalu, tapi kali berikutnya aku membuka mata, yang kulihat pertama kali adalah ibuku yang sedang meletakkan telapak tangan di dahiku. 

“Tubuhmu panas,” katanya. 

Aku berusaha menyingkirkan tangannya, tapi kemudian kurasakan jemarinya menggulung lengan kausku ke atas bahuku dan ujung sesuatu yang terasa dingin menyentuh kulit ketiakku. Aku menoleh dan melihat tangannya yang satu lagi tengah memegang termometer digital.

 “Ibu!” protesku. 

“Tunggu sebentar.” Dia menahan lenganku, lalu merapatkannya ke tubuhku hingga termometer itu terjepit di ketiakku. Rasanya seperti aku baru saja kembali menjadi bocah tujuh tahun yang hampir tenggelam di kolam renang dan langsung terkena demam tinggi begitu tiba di rumah. Termometer itu mengeluarkan bunyi bip bip panjang dan ibuku menariknya kembali untuk melihat hasilnya.

“Ayo ke dokter,” katanya, nyaris seketika. 

Aku menggeleng. “Aku baik-baik saja. Cuma sedikit pusing.”

“Ela…”

“Aku bukan anak kecil, Bu.”

“Memangnya cuma anak kecil saja yang boleh berobat?” tanyanya, sewot. “Dan, kamu—bukannya calon dokter harusnya jauh lebih tahu?”

Aku berdecak. “Pasienku bahkan bukan manusia,” gerutuku.

“Ganti bajumu. Kita ke klinik sekarang.”

Tapi, aku tetap bersikeras tak mau pergi. Ibuku terus mengoceh soal suhu tubuhku yang hampir mencapai 39 derajat celcius. Akhirnya sebagai bentuk kompromi, aku membiarkannya merawatku. Aku bahkan tak memprotes saat dia menyajikan bubur hambar buatannya untuk makan malam, atau saat dia menjejalkan tablet penurun panas tiap enam jam dan duduk di ujung ranjangku sambil sesekali mengompres dahiku dengan lap basah. 

Sekitar tengah malam, saat aku terbangun lagi, aku menemukan ibuku masih berada di sisiku sambil membaca sesuatu di pangkuannya. Mungkin buku panduan budidaya tanaman organik atau apalah. Aku hanya melihatnya sepintas. Sampulnya memiliki gambar sayuran serba hijau. 

“Ibu,” panggilku. Suaraku agak serak.

Dia menoleh. “Mmm?”

“Kenapa belum tidur?”

Lihat selengkapnya