What's Left After Goodbye

Bells
Chapter #21

Bab 21

“KENAPA sulit sekali menghubungimu belakangan ini?” protes Hazel dari ujung sambungan telepon. “Kamu nggak membalas satu pun pesan yang kukirim. Padahal temanmu ini sedang patah hati.”

“Hei, aku baru demam," gerutuku.

“Sudah membaik, kan? Kebetulan aku punya rencana bagus hari ini,” katanya. Syukurlah dia sudah terdengar lebih ceria sejak putus hubungan dengan Kelvin. “Gimana kalau kita pergi ke akuarium? Aku kenal dengan putri duyung di sana.”

Aku mengernyit. “Apa?”

“Maksudku, putri duyung dalam pertunjukan. Dulunya dia mantan atlet renang sekolah kita. Kalau datang lebih awal, mungkin dia bakal menunjukkan koleksi ekornya…”

“Ayo kita makan siang saja. Aku sudah nggak tahan makan bubur hambar,” kataku. 

Oohh, kalau begitu, ayo kita pergi ke KTBM. Sudah lama aku nggak makan roti lapis mereka.”

Maksudnya adalah Kedai Teh Bunga Mawar. Tempat pertemuanku dengan Hansel waktu itu. Kami yang lain selalu menyebutnya sebagai kedai teh atau kedai saja, tapi Hazel bersikeras menyebutnya dengan KTBM.

“Itu nama resminya,” katanya, bertahun-tahun lalu. “Mereka pasti sudah bersusah payah memikirkan nama bisnis yang unik. Aku nggak bisa memotong namanya begitu saja.”

“Menyingkatnya nggak akan membuatnya jadi lebih mudah untuk diingat,” kataku. 

“Sesusah apa, sih? Memangnya kamu cuma punya daya ingat seperti ikan mas?”

Aku mengabaikannya. 

Saat kami tiba di kedai siang itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku melihat mereka menambahkan tiga menu roti lapis baru: Volcano, Salted Egg Chicken, dan Black Garlic

Tentu saja kami tak melewatkan kesempatan. Aku memesan teh leci dan Salted Egg Chicken Sandwich. Pilihan Hazel jatuh pada Black Garlic Sandwich dan teh rosela.

“Mereka harusnya membuat sepuluh cabang lain di kota ini—lebih banyak lebih bagus, dan aku nggak akan mengeluh dengan meja-meja tambahan, ini terlalu—”

“Aku mengajak Hansel bertemu di sini beberapa hari lalu,” kataku. 

Hazel menjatuhkan roti lapisnya ke atas meja. “Katakan sekali lagi.”

“Aku mengajak Hansel—”

“KAMU GILA, YA?!”

“SSHHH!” Aku buru-buru memajukan tubuhku melewati meja dan membekap mulutnya dengan tanganku sebelum dia sempat mengatakan apa-apa. 

Saat dia kelihatannya sudah berhasil menenangkan diri, aku melepas tanganku dan kembali ke posisi dudukku semula.

“Tolong katakan itu bukan kencan,” desisnya.

“Itu bukan kencan.”

“Oh, terima kasih, Tuhan,” katanya. “Apa yang terjadi?”

Aku menghabiskan remah terakhir roti lapisku sebelum menjawab, “Banyak hal, kurasa.”

Lihat selengkapnya