What's Left After Goodbye

Bells
Chapter #22

Bab 22

SEKITAR pukul delapan, setelah sesi makan malam kali ini berakhir dengan keheningan yang canggung (menu hari ini: ayam panggang serai dan sup jamur merang yang dibumbui nasihat-nasihat kehidupan oleh ayahku), alih-alih tidur lebih awal, aku mengeluarkan sepeda lamaku dari garasi dan menyelinap pergi ke minimarket dua puluh empat jam yang hanya berjarak kurang lebih lima ratus meter dari rumah. 

Aku mengayuh sepedaku melewati deretan rumah-rumah beratap kelabu, dan berbelok dua kali ke arah kiri setiap menemukan pertigaan yang akan membawaku menuju patung burung merak, lalu berhenti sejenak di depan portal perumahan. Minimarket itu terletak persis di seberang jalan raya, di samping toko alat tulis dan fotokopi yang buka sampai tengah malam. 

Dulu, saat masih SMA, aku dan Hazel adalah pelanggan tetap yang berkunjung hampir setiap hari setelah pulang sekolah, karena kami tak punya kegiatan klub yang menyita waktu seperti Elena, atau latihan band yang melelahkan seperti Shaka. 

Di sanalah kami bertemu Kak Lisa, salah satu pegawai paruh waktu yang kini sukses membangun Trove, saat dia masih menjadi mahasiswa jurusan Bisnis. Entah bagaimana caranya, Hazel berhasil membujuknya menjadi tutor matematika kami. Pegawai-pegawai lain juga sangat baik pada kami. 

Aku tak berharap akan menemukan wajah-wajah familiar karena sebagian besar dari mereka sudah digantikan dengan pegawai-pegawai baru, tapi aku lebih tak mengira lagi akan menemukan sosok yang belakangan membuat pikiranku kacau begitu menarik pintu kaca hingga terbuka. 

Kenzo Altair sedang duduk di deretan kursi paling ujung di balik meja panjang yang menghadap ke luar partisi kaca sambil menikmati apa yang kupikir adalah hidangan makan malamnya: mie instan pedas, sosis siap makan, dua buah onigiri, dan sekaleng soda sambil sesekali menggulir layar ponsel di tangannya. 

Kenapa dia ada di sini?

Padahal di dekat studio tempat tinggalnya ada banyak kafe dan restoran yang bisa didatangi. Tidak. Tunggu. Bukankah dia juga bisa memasak makanan yang jauh lebih layak di dapurnya?

Dia masih belum menyadari kehadiranku, jadi aku menyelinap di antara lorong berisi rak camilan, terus berjalan melewati rak-rak bahan makanan, menuju ke bagian paling belakang minimarket yang dipenuhi oleh deretan kulkas-kulkas khusus untuk menyimpan berbagai produk makanan beku. Aku membuka kulkas berisi es krim dan mengulurkan tangan untuk meraih dua kemasan mangkuk es krim rasa coklat.

Kenzo masih belum menyadari kehadiranku saat aku mengantre di kasir. Barulah ketika aku menarik kursi di sampingnya lalu duduk, bertanya-tanya dalam hati apakah aku melakukan sesuatu yang benar, kepalanya akhirnya menoleh dan pandangan kami bertemu. 

“Ela,” katanya. Dia mengerjap, agak bingung, seakan aku baru saja membangunkannya dari mimpi yang panjang. 

“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanyaku.

“Ah,” dia meletakkan ponselnya di atas meja. “Sebetulnya, aku ingin mampir ke rumahmu, tapi rasanya sudah terlalu larut untuk bertamu,” katanya. “Siapa sangka kita justru bertemu di sini?”

Apa yang harus kulakukan? Bukannya aku harusnya marah padanya?

“Kenapa kamu ingin menemuiku?” tanyaku. 

“Heba bilang, kamu sakit.”

“Sudah sembuh, kok.” Aku memalingkan wajah, berusaha sebisa mungkin untuk menyingkirkan pikiran konyol bahwa seharusnya aku mengenakan sesuatu yang lebih baik dibanding sweter kuning kebesaran dan celana jins yang warnanya sudah sangat pudar saking seringnya dipakai. 

“Syukurlah,” katanya. 

Aku memanfaatkan momentum itu untuk meletakkan mangkuk es krim di hadapannya dan membuka kertas penutup es krimku sendiri. 

“Untukku?” tanyanya.

Aku mengangguk. Tapi, saat itu perhatianku teralihkan. Jika dilihat dari dekat, rambut Kenzo tampak kusut dengan cara yang aneh, bagian putih matanya juga berserat-serat merah, dan kantung mata kehitaman yang menghiasi wajahnya itu membuatnya terlihat, entahlah, seperti amat letih. 

“Apa yang terjadi?” tanyaku.

“Hmm?”

“Kamu kelihatan… kacau.”

Kenzo mengerjap, tapi tidak membantah kata-kataku barusan. Aku tahu dia bukanlah tipe yang mudah untuk berbohong. Dia benar-benar transparan, itulah sebabnya aku meragukan tuduhan Hansel tempo hari. Dan tebakanku bisa dibilang benar. Satu-satunya masalah adalah dia tak mau mengatakan apa-apa padaku.

“Apa ini gara-gara ayahmu?” tanyaku lagi. “Iya atau bukan?”

“Kamu mengkhawatirkanku, El?” tanyanya. 

Lihat selengkapnya