PERMASALAHAN ini jauh lebih gawat dari yang kukira.
Karena sudah mengepak hampir semua bajuku ke indekos tahun lalu, aku tak punya sesuatu yang cukup layak untuk dipakai di lemari. Sungguh. Aku bahkan sudah membongkar sampai ke dasarnya.
Oke. Tenang.
Rok midi hitam dengan motif bunga-bunga yang kupakai ke pesta ulang tahun Hazel kemarin sepertinya cukup lumayan. Mungkin aku bisa memadukannya dengan kaus putih dan jaket denim…
Keputusasaanlah yang membuatku nekat mengirimkan pesan pada Hazel untuk meminjam pakaiannya. Dia langsung meneleponku dalam lima menit.
“Kenapa? Kamu ada kencan?” tanyanya. Aku berani bersumpah dia sedang menahan senyum dari ujung sambungan.
“Bukan kencan,” sergahku cepat. “Cuma pergi ke akuarium. Sebagai teman.”
“Teman tapi mesra, maksudmu,” kata Hazel.
“Sudah kubilang, bukan.”
“Kemarin aku mengajakmu ke sana dan kamu menolak, jadi kamu menyimpannya untuk hari ini?” gerutunya. “Ah, aku juga ingin kencan. Kenapa aku harus menjomblo di waktu-waktu seperti ini?”
Aku mengecek jam di layar ponselku. Aku sudah tak punya banyak waktu sampai pukul sebelas. Maksimal hanya dua jam. “Aku akan ke rumahmu sekitar setengah jam lagi setelah mandi.”
“Oke, aku akan menyiapkan sesuatu. Kamu tunggu saja di rumah.”
Aku mengernyit. “Apa? Gimana kamu akan ke sini? Kamu nggak boleh menyetir dengan satu tangan!”
“Tenang saja. Pokoknya aku akan menyiapkan semuanya.”
***
Seharusnya aku mencurigainya dari awal. Sungguh. Aku tak percaya apa yang tengah kulihat di depan pintuku. Sepertinya Hazel benar-benar berniat untuk membuat keributan. Apa sih yang dia pikirkan sampai dia membawa Clara Florencia bersamanya?
“Apa yang terjadi?” tanyaku.
Clara nyengir lebar. “Hai, Ela. Kudengar kamu ada kencan hari ini.”
“Apa?” Aku memberi Hazel tatapan membunuh. Dia hanya tertawa di belakang Clara.
“Aku nggak bisa banyak membantu dengan kondisi tanganku, kan,” katanya, berusaha membela diri. Aku tak akan memberinya poin simpati. Dasar licik.
“Serahkan saja padaku, El,” kata Clara, sambil mengedipkan sebelah matanya.
“Percayalah. Dia ahlinya,” kata Hazel.
Aku masih belum bisa memercayai apa yang kulihat ketika mereka berdua—Hazel dan Clara—menghambur masuk ke dalam kamarku, tangan Clara menarik koper kecil berwarna fuschia.
“Apa ini nggak berlebihan?” tanyaku.
Baik Hazel maupun Clara mengabaikan kata-kataku. Clara membuka kopernya dan bersama Hazel, mereka mulai memadu-padankan pakaian di atas ranjangku. Rok selutut dengan atasan lengan balon. Dress dengan kardigan. Celana jins dan jaket kulit… dan macam-macam lagi.
Mereka sibuk berdiskusi seakan aku tak ada di sana.
“Teman-teman…” kataku.
“Suruh dia memakai semuanya dan kita akan lihat mana yang paling cocok,” kata Hazel akhirnya. “Baru setelah itu kita bisa menentukan aksesori.”
“Apa? Nggak perlu sampai begitu!” protesku.
Clara mengangguk-angguk. “Oh, ya, ide bagus.”
Mereka benar-benar serius sampai aku tak berani menolak dan akhirnya mencoba semua pakaian itu dan membiarkan mereka berdua menilainya.
“Aku lebih suka kalau dia memakai dress,” kata Hazel. “Penampilan feminim lebih cocok untuknya. Apalagi untuk kencan pertama.”
“Sudah diputuskan, kalau begitu.” Clara bertepuk tangan sekali. Pada akhirnya mereka membuatku mengenakan kombinasi dress midi biru muda berbahan sifon yang memiliki tali spaghetti, kardigan tipis warna putih, dan menyiapkan sandal tali dengan hak lima senti.
“Nah, sekarang, duduk dulu,” perintah Clara. Dia menggiringku agar duduk di tepi ranjang sementara dia membuka pouch berisi perlengkapan make up yang jauh lebih lengkap dibanding milikku. Clara punya banyak sekali kuas dan sponge dalam berbagai bentuk dan ukuran.
“Aku biasa menjadi penata rias dadakan dulu,” jelas Clara, menjawab pertanyaan yang terpantul di wajahku. “Ada preferensi tertentu sebelum aku mulai?”
“Um, aku nggak terlalu suka riasan tebal.”
“Kupikir juga begitu,” kata Clara. “Serahkan saja padaku.”
Dia benar-benar seperti penata rias sungguhan. Maksudku, dia tahu apa yang dia lakukan. Tak ada sedikit pun keraguan dalam gerakan tangannya—baik saat dia menggambar alisku, ataupun saat dia membuat garis dengan eyeliner coklat di kedua sudut mataku. Di bagian mata, pipi, dan bibirku, dia menggunakan produk-produk bernuansa pink atau peach yang lembut, dan menambahkan lip gloss agar bibirku terlihat lebih berkilau.
Terakhir, dia menyemprotkan setting spray untuk mengunci semua riasan di wajahku agar tahan lama.