What's Left After Goodbye

Bells
Chapter #24

Bab 24

Hai El,

Aku langsung menulis ini setelah tiba di studio. Sudah lama aku nggak melakukannya, jadi pasti tulisanku bakal terlihat canggung. 

Ngomong-ngomong, aku senang karena bisa menghabiskan waktu bersamamu hari ini. Meski biasanya kamu sudah cantik, tapi kali ini aku benar-benar terpesona. Aku terlalu gugup sampai nggak bisa mengatakannya langsung. Semoga kamu juga menikmati hari ini sebesar aku menikmatinya, ya. Dan ke depannya juga. 

Aku nggak tahu harus menulis apa lagi. 

Kurasa aku sudah menggunakan semua keberuntungan yang kumiliki dalam hidupku untuk momen ini. Jadi, kalau setelah ini aku terkena sial, kamu harus bertanggung jawab (bercanda). 

Terakhir, aku akan menutupnya dengan menjawab pertanyaanmu waktu itu—soal apakah aku akan kembali ke Jepang.

Jawabannya, iya. Aku sudah punya rencana untuk kembali ke sana. Mungkin setelah lulus. Tapi kali ini, aku nggak berencana untuk pergi sendiri. 

Nanti, saat itu tiba, boleh nggak kalau aku mengajakmu? 

Aku bakal berusaha keras supaya bisa mewujudkannya…


Kenzo benar-benar sudah gila. Sungguh. Di balik wajah polosnya itu, bukannya dia terlalu pandai menggoda? 

Tapi, aku sangat menyukainya. Aku tak bisa menahan senyum lebarku saat membaca ulang isi pesannya, lagi dan lagi. Kalau aku tidak sedang berada di ruang kerja ayahku dan memonopoli komputernya, aku pasti sudah melonjak kegirangan.

Wah, aku benar-benar bisa gila dibuatnya. Kalau dia terus bersikap begini ke depannya, apa aku bakal bisa menghadapinya? 

Aku buru-buru mengarahkan mouse untuk menulis balasan. Jemariku bersiap di atas keyboard. Tapi, aku tak bisa memikirkan apa pun. Setiap kali menulis satu kalimat, aku akan menghapusnya lagi, begitu terus sampai akhirnya aku meninggalkan badan email dalam kondisi kosong. Ternyata ini tak semudah yang kubayangkan. Aku membiarkan email itu masuk ke dalam draft dan membuka tab lainnya. 

Padahal, dulu aku bisa dengan mudah menulis surat pengakuan cinta untuk Kenzo. Tapi sekarang, untuk membalas pesannya saja aku harus mencari-cari referensi yang bagus di internet. Haruskah aku menulis gombalan? 

Payah.

Ah. Bagaimana ini?

Pada akhirnya aku hanya bisa mengirimkan satu paragraf yang isinya kelewat buruk dan repetitif. Berterima kasih soal pujiannya, berterima kasih soal bunga, berterima kasih soal hari yang indah… 

Lihat selengkapnya