“LIHAT itu. Mereka bahkan nggak berusaha menutupinya.”
Tawaku hampir pecah saat mendengar kalimat yang dilontarkan oleh Shaka. Dia menatapku dan Kenzo yang datang bersama dengan mata disipitkan, seakan dia baru saja melihat kuda bersayap atau kucing bertanduk menghampirinya. “Wah, aku nggak pernah mengira ini bakal terjadi.”
“Idiot sepertimu mana mungkin menyadarinya,” celetuk Hazel.
“Aku tahu mereka dekat, tapi nggak kuduga sedekat itu,” protesnya. “Kalian sengaja nggak memberitahuku, kan!”
“Soalnya kamu terlalu berisik.” Hazel menjejalkan mangkuk plastik berisi sayuran ke pelukannya. “Cuci sampai bersih sana.”
Hazel dan Shaka sudah memulai semester baru mereka minggu lalu, jadi mereka sudah mulai sibuk dengan kegiatan kampus. Sebetulnya aku masih punya sekitar seminggu lebih sampai perkuliahan dimulai, tapi karena Kenzo harus berangkat lebih awal untuk mengikuti rangkaian kegiatan orientasi mahasiswa baru, kami memutuskan berangkat ke Yogyakarta besok dan mengadakan pesta BBQ dadakan malam ini, di halaman belakang rumah Hazel.
Aku kedapatan tugas memotong buah-buahan untuk pencuci mulut, setelah itu aku mengikuti instruksi Hazel untuk meracik saus yang akan kami gunakan untuk membumbui daging. Shaka dan Kenzo sedang mencuci sayuran—bawang bombay, selada, jamur enoki, dan jagung manis.
Itu adalah malam yang sempurna. Tak ada kata lain yang lebih cocok untuk menjelaskan. Kami makan, mengobrol, membakar daging, makan lagi, tertawa, lalu bernyanyi, diiringi oleh permainan gitar Shaka.
Sudah hampir tengah malam ketika kami mulai beres-beres. Kenzo mengelap meja yang terkena cipratan saus dengan lap bersih, Shaka membuang sampah, sementara aku pergi mencuci peralatan masak dan peralatan makan. Hazel bersikeras membantu, tapi karena tak banyak yang bisa dia lakukan dengan kondisi tangannya, aku menyuruhnya memindahkan cucian bersih ke lemari.
“Jam berapa kalian berangkat besok?” tanya Hazel.
Aku mengelap tanganku dengan tisu di atas meja sambil berusaha mengingat-ingat. “Kurasa jam setengah sebelas.”
“Baik-baiklah, kalian berdua,” katanya. “Senang rasanya bisa melihat hubungan kalian berjalan lancar.”
“Gimana denganmu?” celetukku.
Hazel mengernyit. “Gimana denganku?”
“Soal Shaka.”
“Ada apa dengan dia?”
Aku memutar bola mataku. “Jangan pura-pura nggak tahu, deh.”
Hazel tertawa. Lalu, dia menarik napas panjang. “Aku nggak punya kepercayaan diri sebesar itu,” katanya, dengan keseriusan yang membuat keningku berkerut.
“Kenapa?”
“Kamu tahu sendiri, kan, aku dan Shaka sama-sama punya ego yang tinggi?” kata Hazel. “Kalau memulai sekarang, kemungkinan besar kami hanya akan berakhir putus dan menjadi orang asing. Dan itu bukan sesuatu yang kuharapkan.”
“Dia menyayangimu.”
“Aku juga,” kata Hazel. Dia tersenyum. “Kalau pun sesuatu bakal terjadi nantinya, kesempatan itu masih berada jauh di masa depan sana. Takdir itu nggak akan tertukar dengan milik orang lain.”