PROLOG—Mereka yang Kembali

Ballroom hotel itu belum benar-benar tidur ketika jam di pergelangan tangan Felysha menunjukkan pukul sebelas malam, memacarkan pendar cahaya keemasan yang redup di tengah kesunyian.
Di atas panggung, beberapa pekerja masih sibuk merapikan rangkaian bunga. Lampu-lampu kecil yang mengelilingi backdrop sesekali berkedip ketika salah seorang teknisi memeriksa kabelnya. Meja-meja bundar telah tertata rapi, lengkap dengan kartu nama dan peralatan makan yang akan digunakan untuk acara besok.
Felysha berdiri di tengah ballroom dengan sebuah map di tangan. Sudah hampir tiga jam ia berkeliling dari satu meja ke meja lain, memastikan tidak ada satu pun detail yang terlewat.
“Yang ini jangan di situ.”
Seorang pekerja yang sedang membawa rangkaian bunga menoleh. “Yang mana, Bu?”
“Bunga meja keluarga pengantin. Tolong pindahkan ke kiri sedikit, ya.”
Pekerja itu menggeser vas sesuai arah petunjuk Felysha.
“Segini, Bu?”
“Sedikit lagi.”
“Ini?”
Felysha memiringkan kepala, memperhatikan dari beberapa langkah jauhnya. “Ya. Nah, itu.”
Pekerja tersebut menghela napas lega.
Felysha kembali menunduk memeriksa daftar di tangannya. Satu per satu ia beri tanda setelah memastikan semuanya sesuai. Besok adalah hari pernikahan Anna. Dan Felysha ingin semunya sempurna. Bukan karena dia seorang profesional perhotelan yang kebetulan ikut mengurus acara. Bukan pula karena ballroom tempat mereka berdiri merupakan bagian dari hotel tempatnya bekerja. Tapi hotel itu milik suaminya. Marvin.
Dan untuk pernikahan sahabatnya, Felysha telah mengatur hampir seluruh kebutuhan acara melalui kenalan-kenalan EO yang biasa bekerja sama dengannya. Harga yang diberikan pun jauh di bawah harga normal.
Harga sahabat.
Marvin bahkan sudah beberapa kali mengingatkan bahwa kalau semua orang mendapat harga sahabat seperti Anna, hotelnya bisa bangkrut.
Felysha tentu saja tidak peduli.
Anna hanya menikah sekali. Setidaknya, itulah yang selalu ia katakan.
“Are you still in here?” suara marvin terdengar dari belakang.
Felysha menoleh.
Marvin berdiri beberapa meter darinya. Kemeja yang dikenakannya sudah sedikit kusut, mungkin karena sejak sore ia masih mengurus pekerjaan di kantor. wajahnya terlihat lelah, tetapi senyum kecil tetap muncul ketika melihat istrinya masih sibuk bekerja.
“Yes, hubby,” jawab Felysha manja.
Marvin melirik jam di pergelangan tangannya. “Eleven PM.”
“Tomorrow is Anna’s wedding.”
“The one getting married is Anna, not you.”
Felysha mengangkat wajahnya dari mapnya. “That’s why I have to make sure everything is done.”
Marvin tertawa pelan.
“You know, right, that if someone else got married here, all your requests would be accepted additional bill?” ujar Marvin.
“If it’s someone else, it’s up to you.”
“What about friends?”
“Friendship price.”
“How much is the cost?”
Felysha tersenyum lebar. “Secret.”
Marvin menggeleng. “One day you’ll really bankrupt my hotel.”
“Your hotel is my hotel too.”
“Why is it your hotel?”
“Because I’m your wife. You’re the owner and I’m owner’s wife.”