#1—ALARM DI MALAM HARI

Felysha tidak pernah menyangka bahwa malam itu ia akan menangis di sebuah parkiran hotel sambil lupa di mana ia memarkin mobil.
Semuanya bermula beberapa puluh menit sebelumnya.
Ia datang ke hotel itu seorang diri dengan mobil milik teman sekantornya. Ia bahkan tidak sempat meminta izin dengan baik ketika meminjamnya. “Pakai sebentar ya, aku ada urusan.”
Urusannya sederhana. Ia hanya ingin memastikan sesuatu yang sejak beberapa hari terakhri membuat pikirannya tidak tenang. Dan sekarang ia sudah tahu jawabannya. Pacarnya memang berbohong.
Felysha baru saja memergoki laki-laki yang selama ini berkali-kali ia beri kesempatan, sedang menginap di hotel bersama perempuan lain. Bukan lagi dugaan. Bukan lagi firasat. Ia melihatnya dengan mata kepalanya sendiri.
Felysha berjalan cepat meninggalkan lobi hotel. Air matanya sudah tidak bisa ditahan sejak keluar dari kamar itu. Dadanya terasa sesak. Tangannya masih gemetar. Ia ingin pulang secepat mungkin dari situ.
Begitu sampai di lift, ia menekan tombol menuju basement. Namun ketika pintu lift terbuka dan ia melangkah keluar, Felysha berhenti. Ia melihat deretan mobil di depannya.
Lalu ke kanan. Kemudian ke kiri.
Wajahnya perlahan berubah bingung. “Mobilnya yang mana?”
Ia memejamkan mata. Coba mengingat. Ia bahkan lupa nomor plat mobilnya.
“Oh, my God…” Felysha mengusap wajahnya.
Tadi dia memarkir di lantai ini atau mungkin lantai sebelah?
Lalu gadis itu mengambil remote mobil dari sakunya.
Ditekan. Tidak ada suara.
Dia menekan lagi. Tetap masih tidak ada.
“Mana sih?” Felysha berjalan menyusuri deretan mobil sambil menekan tombol remote berkali-kali—tidak ada satu pun yang berbunyi. Air matanya kembali jatuh. “Kenapa semuanya hari ini bikin susah, sih? Sial banget.”
Ia berjalan semakin cepat. Menekan remote lagi—tetap tidak ada.
Felysha berhenti. Menatap puluhan mobil yang terparkir di hadapannya. Ia benar-benar tidak tahu mobil yang dicarinya berada di mana. Dan karena pikirannya sudah terlalu kacau, rasa frustasi yang sejak tadi ia tahan akhirnya meledak.
“AH!”
Felysha menendang ban mobil yang berada tepat di sampingnya.
BUK!
“Bangsat.”
Ia menendangnya lagi.
“Bangsat banget.”
BUK!
Air matanya mengalir deras. “Cowok kurang ajar! Kenapa aku sebodoh itu sih percaya terus sama dia?! Sakit kali rasanya.”
Felysha bahkan tidak peduli mobil siapa yang sedang ditendangnya. Yang penting ada sesuatu yang bisa menjadi sasaran kemarahannya. Namun baru saja ia hendak menendang untuk ketiga kalinya—
Tiit! Tiiit! Tiiit!