#2—EMPAT BANGKU
Hari pertama masuk SMA seharusnya menjadi hari yang menyenangkan. Setidaknya, begitulah kata orang-orang. Bagi Felysha, hari itu justru menjadi ujian kecil tentang siapa yang akan berusaha lebih dulu. Ia sudah duduk di bangkunya sejak beberapa menit sebelum bel masuk berbunyi. Tas diletakkan di atas meja, kedua tangannya terlipat di depan dada, sementara matanya sesekali mengamati murid-murid baru yang sibuk mencari teman.
Suasana kelas begitu ramai. Ada yang sudah tertawa bersama meskipun baru berkenalan beberapa menit. Ada yang sibuk bertukar nomor telepon. Ada pula yang langsung membentuk kelompok kecil berdasarkan sekolah asal mereka.
Felysha hanya duduk diam.
Seorang guru yang baru saja masuk bahkan meminta seluruh murid untuk berdiri dan saling berkenalan. Sedangkan Felysha tetap di tempat. Bukan karena malu. Bukan karena tidak ingin punya teman. Hanya saja ada sesuatu dalam dirinya yang selalu membuatnya ragu untuk menjadi orang pertama yang menghampiri. Ia takut ditolak. Takut dianggap sok kenal, takut ternyata orang yang diajak berteman tidak menyukainya.
Felysha hanya memainkan ujung pulpen di antara jari-jarinya.
‘Kalau mereka mau berteman sama aku, ya mereka datang sendiri’. itulah pikirannya.
Dan ia cukup puas dengan keputusan itu sampai dua orang gadis berhenti di samping mejanya.
“Felysha!”
Ia mendongak.
Keduanya tersenyum lebar. “Kamu Felysha, kan? Kita dulu satu SMP.”
Felysha mengingat-ingat wajah mereka. “Oh…iya.”
Mereka kemudian memperkenalkan diri dan mulai mengobrol.
Felysha akhirnya memiliki teman tanpa harus meninggalkan kursinya. Ia merasa prinsipnya berhasil. Sementara di bangku tepat di depannya, seorang gadis lain duduk sendirian. Namanya Anna.
Sejak guru meminta mereka saling berkenalan, Anna sebenarnya sudah beberapa kali memperhatikan murid-murid lain yang bergerombol. Tidak ada satu pun yang menghampirinya. Namun ia terlalu gengsi untuk berdiri dan mencari teman sendiri. Jadi dia memilih diam. Sama seperti Felysha.
Ketika Felysha sedang berbicara dengan dua teman SMP-nya, salah satu dari mereka menunjuk Anna. “Dia sendirian.”
Felysha melirik ke depan.
Anna pura-pura tidak mendengar.
“Kenalan sana,” bisik temannya pada Felysha.
Felysha mengerutkan hidung. “Kenapa aku?”
“Ya udah, kalau gak mau.”
Mereka kembali mengobrol.
Beberapa detik kemudian, Anna akhirnya menoleh. Tatapan mereka bertemu. Keduanya sama-sama diam. Anna mengangguk kecil. Felysna membalas anggukan itu. Selesai.
Begitulah perkenalan pertama mereka. Tidak ada percakapan panjang ataupun kesan istimewa yang kelak akan menjadi salah satu persahabatan terpanjang dalam hidup mereka.
Beberapa minggu kemudian, Felysha menemukan sesuatu yang jauh lebih menarik daripada sekedar mencari teman. Dance. Sejak kecil ia memang suka menari. Ia bisa menghabiskan waktu berjam-jam mengikuti gerakan dari video musik, mengulang bagian yang sama sampai tubuhnya hafal. Masalahnya hanya satu. Ia tidak pernah merasa cukup bagus.
Hari itu, selebaran pendaftaran cheerleaders ditempel di papan pengumuman sekolah. Felysha berhenti di depannya. Matanya membaca tulisan itu berulang kali.
OPEN RECRUITMENT–CHEERLEADERS.
Dia ingin ikut. Sangat ingin. Namun semakin lama ia melihat kelompok perempuan yang sedang berlatih di lapangan, semakin kecil nyalinya.
Mereka tinggi.
Cantik.
Tubuh mereka ramping dan proporsional.
Rambut mereka tertata.
Beberapa bahkan terlihat seperti selebriti kecil di sekolah.
Felysha menunduk melihat dirinya sendiri. seragam biasa, sepatu sekolah, rambut yang hanya diikat seadanya. ‘Kayaknya aku nggak cocok.’
Lalu ia berbalik hendak pergi.
“Kau mau ikut?”
Felysha menoleh.
Anna berdiri di belakangnya.
“Enggak.”
“Kenapa?” tanya Anna heran.
“Lihat mereka, tuh.”
Anna melirik ke lapangan. “Terus?”
“Ya.. mereka cantik-cantik.”
Anna mengangkat alis. “Terus?”
Felysha menghela napas. “Aku gak level mereka.”
Anna menatapnya beberapa detik. Kemudian mengambil pulpen dari saku seragamnya.