When Fate Brought Us Together

Raffa Akbar
Chapter #1

Bab 1 - Mimpi Buruk

Ada masa ketika cinta belum kehilangan kelembutannya. Ketika segalanya masih terasa mungkin, sebelum hidup mulai menuntut harga dari setiap pilihan.


Bagaimana jika hidup yang kamu jalani sekarang adalah harga dari sebuah keyakinan, bahwa takdir yang mempertemukan dua tangan juga yang kelak melepaskannya?


Mungkin kamu percaya, dengan sedikit perjuangan, takdirmu akan berubah.


Namun kenyataannya, tidak semua hidup diciptakan untuk dimenangkan. Beberapa hanya menuntut untuk dipahami. Sebagian lagi, untuk direlakan. Dan tak seorang pun benar-benar tahu mana yang harus diperjuangkan, sebelum tiba di akhir.



"Kira-kira, ibu masak apa ya di rumah?"

gumam seorang gadis kecil, dipenuhi rasa tak sabar untuk segera pulang.


Sekolah dasar negeri itu berdiri sederhana. Cat dindingnya memudar dimakan waktu, namun di dalamnya hidup oleh suara anak-anak. Tawa-tawa kecil berloncatan, langkah kaki berkejaran, panggilan saling bersahut tanpa tujuan. Segalanya terasa akrab seperti hari-hari yang lain.


Di luar gerbang, jalanan Jakarta bergerak perlahan. Mobil-mobil jadul melintas tanpa tergesa, sementara metromini usang menggeram sebentar sebelum kembali melaju. Klakson sesekali terdengar, namun tidak benar-benar mengganggu. Tak ada yang tampak ganjil hari itu. Tak satu pun menyangka, bahwa di antara riuh yang biasa saja, takdir diam-diam sedang menyiapkan kejutannya.


Bel sekolah berbunyi.


Suara nyaring itu memecah sisa konsentrasi di dalam kelas. Kursi-kursi kayu berderit ketika anak-anak berdiri hampir bersamaan. Seorang wali kelas melangkah ke depan, mengatupkan kedua tangannya.


"Anak-anak," ucapnya.


"Ya, Bu." Jawab murid-murid serempak, sebagian sudah tak sabar.


"Pelajaran hari ini sampai di sini. Kalian boleh pulang," lanjutnya, disusul senyum tipis. "Sebelum pulang, alangkah baiknya kita berdoa dulu."


Semua anak menundukkan kepala, doa-doa lirih mengisi ruang kelas. Saat doa usai dan bangku-bangku mulai berderak, perhatian perlahan tertuju ke sudut dekat jendela. Di sana, seorang anak perempuan berambut pendek bernama Anaya tengah merapikan bukunya. Ia memasukkan satu per satu ke dalam tas berwarna merah muda yang sudah agak kusam. Gerakannya tidak tergesa, seolah ia tak punya alasan untuk buru-buru.


Di depan pintu kelas, anak-anak berbaris singkat, bersalaman dengan wali kelas mereka. Satu per satu mendapat ucapan yang sama.


"Hati-hati di jalan, ya."


Ketika gilirannya tiba, ia mengulurkan tangan kecilnya. Wali kelas menatapnya sebentar, lalu tersenyum. Senyum yang sopan, tapi berhenti di situ. Tidak ada kalimat tambahan. Tidak ada pesan pulang dengan hati-hati. Dan ia hanya bisa tersenyum seusai bersalaman.


Di luar gerbang sekolah, suasana terasa lebih riuh. Beberapa orang tua berdiri sambil mengipas-ngipas wajah, sebagian lain sudah menggandeng anak mereka pulang lebih dulu. Anaya menatap sekilas ke sekeliling. Satu per satu temannya pergi. Ada yang berlari kecil ke arah ibunya, ada yang langsung naik ke motor ayahnya. Tawa mereka memudar seiring jarak. Dan Anaya masih berdiri di tempat yang sama.


Lima menit berlalu.


Anaya melirik ke ujung jalan, berharap melihat sosok yang dikenalnya. Tidak ada.


Sepuluh menit.


Ia menggenggam tali tasnya lebih erat.

Kenapa ibu belum datang, ya? Apa ibu lupa lagi? Pikiran itu muncul begitu saja.


Ia mencoba menepisnya, meyakinkan diri bahwa ibunya pasti sebentar lagi tiba.

Namun halaman sekolah perlahan sepi. Suara riuh mereda, penjual jajanan mulai membereskan dagangan. Matahari terasa semakin dekat di kepala kecilnya. Anaya menelan ludah. Ia kembali menoleh ke jalan. Tetap kosong. Akhirnya, ia melangkah menjauh dari gerbang.


Anaya memutuskan pulang sendiri, berjalan kaki. Membiarkan panas matahari menyentuh kulit lengannya. Ia tidak mengeluh. Tidak menangis. Anak seusianya jarang tahu bagaimana cara mengeluh dengan benar. Namun di dalam hatinya, ada sesuatu yang terasa mengendap. Bukan marah. Lebih seperti kecewa yang belum punya nama.


Ibu sebenarnya sayang aku nggak sih?

Pertanyaan itu datang diam-diam, lalu menetap.


Anaya berjalan terus, menyusuri jalan yang sudah dikenalnya sejak lama. Tapi bahkan di dunia yang sederhana, seorang anak tetap bisa merasa sendirian. Cukup lama untuknya sampai di perumahan tempat tinggalnya. Namun belum jauh ia melangkah, banyak tatapan mengarah padanya.


Seorang tetangga yang berdiri di depan rumahnya berhenti menyapu, menoleh, lalu menatapnya dengan sorot yang tidak ramah. Beberapa anak yang sedang bermain kelereng di pinggir jalan pun mendadak ditarik oleh ibu mereka.


"Ayo masuk." suara itu terdengar pelan namun cukup didengarnya.


Lihat selengkapnya