When Fate Brought Us Together

Raffa Akbar
Chapter #2

Bab 2 - Adik Anaya

Jakarta, 2009


Pagi itu matahari baru saja menembus jendela kamar Anaya. Suara burung dan hiruk-pikuk orang-orang samar terdengar, tapi di dalam kamar, hening menyelimuti.


"Anaya, sudah bangun, Nak?" suara nenek Yanti terdengar dari luar pintu.


"Sudah, Nek," jawab Anaya pelan, suaranya nyaris tersangkut di tenggorokan.


Beberapa menit telah berlalu. Anaya masih duduk di ranjang sambil menatap dinding. Tangannya sibuk mengacak rambutnya yang kusut. Nenek Yanti, yang menunggu di bawah, mulai merasa cemas. Perlahan ia naik ke kamar.


"Sayang, kamu nggak apa-apa, kan? Ayo keluar, jangan cuma duduk di kamar. Nenek khawatir ... kamu telat kuliah," kata nenek sambil mengetuk pintu. Anaya hanya menunduk. Keheningan itu membuat neneknya semakin khawatir.


"Kalau begitu, Nenek tunggu di bawah, ya. Jangan lama-lama, ya?" Nenek menambahkan sebelum turun kembali.


Anaya menghela napas panjang. Matanya menoleh ke jam weker di samping ranjang. Menunjukkan waktu sudah hampir habis. Dengan langkah gontai, ia berdiri di depan cermin. Wajahnya terlihat pucat dengan lingkar mata menghitam. Ia menepuk pipinya perlahan, lalu lebih keras, seakan ingin mengusir bayangan yang masih melekat.


"Fokus Nay, fokus," gumamnya lirih. "Itu cuma mimpi. Jangan biarin mimpi itu nguasain kamu lagi."


Ia menatap dalam ke matanya sendiri. Ada getar samar, seperti ingin menangis tapi ditahan paksa. Bibirnya bergetar kecil, lalu ia menarik napas panjang lagi, mencoba menguatkan diri.


"Kalau kamu terus kayak gini, gimana kuliahnya nanti? Jangan bodoh, Nay. Kamu harus kuat. Demi Nenek, demi Aldo, demi dirimu sendiri."


Setelah beberapa detik, ia memejamkan mata, membiarkan hening sejenak. Saat membukanya kembali, ada ketegasan tipis di tatapannya. Tanpa menunda lagi, ia segera bangkit menuju kamar mandi untuk bersiap.


***


Di dapur, aroma roti panggang dan susu hangat memenuhi udara. Nenek Yanti berdiri di depan meja, tangannya cekatan menyajikan piring di atas meja.


"Nak, bantu Nenek siapkan bekal Aldo, ya," pintanya lembut, tanpa menoleh.


Anaya mendengus pelan. "Harus, Nek? Aldo kan biasanya nggak mau bawa bekal," katanya sambil mengerling malas.


Nenek Yanti tersenyum hangat. "Nenek tahu, tapi Nenek nggak mau kalian kelaparan. Selama Nenek masih ada, kalian nggak akan kekurangan apa pun."


Saat itu juga, langkah kaki terdengar dari arah tangga. Aldo turun perlahan, mengenakan seragam SMA yang rapi, dasi terikat sempurna, dan jam tangan hitam melingkar di pergelangan tangannya yang putih.


"Bagus, Aldo. Makan dulu. Nenek sudah buatkan sarapan untukmu," nenek menyodorkan sepiring nasi uduk dengan lauk tempe goreng dan sambal.


Aldo mengangkat alis. "Wah ... banyak banget, Nek. Kalau kebanyakan takutnya mulas di jalan."


Nenek mengerutkan dahi, tapi senyum masih tersisa di wajahnya. "Justru kamu harus makan banyak. Belajar itu butuh energi. Nenek cuma mau kamu kenyang."


Aldo tersenyum canggung. "Tapi bekalnya nggak usah dibawa ya, Nek?"


"Ya udah deh. Tapi sarapannya tetap dimakan, ya?" jawab nenek sambil menepuk bahunya.


Setelah sarapan, Anaya bergegas mengambil tasnya. Tanpa aba-aba, ia menghampiri Aldo yang hendak menyalakan sepeda motor.


"Tunggu, Aldo! Aku nebeng!" teriaknya.


Wajah Aldo berubah setengah geli, setengah kesal. "Wah, ada yang nebeng nih."


"Ah, apaan sih, kayak nggak senang aja," balas Anaya ketus.


"Gak tahu tapi tiap kali bawa kamu, rasanya malas aja," Aldo mengejek sambil menahan senyum.


Anaya kesal, menepuk kepala adiknya. "Aduh, sakit!"


"Hush, jangan berantem mulu. Kalian ini udah gede, malu ah," nenek tiba-tiba bersuara, membuat keduanya menoleh.


"Assalamualaikum, Nek. Kita berangkat dulu," kata mereka kompak.


"Waalaikumussalam," nenek Yanti menjawab sambil tersenyum hangat.


Di halaman, Aldo mencoba menurunkan sepeda motor, tapi Anaya berdiri di belakangnya, membuatnya kesulitan.


"Cepetan, Do! Mundurin motornya lama banget," seru Anaya.

Lihat selengkapnya