Perpustakaan kampus siang itu tidak terlalu ramai. Beberapa mahasiswa duduk terpencar, tenggelam dalam dunia masing-masing. Di salah satu meja dekat rak referensi, Anaya duduk dengan punggung sedikit membungkuk, dikelilingi tumpukan buku dan kertas.
Makalahnya hampir selesai. Buku-buku tebal terbuka dengan lipatan kertas kecil sebagai penanda halaman. Coretan pulpen memenuhi lembar catatan, sebagian sudah dicoret, sebagian lain ditandai garis bawah.
Tangannya bergerak cepat, sesekali berhenti hanya untuk membaca ulang satu paragraf sebelum menulis kembali. Wajahnya tenang, fokus, bukan tipe yang mudah bosan ketika belajar. Ia justru tenggelam.
Getaran kecil dari telepon di samping buku tulisnya membuat Anaya mengalihkan pandangan. Sebuah telepon sederhana merk Nokia. Ia meraihnya dan membaca pesan masuk. Nomor tak tersimpan, tapi ia langsung tahu siapa pengirimnya.
Halo Anaya. Ini saya orang tua Salma. Saya mau tanya, nanti kamu ada waktu untuk ngajarin Salma lagi? Kalau ada, kamu bisa langsung ke rumah saja. Tapi tidak apa-apa kalau kamu berhalangan.
Anaya membaca pesan itu dua kali. Jemarinya menggantung sebentar di atas tombol, lalu mengetik balasan singkat seperlunya.
Bisa, Bu. Nanti saya datang.
Ia menekan kirim, lalu segera menaruh teleponnya. Tak ada balasan lagi, dan Anaya memang tidak menunggu. Pulsa bukan sesuatu yang bisa dihamburkan untuk percakapan panjang. Dan untungnya setelah ini, ia tidak ada kelas lagi.
Ia kembali menunduk ke makalahnya.
Beberapa menit kemudian, halaman terakhir ia baca ulang dengan saksama. Setelah yakin tak ada yang terlewat, Anaya menyusun kertas-kertas itu rapi, memasukkannya ke map plastik tipis, lalu berdiri. Makalah itu ia serahkan ke meja pengumpulan. Selesai.
Keluar dari gedung perpustakaan, cahaya matahari langsung menyambutnya. Udara Jakarta terasa hangat, bercampur debu dan suara kendaraan dari kejauhan. Anaya menuruni anak tangga kampus, melewati gerbang, lalu berhenti sejenak di pinggir jalan.
Ia menyesuaikan tali tas selempangnya, menoleh ke kiri dan kanan, menunggu angkot yang melintas. Hari sudah menjelang siang. Masih ada satu peran lagi yang harus ia jalani hari itu, bukan sebagai mahasiswi, melainkan sebagai guru les privat yang diam-diam ia lakoni demi tambahan uang.
Angkot akhirnya berhenti di depannya. Anaya naik, duduk di dekat jendela, dan kendaraan itu kembali melaju, membawa Anaya menuju rumah Salma, menuju rutinitas lain yang hanya ia simpan sendiri.
***
Angkot berhenti tepat di depan sebuah rumah berpagar hitam. Rumah itu tak mencolok. Cat krem bersih, halaman kecil dengan pot-pot tanaman tertata rapi, cukup untuk menunjukkan kehidupan keluarga menengah yang terjaga dan sederhana. Anaya turun, merapikan tas selempangnya, lalu melangkah mendekat untuk menekan bel. Belum sempat ia menekan, pintu sudah terbuka.
"Kak Anaya!" Seorang gadis berambut panjang berlari kecil ke arahnya lalu membuka pagar. Wajahnya cerah seolah tak sabar menunggu.
Anaya tersenyum spontan. Ia menepuk ringan pundak gadis itu. "Salma, apa kabar?"
"Baik, Kak," jawab Salma cepat, nyaris tanpa jeda.
Dari dalam rumah, seorang perempuan paruh baya menyusul ke ambang pintu. Wajahnya ramah, sorot matanya teduh dan hangat. Anaya refleks menunduk, meraih tangan perempuan itu dan menempelkannya ke keningnya.
"Masuk Nak. Jangan sungkan."
"Terima kasih Bu."
Ruang tamu itu cukup luas. Sofa cokelat muda tersusun rapi, meja kayu di tengah sudah dipenuhi buku tulis, buku paket matematika SMP, dan alat tulis, semuanya tertata seolah Salma telah menunggu sejak tadi.
Anaya kembali menoleh ke Salma. "PR yang kakak kasih kemarin sudah dikerjain?"
"Sudah dong, Kak," jawab Salma dengan nada bangga.
Anaya mengangkat alis. "Gampang, kan?"
Salma terkekeh, menggaruk belakang kepalanya. "Lumayan sih, Kak. Tapi aku kerjain pelan-pelan."
Anaya duduk di samping Salma, meletakkan tasnya di kursi kosong. Tanpa diminta, Salma langsung menarik buku ke arahnya.
"Kak, ini PR-nya."
Anaya membuka halaman demi halaman buku Salma, matanya bergerak pelan, teliti mengikuti setiap langkah pengerjaan. Soal pertama sederhana, tentang mencari satu nilai yang tersembunyi di balik persamaan. Salma menguraikannya dengan runtut, memindahkan angka ke sisi yang tepat, lalu menyederhanakannya sampai tersisa satu jawaban pasti.
Langkahnya rapi. Tidak ada yang terlewat. Anaya melanjutkan ke soal berikutnya. Tingkatannya sedikit naik. Angka dan variabel saling berhadapan, menuntut ketelitian lebih.
Salma menuliskan prosesnya panjang, hampir memenuhi dua halaman, tapi semuanya jelas. Tidak melompat, tidak asal. Soal ketiga, keempat, hingga kelima pun sama. Perlahan, tapi yakin.
Anaya tersenyum tanpa sadar. "Semuanya benar, Salma."
Salma menoleh cepat, matanya membesar. "Serius, Kak?"
"Iya." Anaya menutup bukunya pelan.
Wajah Salma langsung berbinar, senyumnya melebar penuh kebanggaan. Tak lama kemudian, seorang pembantu datang membawa nampan berisi teh hangat dan sepiring kue. Ibu Salma duduk di sofa seberang, memperhatikan dengan tenang sambil menyeruput teh. Tak ikut campur, hanya memerhatikan.
Anaya mengambil pulpen. "Sekarang kakak kasih soal baru."
Ia menuliskan satu persamaan sederhana, lalu menggeser buku itu ke arah Salma.
Salma mengangguk mantap dan mulai menulis. Namun sebelum benar-benar tenggelam dalam hitungan, suara ibu Salma menyela dengan lembut.
"Anaya ... terima kasih, ya. Sejak kamu ngajarin Salma, nilai matematikanya naik banyak. Dia juga sekarang lebih cepat paham kalau ketemu angka."
Anaya tersenyum, sedikit menunduk. "Salma memang pintar, Bu. Dia niat belajarnya tinggi. Saya cuma bantu sedikit saja."