When Fate Brought Us Together

Raffa Akbar
Chapter #4

Bab 4 - Utang Nenek

"Apes banget hari ini." Anaya meraba lututnya yang lecet, perutnya keroncongan, sementara dompetnya sudah kosong. Napasnya terengah, langkah kakinya makin berat.


"Ya Allah, cepat dong sampai rumah ... aku udah nggak tahan lagi. Pegal banget ini." Gumamnya pelan.


Tangannya terangkat, mengacak rambutnya sendiri. Gerakan resah itu justru menarik perhatian orang-orang di sekitarnya. Anaya pura-pura tak peduli. Ia menegakkan bahu, memasang wajah datar seperti topeng, lalu melangkah masuk ke kawasan perumahan dengan langkah kaku.


Sebenarnya ada dua jalan menuju rumah. Satu lebih dekat, melewati pangkalan angkot. Yang satunya memutar sedikit lebih jauh, jalur yang biasanya ia pilih demi menghindari tatapan dan lidah tetangga. Namun hari ini tubuhnya menolak berkompromi. Jalan dekat terpaksa ia ambil, meski itu berarti bersiap menghadapi bisik-bisik yang sudah menunggu. Dan benar saja.


Baru beberapa langkah, ia sudah menjadi tontonan. Beberapa pasang mata memandangnya dengan tatap sinis, seolah kehadirannya mencemari udara. Di depan sebuah kos putri, sekumpulan ibu muda yang semula larut dalam obrolan mereka tiba-tiba mengubah arah pembicaraan, suara mereka merendah namun cukup tajam untuk terasa.


"Bukannya itu Anaya, ya? Yang ibunya-" Tanya seorang wanita berambut ikal, sengaja meninggikan suara.


"Yang gantung diri itu, kan?" potong temannya cepat. Bibirnya melengkung tipis, matanya tajam tanpa sisa iba.


"Iya."


"Kenapa orang kayak gitu nggak pernah diusir sih dari sini?" wanita lainnya mendecak pelan.


"Diusir juga percuma. Ibunya selalu teriak paling terzalimi. Ngerasa paling benar sendiri." potong si berambut pendek cepat.


Ia menyipitkan mata, menatap Anaya dari ujung kepala sampai kaki. "Biasanya juga dia nggak pernah lewat sini. Dia nggak malu apa?"


"Malu? Orang kayak gitu mana punya malu." Temannya yang lain terkekeh pelan.


Tawa kecil menyusul.


"Kenapa sih, nggak sekalian nyusul ibunya aja? Bapaknya juga udah mati, kan?" seseorang berujar enteng,


Kata-kata itu meluncur begitu saja, ringan, seolah nyawa orang lain tak lebih dari bahan obrolan.


"Ih, jijik." sahut wanita berambut ikal sambil memalingkan wajah.


Tawa mereka meledak. Keras dan nyaring. Bahkan lebih bising daripada deru motor yang melintas di jalan.


Anaya menunduk. Bukan karena kalah, melainkan karena lelah. Ia sudah hafal pemandangan itu, terlalu sering berdiri di posisi yang sama. Namun langkahnya sempat terhenti.


Perlahan, ia menoleh. Pandangannya bertemu dengan wajah-wajah yang sejak tadi menjadikannya bahan olok-olok. Tak ada amarah di sana, hanya tatapan kosong yang kelelahan.


Salah satu dari mereka menyeringai seolah sengaja menantangnya.


"Apa lo lihat-lihat? Mau ngajak ribut, lo?" ucapnya ketus.


Anaya tak menjawab. Ia memalingkan wajah, lalu melangkah pergi. Dadanya bergetar, tapi kakinya tetap membawa tubuhnya menjauh. Ia berjalan lurus tanpa menoleh lagi, membiarkan kata-kata itu tertinggal, hanyut seperti angin lalu.


Saat akhirnya tiba di rumah, ia segera membuka pintu. Gerakannya terlalu cepat dan tanpa sengaja, daun pintu itu menghantam wajah adiknya.


"Aduh!" Aldo meringis, buru-buru mengusap hidungnya.


"Eh? Maaf. Aku nggak lihat kamu di belakang pintu." Anaya panik mendekat.


"Lain kali hati-hati, dong. Sakit tahu."


"Iya, maaf, Do. Sumpah nggak sengaja."


Aldo menyipitkan mata, wajahnya mendekat dengan senyum nakal. "Kak, ternyata kamu jelek juga, ya."


"Apaan sih? Kamu sendiri juga jelek. Sok-sokan ngatain orang."


"Eits ... kata siapa aku jelek? Nih, ganteng begini." Aldo merapikan rambutnya sok gaya.


"Ih, pede banget."


Anaya mendengus, memutar bola mata. Aldo justru terkekeh puas.


"Oh iya, Kak. Aku mau keluar bentar. Kamu bisa jaga rumah, kan?"


"Emang Nenek kemana?"


"Ke warung, ngambil duit dagang. Kayaknya sekalian ngobrol sama Mpok Idah, makanya belum balik."


"Ya udah, pergi sana."


"Lah? Ngusir nih?"


Anaya mendorong tubuh adiknya hingga terdorong keluar pagar, lalu menutupnya begitu saja tanpa menoleh.


Aldo berdiri terpaku di luar, menatap punggung kakaknya dengan wajah kebingungan. Ia menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal, mencoba memahami sikap Anaya yang mendadak aneh.


Tak lama berselang, ketukan keras menghantam pintu.


Tok! Tok! Tok!


Anaya membuka pintu perlahan. Seketika, wajahnya berubah. Terkejut.


"Bu Endang? Ada perlu apa Bu?"


"Oh, ternyata kamu. Nenekmu ada, Nak?"


"Nenek lagi keluar, Bu."


"Nenekmu keluar? Aduh, padahal saya mau ketemu sama beliau. Saya ada perlu dengannya."


"Maaf Bu, kalau boleh tahu ada urusan apa, ya?" tanya Anaya dengan sopan.


"Sebaiknya kita bicara di dalam saja." Lanjut Bu Endang.


Lihat selengkapnya