Anaya duduk termenung di bangku panjang di tepi jalan. Tatapannya kosong, terarah pada deretan pohon mangga yang berdiri rapi di hadapannya. Jari-jarinya bergerak resah, sesekali menepuk paha kanannya sambil menggoyang kaki, seolah ingin mengalihkan kegelisahan yang mengendap di dalam dada. Pandangannya kosong, lurus ke bawah, sampai suara riang seorang anak kecil memecah lamunannya.
"Bapak, Bapak! Katanya Bapak mau beliin aku mobil-mobilan?" seru bocah laki-laki yang merengek sambil menarik-narik lengan ayahnya.
Si bapak hanya tersenyum kaku, berusaha mengalihkan topik. "Nanti Bapak beliin, ya. Sekarang kita makan dulu aja. Nih, udah Bapak beliin ayam goreng."
Namun bocah itu menggeleng keras, air matanya mulai menetes.
"Nggak mau. Aku maunya mobil-mobilan! Bapak kan janji. Bapak nggak sayang sama aku!" teriaknya sebelum berlari meninggalkan sang ayah. Lelaki itu terburu-buru mengejar anaknya, meski langkahnya tak secepat si kecil.
Anaya tersenyum tipis melihat adegan itu. Ada rasa hangat yang menguar, namun diiringi getir. Ingatannya melayang pada masa kecil, ketika ia sendiri merengek pada ayahnya agar dibelikan boneka.
Bedanya, ayahnya selalu memenuhi permintaan itu tanpa menunda. Mungkin karena dulu keluarganya terbilang mampu, jadi ia tak pernah benar-benar tahu bagaimana lelahnya orang tua mencari nafkah.
"Ya Allah ... kalau orang tuaku masih ada, mungkin aku nggak perlu pusing mikirin makan tiap hari." bisiknya lirih.
Ucapan itu keluar begitu saja, dipicu oleh rasa rindu yang menyesak. Namun setelahnya, ia buru-buru memukul bibirnya sendiri.
"Astaghfirullah, Anaya. Kamu ngomong apa sih. Itu sama aja nggak menghargai nenek," gumamnya menyesali diri.
Ia menengadah, menatap langit. Awan putih bergerak perlahan, seolah menenangkan hatinya. Dan sejenak, ia mulai menyadari bahwa hidup memang tidak pernah mudah. Menyalahkan nasib tidak akan mengubah keadaan, justru hanya membuatnya semakin terpuruk.
"Lebih baik pulang. Kelamaan di luar malah bikin pikiranku tambah kacau." katanya pada diri sendiri.
Anaya beranjak, melangkah pulang dengan lesu. Setibanya di depan rumah, ia sempat mengucap salam.
"Assalamu—" ucapannya terhenti. Pertengkaran tadi terlintas lagi di kepalanya, membuat hatinya ciut. Ia mengurungkan niat masuk, lalu menimbang. Mungkin lebih baik ia pergi mencari pekerjaan saja, sekadar pelarian dari rumah yang terasa sumpek.
Ia masuk ke kamar, mengambil tas selempang kecil. Sebuah pulpen dan selembar kertas kosong ia selipkan ke dalamnya. Tak ada berkas penting, tak ada ijazah, hanya tekad yang terasa lebih berat dari apa pun yang ia bawa.
Ia melangkah keluar dengan hati-hati, nyaris tanpa suara, seolah tak ingin keberadaannya disadari siapa pun.
Namun dari tangga, Aldo sempat melihatnya. Ia terdiam, mematung sesaat. Banyak pertanyaan berkelebat di kepalanya. Ke mana kakaknya hendak pergi, dan untuk apa, namun ia memilih diam. Ada sesuatu pada langkah Anaya yang membuatnya merasa, urusan itu tak ingin diganggu.
Anaya melangkah lagi, menyusuri jalan yang sudah begitu dikenalnya. Beberapa meter ke depan, langkahnya melambat, lalu berhenti sama sekali. Di hadapannya berdiri rumah lamanya. Rumah yang dulu dipenuhi suara, tawa, dan pertengkaran yang kini terasa begitu jauh. Tempat ia pernah tinggal, saat orang tuanya masih ada dan dunia belum terasa seberat ini.
Bangunan dua lantai itu masih tegak, catnya mengelupas di beberapa sudut. Halamannya berantakan, daun-daun kering menumpuk di bawah pohon rambutan yang dulu selalu berbuah lebat.
Kini pohon itu tampak layu, ranting-rantingnya kurus, seolah ikut menua bersama waktu yang tak pernah memberi jeda. Meski telah lama dikosongkan, rumah itu masih terlihat layak dan terawat dalam diam. Ditinggalkan, namun tak pernah benar-benar dilepaskan.
Anaya berdiri di depan pagar besinya. Jemarinya menggenggam jeruji dingin, matanya menelusuri setiap sudut yang dulu begitu akrab.
Sepuluh tahun telah berlalu sejak ibunya pergi. Tapi rumah itu seakan menolak berubah, seakan menunggu sesuatu yang tak pernah kembali. Pandangan Anaya perlahan naik ke jendela lantai atas.
Sesaat, napasnya tertahan. Di balik kaca yang sedikit berdebu itu, bayangan seorang wanita berdiri. Rambutnya terurai sederhana, wajahnya terlalu dikenali untuk disangkal. Ibunya.
Anaya tahu itu tak mungkin nyata. Ia tahu pikirannya sedang mempermainkannya, menyusun ingatan, merangkai kerinduan menjadi bentuk yang nyaris menyerupai hidup. Namun dadanya tetap terasa sesak. Pandangannya tak sanggup berpaling.
Bayangan itu menatap ke arahnya, diam, tanpa senyum.
Lalu perlahan, seolah mengikuti alur kenangan, sosok itu menghilang dari jendela atas. Anaya menahan napas, matanya turun ke lantai satu. Ibunya kini berdiri di balik jendela bawah. Telapak tangannya menempel pada kaca, meninggalkan kesan samar, bukan bekas, hanya ilusi yang dibentuk oleh rindu Anaya sendiri.
Wajah itu kosong, matanya menyimpan kelelahan yang tak pernah sempat diceritakan. Ada kesedihan yang dalam, penderitaan yang tak terucap, seperti beban hidup yang berhenti tepat sebelum selesai dijalani.
Anaya menatapnya lama. Tak ada air mata. Tak ada senyum. Hanya diam yang berat.
Sosok ibunya tetap berdiri di sana, seakan jiwanya tertahan di rumah itu.
Rumah itu menyimpan terlalu banyak hal yang tak pernah sempat diucapkan, cinta yang terputus di tengah jalan, dan rindu yang dibiarkan menggantung tanpa jawaban. Bertahun-tahun telah berlalu, namun Anaya tahu, ia tak pernah benar-benar bisa mengabaikan rumah lamanya.
Anaya menarik napas dalam-dalam. Genggamannya pada pagar mengendur.
Ia tahu bayangan itu akan menghilang begitu ia berpaling. Dan benar saja, saat matanya berkedip, jendela itu kembali kosong. Hanya kaca buram dan pantulan dirinya sendiri yang tampak rapuh di sana.
Namun rasa sesak di dadanya tak ikut pergi.
Anaya menghembuskan napas panjang, lalu memalingkan wajahnya dari rumah itu. Terlalu lama berdiri di sana hanya akan membuatnya lupa alasan ia keluar hari ini.
Ia melangkah pergi.
***
Sore kian merambat, tetapi Anaya belum juga pulang. Ia keluar-masuk toko dan ruko, menawarkan diri untuk bekerja. Namun jawabannya selalu sama. "Maaf, pekerjaan ini untuk laki-laki." Atau,"Kami butuh yang lebih berpengalaman."
Lelah akhirnya menang. Anaya duduk di tangga sebuah ruko, punggungnya bersandar lemah. Napasnya tersengal, seolah seluruh dunia menekan pundaknya sekaligus.