When Fate Brought Us Together

Raffa Akbar
Chapter #6

Bab 6 - Kamu Kuat Anaya

Jarum jam di dinding ruang tamu terus berdetak, detik demi detik terdengar begitu jelas dalam kesunyian rumah malam itu. Ruang tamu kecil yang biasanya terasa hangat kini dipenuhi hawa gelisah. Lampu bohlam menggantung di langit-langit, menciptakan bayangan samar di dinding.


Nenek Yanti duduk di kursi kayu tua tapi masih sangat layak, kedua tangannya meremas ujung jarik yang menutupi lututnya. Tatapannya bolak-balik antara pintu dan jarum jam. Semakin lama, napasnya terdengar makin berat. Sudah hampir pukul sembilan malam, tapi Anaya belum juga pulang.


"Ya Allah ... ke mana lagi anak itu? Biasanya jam segini udah di rumah," gumam nenek dengan suara bergetar, lebih mirip doa daripada keluhan.


Aldo yang baru saja mencatat PR di meja belajarnya, mendengar suara lirih itu. Ia menoleh, lalu bangkit dan mendekat. Raut wajahnya menegang, menyadari keresahan neneknya. Duduk di samping, ia sempat ragu membuka mulut.


"Nek," suaranya pelan, nyaris seperti bisikan.


"Tadi sore aku sempat lihat Kak Anaya keluar. Dia bawa tas, tapi aku nggak sempat nanya. Kupikir ... ya, mungkin ada urusan kampus, atau ke rumah temannya."


Mata nenek langsung menoleh cepat, sorotnya tajam penuh kecemasan. Suaranya meninggi tanpa bisa ditahan.


"Aldo! Harusnya kamu bilang ke Nenek dari tadi. Kalau ada apa-apa sama Kakakmu, gimana? Malam-malam begini perempuan keluar sendirian, itu bahaya."


Aldo terdiam, menunduk dalam-dalam. Hatinya menciut, rasa bersalah menusuk dadanya. "Aku kira cuma sebentar, Nek. Aku ... maaf."


Nenek bangkit dari kursi, tubuh renta itu sedikit gemetar. Ia berjalan mondar-mandir di ruang tamu, sandal jepitnya menyeret lantai ubin yang dingin. Kedua tangannya saling menggenggam erat, lalu ia menengadah, bibirnya bergetar merapalkan doa.


"Ya Allah, jaga cucuku. Jangan sampai ada apa-apa." doa itu keluar berulang-ulang, seperti mantra yang menahan rasa takutnya.


Aldo melihat kegelisahan itu, dan hatinya tak tega. Rasa bersalah semakin menekan dadanya. Tanpa banyak pikir, ia berdiri, meraih jaket tipis yang tergantung di belakang pintu.


"Aku cari Kak Anaya, Nek. Aku tanya-tanya ke tetangga. Siapa tahu ada yang lihat." ucapnya cepat, nyaris tak memberi jeda.


Belum sempat Nenek Yanti melarangnya pergi, Aldo sudah berlari keluar rumah.


Udara malam langsung menyergap, dinginnya menusuk kulit. Jalanan terlihat lengang, hanya sesekali dilintasi motor yang melaju cepat, meninggalkan dengung panjang. Lampu-lampu jalan memancarkan cahaya temaram, menarik bayangan tubuh Aldo memanjang di atas aspal.


Napasnya memburu, tapi kakinya tak berhenti melangkah. Ia menyusuri gang demi gang dan menengok ke halaman rumah-rumah yang masih menyala lampunya.


Aldo mendekat saat melihat sekumpulan orang sedang duduk di warung kopi.


"Pak ... Bu ... maaf," sapanya setiap kali, suara remajanya terdengar cemas.


"Ada lihat Kak Anaya nggak? Sore tadi?"

Jawabannya hampir selalu sama.


Gelengan kepala. Tatapan bingung. Atau diam yang terasa lebih menyakitkan dari penolakan.


Ada yang bilang tidak tahu. Ada yang mengangkat bahu, lalu kembali masuk ke rumah. Bahkan ada yang hanya menatapnya kosong, seolah pertanyaannya lewat begitu saja. Setiap jawaban kosong itu menambah berat di dadanya. Langkah Aldo terasa makin lambat, bukan karena lelah, tapi karena takut. Takut pada kemungkinan yang tak berani ia pikirkan.


***


Sementara itu, di dalam rumah, nenek kembali duduk di kursi rotan. Air matanya menetes tanpa disadari. Tangannya menengadah tinggi-tinggi, doa tak berhenti meluncur dari bibirnya yang bergetar. Sesekali matanya melirik pintu, menanti bayangan cucunya muncul. Harapan dan rasa takut bertarung di wajah tuanya yang keriput.


Jarum jam kembali bergerak, melewati angka sembilan. Ruang tamu kian sunyi, suara detiknya semakin jelas seakan menertawakan kegelisahan yang menggantung. Lalu, suara kunci pintu terdengar, pelan namun begitu jelas.


"Assalamualaikum," suara Anaya masuk ke ruang tamu, serak, lelah.


Nenek tersentak, segera bangkit dengan langkah tergesa. "Anaya!" Ia langsung memeluk cucunya erat, seolah takut Anaya akan menghilang lagi.


"Ke mana saja kamu, Nak? Nenek khawatir sekali. Jangan bikin Nenek deg-degan begini." suaranya pecah, matanya berkaca-kaca.


Anaya terdiam dalam pelukan itu. Hatinya bergetar, rasa bersalah menghantam lebih keras daripada lelah di kakinya. Bibirnya hanya mampu berucap singkat.


Lihat selengkapnya