Hari pertama Anaya bekerja dimulai dengan ketukan jantung yang tak beraturan. Sore menjelang, langit sudah berwarna oranye saat ia berdiri di depan pintu kaca restoran itu. Tangannya sempat basah oleh keringat, meski angin sore sebenarnya tidak panas. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu mendorong pintu.
Aroma tumisan bawang putih dan kaldu ayam langsung menyeruak. Suara sendok beradu dengan piring, panggilan tamu, dan langkah para pelayan yang lalu-lalang menciptakan irama riuh yang asing, tapi justru memacu adrenalinnya. Baldi menyambut tak jauh dari pintu, dengan senyum khasnya yang hangat tapi tetap tegas.
"Selamat datang," sapanya ramah. "Anaya, kan?"
"Iya, saya Anaya."
Baldi mengangguk mantap. "Saya Baldi, manager di sini. Jadi kalau ada apa-apa, jangan ragu tanya ke saya. Semua urusan restoran ini saya yang pegang." Ia menambahkan dengan nada ringan.
Anaya mengangguk sopan. "Baik, Pak Baldi."
"Panggil Baldi aja, biar nggak kaku," ujarnya cepat-cepat, seolah tak suka jarak.
"Kebetulan bos kita, Mas Zain, jarang turun ke restoran. Biasanya dia sibuk di luar, urus banyak hal. Jadi sehari-hari, ya saya yang mimpin operasional di sini."
Anaya hanya bisa mendengarkan, berusaha menyimpan setiap informasi.
"Sekali lagi, selamat bergabung. Mulai hari ini kamu resmi jadi bagian dari keluarga Resto Sera."
"Sera?" Alis Anaya terangkat, terdengar bingung.
Baldi terkekeh kecil. "Iya, singkatan dari Senandung Rasa. Itu nama restoran ini."
Nada suaranya terdengar ringan, hampir bangga. Ia lalu menyerahkan sebuah apron hitam dan kemeja putih. Di dada kemeja itu tersemat bordiran logo SR, rapi dan sederhana. Tepat di bawahnya, dengan benang merah yang lebih tebal, tertera sebuah kalimat, Ada Cinta di Masakan.
Anaya menatap tulisan itu sejenak, lalu tanpa sadar menyentuhnya dengan ujung jarinya. Kata-katanya sederhana. Tidak berlebihan. Namun entah mengapa, dadanya terasa menghangat.
Baldi memperhatikan gerakan kecil itu. Ia tersenyum tipis, seolah tahu apa yang sedang Anaya pikirkan.
"Kalimat itu bukan cuma hiasan. Di sini, kami percaya, bahwa makanan bukan sekadar soal rasa enak." ujarnya pelan.
Anaya mengangkat pandangannya.
"Setiap masakan punya cerita. Ada usaha, ada lelah, ada niat baik di baliknya. Kalau yang masaknya asal-asalan, tamu pasti bisa merasakannya. Tapi kalau dimasak dengan hati ..." lanjut Baldi.
Ia berhenti sebentar, lalu tersenyum kecil. "Rasanya akan sampai."
Anaya menunduk lagi, menatap tulisan itu. Untuk pertama kalinya sejak lama, ia merasa kalimat tersebut tidak terdengar klise.
"Saya setuju dengan itu." ucapnya lirih.
Baldi mengangguk. "Semoga kamu juga bisa merasa betah di sini."
Anaya mengeratkan pegangan pada apron di tangannya. Entah kenapa, ada perasaan asing yang muncul. Bukan gugup, bukan takut. Lebih seperti harapan kecil yang perlahan menemukan tempatnya.
Restoran sore itu penuh. Suara sendok beradu dengan piring, pesanan yang bersahutan, dan langkah kaki para pelayan membentuk hiruk-pikuk yang membuat Anaya sedikit kewalahan. Ia langsung diarahkan melayani beberapa meja.
Tangannya sempat kaku saat harus membawa dua gelas sekaligus. Setetes air tumpah ke taplak, membuat jantungnya berdegup lebih cepat. Namun sebelum panik itu berubah jadi rasa malu, seseorang sudah berdiri di sisinya.
Lita. Waitress berhijab dengan senyum lembut itu bergerak tenang, seolah situasi sesibuk apa pun tak pernah benar-benar mengganggunya. Hijab pastel sederhana yang dikenakannya memberi kesan teduh.
"Pegang bagian bawah gelas. Lebih stabil." bisiknya sambil mencontohkan.
Anaya mengangguk cepat, lalu tersenyum malu. "Makasih, Kak."
"Panggil aku Lita aja. Kita sama-sama kerja. Nggak usah pakai kak-kak-an." balasnya ringan.
Sepanjang sore, kesalahan kecil tak terhindarkan. Anaya sempat salah menaruh sendok, lupa mencatat nomor meja, bahkan harus bolak-balik karena pesanan yang tertukar. Setiap kali itu terjadi, dadanya mengencang, takut dimarahi.
Namun Baldi hanya menegurnya dengan nada tenang. "Nggak apa-apa. Kamu cepat belajar. Itu yang penting." Kalimat sederhana itu cukup membuat Anaya kembali bernapas lega.
Menjelang malam, suasana restoran mulai mereda. Meja-meja perlahan kosong, dan suara riuh berganti jadi dengung yang lebih pelan. Lita menggandeng lengan Anaya, menariknya menjauh dari area utama.
"Ayo, sekarang kenalan sama anak-anak kitchen. Biar kamu tahu siapa yang masak pesananmu." Ajaknya.
Anaya mengikuti langkahnya, merasakan sesuatu yang pelan-pelan berubah di dadanya. Kehangatan.
Pintu ayun dapur terbuka. Uap panas menyeruak bersama aroma bawang, daging, dan saus. Di sana, seorang pria berambut agak gondrong sibuk mengaduk tumisan dengan sendok besar. Ia menoleh ketika mendengar suara langkah. Matanya menatap tajam ke arah Anaya, seakan berusaha mengingat sesuatu.
"Cipto, kenalin, ini Anaya. Waitress baru." Lita menepuk ringan bahu pria itu.
Cipto menoleh. Anggukannya datang terlambat setengah detik, karena pandangannya sempat tertahan di wajah gadis itu. Ada sesuatu di sana. Seperti ada rasa familiar yang sulit dibiarkan
"Hmm ..." gumamnya pelan.
"Kayaknya gue pernah lihat lo, deh." Ucapannya terdengar santai. Tapi di kepalanya, ingatan menyala tanpa permisi. Kembali ke hari itu.
Deru kendaraan. Klakson yang bersahutan. Aspal siang hari yang memantulkan panas. Seorang gadis berjalan di trotoar dengan langkah cepat, rahang mengeras, wajah masam seolah dunia baru saja berutang padanya.
Jaket merah. Ia ingat itu. Ia juga ingat dirinya sendiri dan seorang teman di sampingnya, tertawa kecil tanpa sebab yang benar-benar jelas.
"Tuh cewek kenapa sih? Mukanya serem banget."
"Lagi haid kali."
"Hahaha, cakep-cakep galak."
Tawa itu berhenti mendadak.