When Fate Brought Us Together

Raffa Akbar
Chapter #8

Bab 8 - Hati Zainal

Angin malam berembus pelan di balkon apartemen lantai delapan itu. Dari ketinggian, lampu kota tampak berkelip, seakan menertawakan kesunyian yang menyelimuti seorang pria muda bernama Zainal.


Tubuhnya tegak bersandar pada balkon, kedua tangannya terlipat di dada, sementara tatapannya kosong menembus langit gelap. Getaran singkat dari saku jaketnya memecah keheningan.


Zainal menghela napas pelan sebelum merogoh teleponnya. Layar kecil itu menyala, menampilkan nomor yang tak tersimpan. Namun dikenalnya. Ia menatapnya beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya, seolah berharap panggilan itu berhenti dengan sendirinya.

Namun tidak. Ia mengangkatnya.


"Zain speaking." Suara di seberang terdengar tenang, rapi, seperti orang yang terbiasa mengatur jarak.


"Selamat malam, Tuan Zainal. Maaf menelepon selarut ini. Saya Irawan. Saya diminta menyampaikan pesan kepada Anda, dari Pak Burhan." Zainal memalingkan wajah ke arah kota. Rahangnya mengeras.


"Selalu seperti itu. Dia tidak akan menelpon putranya sendiri."


Ada jeda singkat di ujung sana.


"Ayah Anda menghargai keputusan Anda. That’s why he asked me to call." Jawabnya akhirnya.


Wajah Zainal langsung menjadi datar, nyaris tanpa ekspresi. "Saya akan pura-pura percaya itu."


Nada suara di seberang tetap stabil.

"Saya langsung ke inti saja. Saat ini ada beberapa kendala di Hussaini Group, khususnya di divisi elektronik."


"Kendala seperti apa?" tanya Zain.


"Dua supplier utama kami di Bekasi menghentikan pengiriman. Ada discrepancies di laporan bahan baku tembaga dan komponen semikonduktor. Tidak ada indikasi pelanggaran hukum, but the timing is unfortunate."


Zainal tahu arti kalimat itu. 2009 bukanlah tahun yang ramah. Krisis global belum benar-benar reda. Sedikit gangguan rantai pasok saja bisa membuat investor gelisah.


"And my father thinks I’m the solution?" tanyanya datar.


"Beliau percaya kehadiran Anda bisa menenangkan situasi internal. Dewan direksi masih mendengar Anda. Whether they admit it or not."


Angin kembali berembus, lebih dingin dari sebelumnya. Zainal memejamkan mata sejenak.


"Dan bagaimana jika saya katakan, kalau saya sedang sibuk?" katanya pelan.


"Maaf, Tuan Zainal. Saya hanya menyampaikan pesan beliau. Tidak ada tuntutan Anda harus kembali." suara itu sedikit melunak.


"Honestly, this is purely business. Ayah Anda hanya meminta bantuan Anda. Only as a negotiator. A few weeks. At most."


Zainal tertawa kecil. Pendek namun pahit.


"It always starts with ‘a few weeks’."


Keheningan menyusup di antara mereka. Dari bawah, suara klakson samar terdengar. Jakarta yang tak pernah benar-benar tidur.


"Ayah Anda juga berpesan, kalau Anda menolak, beliau akan menangani semuanya sendiri." Lanjut suara itu hati-hati.


Zainal terdiam sejenak. Hanya napasnya saja yang terdengar dari telepon. Sebelum ia akhirnya berbicara.


"Send me the reports. All of them." akhirnya Zain berkata. Nada lega nyaris tak terdengar di seberang sana.


"Baik, Tuan Zainal. Saya akan kirimkan laporannya."


Panggilan itu berakhir tanpa bunyi apa pun selain napasnya sendiri. Zainal menurunkan telepon dari telinganya, membiarkannya tergenggam begitu saja. Di hadapannya, ibukota terhampar. Lampu-lampu kota berkelip acak, lalu lintas mengalir seperti urat nadi yang tak pernah berhenti.


"Lo ngapain berdiri di sini sendirian? Anginnya dingin."


Suara Baldi datang dari belakang, ringan tapi cukup jelas untuk memecah hening. Sebuah tepukan singkat mendarat di bahu Zainal, bukan keras, tapi sengaja.


Zainal menoleh sekilas. "Nggak apa-apa," katanya, datar. Tatapannya kembali ke arah kota.


Baldi tidak langsung menanggapi. Ia melangkah mendekat, berdiri di sisi Zainal, ikut menyandarkan tubuh ke pagar balkon. Beberapa detik mereka hanya diam, membiarkan suara samar kota mengisi ruang di antara mereka.


"Kalo nggak apa-apa, biasanya lo nggak lama-lama di sini." ujar Baldi akhirnya.


Zainal menghembuskan napas pelan. "Lagi males aja. Bosen." Jawabnya.


Kata itu terdengar pelan, tapi berhenti di udara lebih lama dari seharusnya. Baldi meliriknya sekilas. Tidak bertanya lagi.


"Masuk aja," katanya kemudian, nadanya turun satu tingkat.


"Gue nggak mau besok lo jadi sakit, gara-gara kelamaan di luar."


Zainal terdiam. Pandangannya masih tertahan di kejauhan, seolah kota itu menyimpan sesuatu yang belum siap ia hadapi lagi. Beberapa detik berlalu.


"Iya," katanya akhirnya.


Lihat selengkapnya