Telepon rumah berbunyi, nadanya klasik, bergema pelan di ruang keluarga yang lapang. Suara itu tidak mendesak, tapi cukup untuk memecah kesunyian pagi.
Seorang wanita paruh baya bangkit dari kursi dengan gerakan anggun. Tubuhnya masih tegap, wajahnya menyimpan kecantikan yang waktu tidak mampu hapuskan, meski garis-garis halus mulai menghiasi kulitnya. Kulitnya masih terawat, tubuhnya sedang. Tidak terlalu kurus, tidak pula gemuk.
Dia adalah Rita, ibu kandung dari Zainal. Ia melangkah menuju meja kecil di sudut ruangan, ujung jarinya meraih gagang telepon dengan lembut.
"Halo, Bu." Suara di seberang terdengar lembut, penuh kehati-hatian. Itu suara Endang, pengasuh yang sudah lama menjadi bagian dari keluarga mereka.
Rita tidak langsung menjawab, hanya menunggu dengan suara napasnya yang tenang.
"Saya baru saja bicara dengan Nak Zain," lanjut Endang, pelan, seakan menimbang setiap kata sebelum keluar.
"Nak Zain bilang ... belum bisa pulang dulu malam ini. Tapi Ibu jangan khawatir, dia baik-baik saja. Dia sangat sehat."
Ada jeda yang panjang. Endang menahan napas, menunggu reaksi lawan bicaranya.
Rita menghela napas lirih, namun bibirnya tetap terangkat membentuk senyum tipis. Senyum yang lebih menyerupai topeng, tidak ada yang bisa melihat retaknya kecuali dirinya sendiri. "Aku mengerti, Endang. Terima kasih sudah menyampaikan. Jaga dia baik-baik, ya."
"Selalu, Bu." Jawaban Endang mantap, tapi tetap sopan.
"Nak Zain juga titip salam untuk Ibu dan Bapak."
Telepon ditutup perlahan. Sesaat, ia masih berdiri di sana, menatap kosong ke arah jendela besar. Cahaya mentari menembus tirai tipis, jatuh di lantai marmer yang dingin. Ada sesuatu yang berat menggantung di dadanya, namun wajahnya tetap tenang. Seperti biasa, ia tahu caranya menyembunyikan luka.
Ia letakkan gagang telepon kembali ke tempatnya, lalu beralih ke meja tengah. Di sana, setangkai mawar merah muda menunggu disentuh. Jemarinya merapikan bunga-bunga itu satu per satu ke dalam vas kristal. Gerakannya lembut, penuh kesabaran, seakan setiap kelopak adalah sesuatu yang rapuh dan berharga. Ujung jarinya berhati-hati agar tidak tersentuh duri. Aroma segar mawar perlahan memenuhi ruang keluarga, berpadu dengan udara pagi yang hangat.
"Dia tidak pulang lagi malam ini," gumamnya lirih. Sejenak, pikirannya melayang entah kemana. Memikirkan putranya, yang sudah lama ia rindukan.
Rasa rindu yang sudah lagi, tidak dapat ia sembunyikan. Ingin sekali rasanya, ia menemui putranya, dan memintanya untuk pulang. Namun ia tahu, jika dia melakukannya, Zainal malah akan semakin menjauh.
Perlahan kesadarannya mulai kembali. Dan tangannya kembali menyusun bunga di dalam vas. Mencoba mengalihkan pikirannya, agar hatinya tidak lagi bersedih.
Selesai menata bunga, ia berdiri perlahan. Sepatu hak setinggi tiga sentimeter yang ia kenakan mengetuk pelan lantai marmer, menciptakan irama lembut yang menggema di ruangan luas. Suara itu berpadu dengan keheningan, memberi kesan anggun yang sederhana.
Ia berjalan menyeberangi ruangan, langkahnya tenang namun sarat wibawa. Tangga marmer dinaikinya perlahan, menyuarakan keberadaannya.
Sampai di lantai atas, langkahnya berhenti di depan pintu kamar utama. Jemarinya merapikan helaian rambut yang terlepas dari sanggulnya, lalu dengan hati-hati ia memutar gagang pintu.
Ruangan itu luas, dengan jendela besar yang membiarkan cahaya pagi menimpa karpet hijau. Di depan cermin berdiri seorang pria paruh baya. Burhan, suaminya. Wajahnya masih menyimpan ketampanan yang dulu begitu memesona, rahang kokoh, sorot mata tajam, namun kini dingin, seolah setiap kerut di wajahnya menambah jarak. Rambut di pelipisnya memutih samar, memberi kesan matang sekaligus jauh.
Tangannya tampak kikuk ketika berusaha memasang dasi biru tua. Ujung kain itu berkali-kali terlepas dari simpul yang hendak ia bentuk. Alisnya berkerut tipis, tapi bukan karena kesal, lebih karena ia tidak mau meminta bantuan, tidak terbiasa membiarkan orang lain masuk terlalu dekat.
Rita mengulas senyum tipis. Ia melangkah mendekat, berhenti tepat di hadapan suaminya. Burhan tidak menoleh. Matanya tetap lurus menatap bayangan mereka di cermin, dingin, seperti menatap benda mati. Alih-alih sosok yang berdiri di sampingnya.
Dengan gerakan penuh kelembutan, Rita meraih dasi dari tangannya. Jemarinya yang lentik, bergerak cekatan, mengikat simpul rapi dengan kesabaran yang tak pernah ia habiskan. Sesekali matanya menatap wajah Burhan, mencari sesuatu. Tatapan sekilas, senyum samar, atau bahkan hanya hembusan napas yang berbeda. Namun yang ia temukan hanyalah garis rahang tegang, bibir terkatup rapat, dan mata yang menolak berpaling dari cermin.
"Hari ini ... ada rapat, Mas?" suaranya pelan, nyaris seperti bisikan, seakan ia takut pertanyaannya hanya akan menguap di udara.
Burhan tidak segera menjawab. Tangannya sedikit terangkat, hendak merapikan ujung jasnya sendiri, lalu terhenti di udara sebelum jatuh kembali ke sisi tubuh. Sebuah jeda panjang menggantung, seperti ruang kosong yang tak terisi kata-kata.