"Zain." Suara berat tapi serak itu memecah keheningan.
Zainal tidak langsung menoleh. Ia masih menatap kosong ke arah jendela kecil di dapur apartemennya, seolah tidak mendengar apa pun. Cahaya pagi menyelinap di antara tirai, membentuk garis tipis di atas meja yang dingin.
Uap kopi di tangannya menari pelan sebelum menghilang, menyisakan aroma pahit yang samar. Ia menarik napas panjang, tapi yang terasa hanya sesak yang tak kunjung reda.
Baldi bangun perlahan dari sofa, menguap lebar sambil mengusap wajahnya. Rambutnya berantakan, mata masih setengah tertutup.
"Heh, kenapa lo bengong gitu?" tanyanya parau, melangkah ke dapur.
Ia menatap Zainal dengan khawatir.
"Lo nggak apa-apa, Zain? Muka lo pucat banget. Jangan bilang lo belum tidur lagi."
Zainal tetap diam. Kopi di tangannya sudah mendingin, tapi ia belum juga meletakkannya. Seolah ada jawaban di dasar cangkir itu, jawaban yang bahkan ia takut untuk mengakui sendiri. Dalam hening, kenangan lama yang selama ini ingin ia lupakan kembali mengetuk.
Sejenak, pikirannya melayang puluhan tahun ke belakang.
Ia masih kecil, duduk di bahu ayahnya yang tertawa lepas di halaman rumah. Angin sore berhembus, membawa aroma tanah basah dan rumput yang baru dipotong. Ia bisa merasakan sentuhan hangat kulit ayahnya di bawah tangannya, dan rasa aman yang dulu begitu akrab.
Suara ibu memanggil dari dalam terdengar samar, bercampur tawa mereka. Sebuah bola kecil meluncur melewati kaki Zainal, dan ia tertawa, seakan lupa akan dunia luar. Matahari perlahan menukik ke ufuk, menciptakan bayangan panjang di halaman yang kini terasa seperti lukisan hidup. Dan kemudian, sesuatu terganjal di hatinya. Sebuah bisikan kecil bahwa semua itu sudah jauh, terlalu jauh, hingga rasanya mustahil untuk kembali.
Kilasan itu lenyap secepat datangnya. Zainal menatap kopi yang kini benar-benar dingin. Dalam hati ia bertanya-tanya, apakah kenangan itu nyata, atau sekadar halusinasi dari seorang anak yang terlalu rindu?
Baldi menghela napas, lalu bersandar di meja dapur. Ia tahu, ada sesuatu yang lebih dari sekadar lamunan di kepala sahabatnya. Tapi seperti biasa, Zainal terlalu pandai menyembunyikan luka.
"Gua merasa ... semakin lama gua semakin jauh sama orang tua gua Bal," ucap Zainal tiba-tiba, tanpa menatap Baldi. Suaranya pelan, tapi jelas.
Baldi terpaku sejenak. Ia paham kalimat itu berat dan bukan sekadar tentang masa lalu. Ia sudah mengenal Zainal cukup lama untuk tahu.
Baldi tak langsung menanggapi. Ia ingin bicara sesuatu. Mungkin kata-kata penghiburan, atau sekadar candaan bodoh untuk mencairkan suasana, tapi ia urungkan. Kadang ada hal-hal yang tidak butuh dijawab, tapi cukup didengar.
"Kalau bisa diulang, gue cuma pengen semuanya kembali seperti dulu." Gumam Zainal pelan, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri.
Baldi menarik napas pelan, kemudian berjalan ke arah kulkas, membuka dan menutupnya tanpa benar-benar mencari apa pun. Ia hanya butuh bergerak, agar ruangan tidak semakin menekan.
"Hidup emang begitu bro. Selalu ada aja masalah yang datang silih berganti." ujarnya akhirnya, menatap punggung Zainal dari jauh.
Baldi menutup pintu kulkas, lalu tersenyum tipis. "Tapi, Zain ... terlalu nyalahin diri sendiri juga nggak baik." suaranya pelan, tapi tegas.
Ia menatap sahabatnya dengan ekspresi yang jarang ditunjukkannya, serius, tanpa sarkasme. "Gue ngerti lo ngerasa banyak salah. Tapi jangan sampai rasa bersalah itu bikin lo terpaku sama masa lalu. Yang akhirnya bikin lo cuma diam di tempat, nggak maju-maju."
Zain terdiam. Ia tidak menolak, tapi juga tidak menyetujui. Tangannya menggenggam cangkir, dan yang lainnya mengusap pelipisnya. Tatapannya sendu, seperti masih berusaha menahan sesuatu yang ingin keluar.
"Nggak segampang itu Bal ... nggak mudah buat gue,"
Baldi mengangkat bahu. "Gue tahu, gue nggak berhak berkomentar. Tapi jujur ... gue sedih ngelihat lo kayak gini." katanya dengan penuh empati.
Hening kembali mengisi dapur itu.
"Lo serius nih. Pengen diam aja di situ?" Baldi bertanya dengan suara pelan.
Zainal tetap diam, menatap kosong ke arah jendela.
Baldi menghela napas panjang. Ia menatap sahabatnya sejenak, ragu ingin bicara atau membiarkan hening itu berlanjut. Tapi kemudian ia tersenyum tipis, setengah untuk menenangkan diri sendiri, setengah untuk Zainal.
Baldi akhirnya mengambil kunci mobil dari meja. "Zain," panggilnya lagi, nada suaranya berubah menjadi lebih santai.
"Mending lo ikut gue ke Sera,"
Zainal menoleh pelan, dahi sedikit mengernyit. "Sekarang?"
"Sekarang." Baldi mengangguk mantap.
"Daripada lo duduk di sini, ngelamun sampai sore. Gue harus ke sana juga, bantu yang lain. Sekalian lo lihat-lihat. Restoran itu kan punya lo. Masa gue doang yang ngurus?"
"Gue nggak mood, Bal ..."
"Justru makanya. Lo ikut gue sekarang. Tapi ... kalau lo nggak mau, gue nggak bakal maksa." Baldi menatapnya mantap.
Beberapa detik tak ada jawaban. Sampai akhirnya Zainal menutup matanya sejenak, mengusap tengkuknya, lalu bangkit pelan dari kursi.
"Lo yang nyetir," katanya akhirnya.
Baldi tersenyum lega. "Nah, gitu dong."
***