When Fate Brought Us Together

Raffa Akbar
Chapter #11

Bab 11 - Teman Aldo

Suara burung pagi bersahutan di halaman kecil rumah itu. Udara masih agak lembap, sisa embun belum sepenuhnya menguap dari daun-daun jambu di depan pagar. Di sela kesunyian pagi, suara motor tua terdengar disela kasar, memecah keheningan.


Aldo menunduk sedikit, tangannya cekatan memutar gas sambil menyela motor bebek peninggalan kakeknya, yang sudah beberapa tahun menemani.


"Ayo, nyala dong," gumamnya pelan.


Sekali, dua kali, baru disela ketiga, mesin itu menderu pelan seperti kentut yang akhirnya lega. Ia tersenyum tipis, menepuk bodi motor itu.


"Alhamdulillah nyala juga," katanya sambil terkekeh sendiri.


Ia menegakkan motor di samping teras, hendak keluar rumah. Dari dalam terdengar suara radio tua memutar lagu pop tahun 2000-an, samar bercampur bunyi wajan dari dapur. Rumah itu sederhana, tapi hangat. Aroma nasi goreng buatan Nenek Yanti memenuhi ruangan.


"Nek. Aku berangkat ya." seru Aldo dari ruang tamu.


Nenek Yanti muncul dari dapur, masih dengan celemek bermotif bunga.


"Udah sarapan, Do?" tanyanya sambil menatap cucunya yang tergesa-gesa mengenakan jaketnya.


"Udah, Nek." Aldo menepuk tasnya.


"Oh iya, Kak Anaya ada kelas nggak hari ini? Kalau iya, sekalian aja aku anterin."


Nenek Yanti mengangkat alisnya, setengah heran, setengah geli. "Tumben kamu nawarin diri. Biasanya ogah-ogahan."


Aldo hanya nyengir, memasang helmnya setengah. "Hehe, lagi pengen aja, Nek. Biar sekalian muter-muter bentar."


Nenek Yanti tertawa kecil. "Sayangnya, Kakak kamu lagi nggak ada kelas hari ini. Katanya dosennya rapat, jadi libur."


"Oh ya udah deh, berarti aku berangkat sendiri." Aldo berjalan mendekat, mencium tangan neneknya dengan sopan.


"Assalamualaikum, Nek."


"Waalaikumussalam. Hati-hati di jalan, jangan ngebut!" seru neneknya dari pintu.


Motor Aldo meluncur keluar pagar pelan-pelan, meninggalkan jejak debu tipis di jalan. Seragam abu-abunya masih rapi, tapi rambutnya sedikit berantakan tertiup angin. Ia melirik jam tangan murahan di pergelangan kirinya, lalu menarik gas sedikit lebih kencang.


Beberapa menit setelah suara motor itu lenyap di kejauhan, terdengar langkah kaki dari tangga. Anaya turun pelan, rambutnya masih setengah basah, mengenakan kaus longgar dan celana santai.


"Nek, pagi," sapanya lembut sambil tersenyum.


"Pagi juga, Nay."


Anaya berjalan ke meja makan, dan matanya langsung tertuju pada kotak bekal biru yang masih tergeletak di atas meja. Ia mengerutkan dahi, mengangkat kotak itu dan menatap neneknya. "Nek ... Aldo nggak bawa bekalnya lagi?"


Nenek Yanti menghela napas panjang, sambil mengibaskan tangan. "Iya, katanya nggak usah. Padahal udah Nenek siapin dari tadi. Dibilangnya nanti malah ribet di sekolah."


Anaya menggeleng kecil, menatap bekal itu dengan ekspresi kesal bercampur khawatir. "Aduh, anak itu kenapa sih? Kan tinggal dibawa aja."


Nenek Yanti tersenyum tipis. "Namanya juga anak cowok, Nay."


Anaya menghela napas, meletakkan kotak bekal itu perlahan. "Nanti pulang juga pasti ngeluh lapar lagi."


Nenek hanya terkekeh, lalu kembali ke dapur sambil membawa piring kosong.


***


Sementara itu, suara knalpot kembali terdengar. Tapi kali ini berganti dengan suara ramai siswa di gerbang sekolah.


Aldo baru saja tiba di halaman SMAN 1 Jakarta. Ia memarkir motornya di deretan paling ujung, di antara motor-motor lain yang sudah berjejer. Ia mematikan mesin, menurunkan standar, lalu membuka helm. Angin pagi menerpa wajahnya, membuat poni tipisnya bergerak sedikit.


Ia berdiri sejenak, menatap bangunan sekolah yang sudah mulai ramai. Di kejauhan, suara bel tanda masuk sebentar lagi terdengar. Aldo menarik napas panjang dan menepuk pipinya pelan.


Halaman sekolah sudah penuh sesak. Suara sepatu beradu di lantai, tawa keras murid-murid bercampur teriakan guru piket yang mengingatkan agar cepat turun ke lapangan. Di langit, matahari pagi mulai naik, sinarnya menembus sela pohon angsana yang menjulang di sudut halaman.


Aldo berjalan cepat menuju kelasnya di lantai dua, sambil membawa jaketnya di tangan. Beberapa temannya sudah duduk, ada juga yang sibuk bercermin di jendela atau mengenakan topi upacara.

Lihat selengkapnya