Keranjang kecil berisi donat dan risol itu Anaya angkat dengan kedua tangan. Plastik-plastik bening yang membungkusnya masih hangat, permukaannya berembun tipis, seolah menyimpan sisa napas minyak panas dari wajan. Wangi adonannya, membawa aroma yang sudah sangat akrab di udara.
Anaya berjalan menyusuri gang dengan hati-hati. Pagi sudah sepenuhnya ramai, dan kehidupan sudah bergerak. Pintu-pintu rumah terbuka, sapu lidi bergesekan dengan tanah, suara radio tua terdengar samar dari kejauhan.
Beberapa langkah lagi, ia akan tiba di Warung Mpok Idah, tempat yang hampir tak pernah sepi. Di sanalah warga membeli apa saja, mulai dari gula dan beras, sampai gosip pagi. Namun di depan warung itu, seseorang sudah lebih dulu berdiri.
Seorang wanita paruh baya membelakangi jalan, tubuhnya sedikit condong ke etalase kaca. Rambutnya disampirkan ke belakang telinga, menyingkap wajah yang tak asing.
Langkah Anaya tanpa sadar melambat.
Mega. Tetangga yang rumahnya tepat berhadapan dengan rumah Nenek Anaya.
Dulu, mereka hampir tak pernah terpisah. Pagi-pagi diisi obrolan ringan di teras, sore hari dihabiskan dengan tawa kecil dan cerita yang mengalir begitu saja. Tapi waktu, entah sejak kapan--membuat jarak yang tak kasatmata. Anaya bahkan tidak begitu ingat alasannya.
Mega baru saja tiba di warung. Begitu Mpok Idah menyadari kehadirannya, ia langsung melemparkan senyum ramah. Wajah Mega tampak sedikit letih, seperti seseorang yang membawa banyak pikiran sejak pagi. Tapi senyum itu tetap terpasang. Senyum yang sudah lama menjadi cirinya.
"Eh, Bu Mega. Apa kabar, Bu? Lama banget nggak keliatan." sapa Mpok Idah sambil menyunggingkan senyum ramah.
Mega membalas senyum itu sopan. "Alhamdulillah, sehat, Mpok."
"Alhamdulillah kalau begitu." Mpok Idah mencapai timbangan sambil bertanya,
"Mau beli apa, Bu?"
"Telur setengah kilo, ya. Sama kecap manis yang ukuran sedang. Oh, sama beras se-liter."
"Siap." Mpok Idah lincah membungkus telur sambil sesekali melirik Mega.
"Gimana kabarnya Ferdi? Anak itu udah jarang nongol, padahal dulu kecilnya lari-lari di depan warung saya."
Mega tertawa kecil, terdengar tulus. "Baik, Mpok. Masih kayak dulu, cuma tambah tinggi aja."
"Iya sih, anak sekarang cepat banget tingginya." Mpok Idah ikut tertawa, lalu teringat sesuatu.
"Ilham gimana kabarnya, Bu? Udah lama banget dia nggak pulang ke sini. Betah ya di Bandung?"
Mega menarik napas pelan, tapi raut wajahnya tetap lembut. "Betah, Mpok. Dia kan kerja di sana. Sejak lulus kuliah langsung dapat tempat, jadi sekalian menetap dulu."
"Masya Allah, bagus itu, Bu." Mpok Idah mengangguk puas sambil memasukkan beras ke plastik. "Syukur banget kalau anak udah kerja, bisa bantuin orang tua." Senyum Mpok Idah.
Ia mencondongkan badan sedikit, seolah berbisik ramah. "Ngomong-ngomong Ilham kapan pulangnya?"
Mega tersenyum kecil, senyum yang menyembunyikan banyak hal yang hanya ibu-ibu pahami. "Insya Allah minggu depan dia pulang, Mpok. Sudah lama juga nggak lihat keluarga,"
"Alhamdulillah. Nanti kalau udah pulang, suruh mampir ya, Bu. Udah lama saya nggak liat anak itu." seru Mpok Idah dengan lega.
Mega mengangguk sambil merapikan plastik belanjaannya. "Pasti, Mpok."
Perkataan itu disambut anggukan puas dari Mpok Idah. Mereka tidak menyadari bahwa beberapa langkah dari warung, Anaya yang baru sampai sudah mendengar potongan kalimat terakhir itu. Ia sempat berhenti tanpa suara, kelopak matanya terangkat sedikit.
Minggu depan Ilham pulang? Pikiran itu singgah cepat sebelum ia menghela napas tipis lalu melangkah masuk.
Suara sandal Anaya menapak membuat Mpok Idah menoleh. "Eh, Anaya! Pagi-pagi udah nganterin donat sama risolnya. Rajin banget kamu." serunya riang.
Anaya tersenyum sopan. "Iya, Mpok. Ini saya mau titip lagi."
Ia sempat melirik ke arah Ibu Mega, hanya sekejap. Mega pun melihatnya, tatapan itu sama singkatnya, namun penuh sesuatu yang tak bernama. Tidak ada sapaan dari keduanya.
Mega menegakkan tubuh. "Mpok, totalnya berapa?" tanyanya cepat, sengaja memutus momen.
"Oh, iya." Mpok Idah tergagap kecil, buru-buru menghitung belanjaan sebelum menyebutkan harganya.
Mega membayar, lalu hendak pergi. Mpok Idah sempat menggoda sambil tertawa kecil, "Titip salam buat Ilham, ya Bu. Bilang Mpok Idah kangen."
Mega hanya mengangguk sambil tersenyum tipis sebelum melangkah keluar warung. Begitu sosok Mega menjauh, barulah Mpok Idah berbalik sepenuhnya pada Anaya.
"Ya Allah, Anaya. Makin lama makin cantik aja kamu, Nak." gumamnya sambil memperhatikan wajah gadis itu.
Anaya hanya tersenyum kecil, senyum yang sopan, bukan yang dibuat-buat. "Ah, Mpok bisa aja."
"Kamu lagi nggak kuliah hari ini?" tanya Mpok Idah, sekadar basa-basi.
"Lagi libur, Mpok," jawab Anaya singkat, sambil tersenyum tipis.