Anaya turun dari angkot begitu sampai di depan Sera. Ia mengeluarkan uang pas dari kantong, memberikan pada sopir yang hanya mengangguk singkat tanpa banyak bicara. Begitu kakinya menapaki trotoar, aroma khas Sera langsung menyergap hidungnya. Wangi tumisan ayam panggang dan bumbu-bumbu yang sudah akrab dengannya.
Sera tampak ramai seperti biasa. Pintu kaca bergoyang-goyang oleh orang yang keluar-masuk, suara alat makan beradu terdengar dari dalam, bercampur dengan percakapan pelanggan yang datang di jam sore.
Anaya merapatkan tas selempangnya, lalu melangkah masuk. Baru beberapa langkah memasuki lorong menuju dapur, seseorang datang dari arah berlawanan, Cipto, dengan bakul besar penuh bahan makanan di tangannya. Napasnya sedikit terengah, tapi wajahnya tetap cerah seperti biasanya.
"Eh, pas banget lo datang," katanya sambil lewat, setengah melangkah mundur untuk memastikan Anaya dengar.
"Bantuin Lita tuh. Kasian dia kelimpungan bawain makanan."
Anaya langsung mengangguk cepat. "Iya, Mas."
Ia bergegas menuju ruang staff. Di dalam, suasana sempit ruang ganti terasa akrab, beberapa sepatu di rak, loker kecil, serta aroma sabun cuci tangan.
Anaya membuka lokernya, mengganti pakaian dengan seragam khas Sera lalu mengikat rambutnya lebih rapi. Begitu selesai, ia menarik napas panjang dan keluar untuk memulai shift.
Baru saja ia membuka pintu, seseorang sudah berdiri menunggunya. Baldi, manager-nya, dengan clipboard di tangan, wajahnya penuh perhitungan seperti biasa.
"Eh, Nay. Datangnya lebih awal, ya?" katanya dengan nada ikut senang.
"Iya, Mas. Aku lagi semangat banget hari ini," balas Anaya sopan, tapi ekspresinya jelas bersemangat.
Baldi mengangguk, tampak cukup terkesan. "Nah begitu. Saya senang banget ngeliat kamu ngejalaninnya dengan semangat,"
Baldi tersenyum lebar mendengarnya, seperti tidak menyangka, lalu tertawa kecil. "Ya udah, kamu bisa mulai shift nya sekarang."
Anaya mengangguk singkat sebagai balasan. Ia segera melangkah menuju deretan meja pelanggan, mulai mencatat pesanan dari meja paling dekat.
***
Di sisi lain, Baldi mengamati sejenak sebelum akhirnya berbalik. Ia melangkah menyusuri lorong menuju ruangan Zainal di ujung sana. Semakin dekat, langkahnya melambat, seolah memberi jeda sejenak sebelum akhirnya mengetuk pintu. Tangannya mengetuk dua kali, menunggu sejenak untuk diizinkan masuk.
"Masuk, Bal," kata Zainal dari dalam.
Baldi mendorong pintu perlahan. Ruangan itu terlihat rapi, berisi meja kayu dengan beberapa buku dan arsip yang menumpuk rapi di sisi kanan.
Zainal sedang duduk di balik meja, membungkuk sedikit, meninjau salah satu dokumen sambil mengetuk-ngetuk bolpoin di meja. Lelaki itu langsung mendongak begitu Baldi mendekatinya.
"Pas banget," ucap Zainal akhirnya sambil menaruh bolpoin di meja. Suaranya datar, terlalu tenang untuk obrolan santai.
"Gue mau lo cek ulang stok bahan buat minggu ini. Angkanya nggak konsisten sama laporan pengeluaran kemarin."
Baldi refleks mengusap tengkuk. Kebiasaan lama setiap kali nada Zainal berubah lebih serius.
"Yang mana? Bagian Fresh ingredient atau dry goods?" tanyanya, berusaha tetap santai.
"Keduanya."Zainal memutar buku ke arahnya, jari telunjuknya berhenti di satu baris.
"Harga dari supplier sayur naik. Tapi pemakaian dapur stagnan. Harusnya ada pergerakan di stok. Ini nggak keliatan."
"Mana sini gua liat," Baldi mencondongkan tubuh, alisnya berkerut saat membaca angka-angka itu.
"Shift malam mungkin kurang rapi nyatetnya. Gue cocokin dulu sama log dapur." katanya.
Zainal tidak langsung menjawab. Tatapannya masih tertahan di halaman itu, seolah sedang menghitung sesuatu di kepalanya.
"Gue butuh datanya bersih. Apalagi masuk akhir bulan, gue mau laporan bersih buat tutup buku."
"Tenang. Sore ini juga gue beresin. Lo mau laporan final-nya kapan?" jawab Baldi.
"Besok siang. Gua pengen semuanya udah selesai besok." jawab Zainal cepat.
"Tenang aja. Pokoknya semua rapi."
Baldi menutup buku itu dan hendak berbalik, tapi ia teringat sesuatu. "Oh iya. Anak baru yang lo cariin, si Anaya. Dia udah datang barusan."
Zainal hanya mengangguk sambil membuka berkas berikutnya. Tidak ada reaksi lain, meski Baldi sempat memperhatikannya beberapa detik lebih lama. "Ya udah. Bagus kalau dia udah datang."
Baldi berhenti sejenak, memandang Zainal dari samping. "Hmm ... tadi pagi lo nanya gue sampai dua kali soal dia. Sekarang pas anaknya datang, lo malah kayak gitu,"