When Fate Brought Us Together

Raffa Akbar
Chapter #14

Bab 14 - Seseorang dari Masa Lalu

Anaya tidak langsung paham sejak kapan dadanya mulai terasa sesak. Perasaan itu datang tanpa aba-aba. Padahal ia tahu betul, tak seorang pun di tempat ini seharusnya mengenal ibunya.


Dunia Anaya selama ini sederhana. Kuliah, bekerja, lalu kembali ke rumah yang hanya menyisakan sedikit anggota keluarga. Maka ketika Mahendra menyebut nama yang seharusnya terkunci rapat di ingatan--pikirannya langsung dipenuhi tanda tanya.


Siapa dia?


Mahendra sendiri nyaris lupa cara bernapas. Sejak pertama kali matanya jatuh pada Anaya, ada sesuatu yang langsung mencengkeram dadanya. Rasanya cukup familiar. Wajah di hadapannya bukan sekadar wajah asing yang kebetulan lewat dalam hidupnya.


Tatapannya, caranya berdiri, bahkan ekspresi bingung yang tak sepenuhnya tersembunyi di balik sorot matanya--semuanya mengingatkannya pada Dian. Seolah waktu memutar ulang dirinya sendiri dan meletakkan masa lalu tepat di hadapannya, dalam wujud yang lebih muda.


Mahendra tahu, ini mustahil. Namun tubuhnya bereaksi lebih cepat daripada logika. Untuk sesaat ia hanya berdiri di sana, mencoba meyakinkan diri bahwa apa yang ia lihat terlalu mustahil untuk disebut kebetulan.


Anaya menelan ludah. Ia menundukkan kepala sedikit. Nada suaranya dijaga agar tetap sopan, meski pikirannya berlarian ke mana-mana.


"Maaf, Pak. Nama saya Anaya. Bapak mungkin salah orang," ucapnya pelan.


Kalimat itu menghantam Mahendra tepat di dada. Matanya terbelalak. Perlahan, ada sesuatu yang merangkak naik ke dadanya. Keterkejutan. Tangannya refleks bertumpu di tepi wastafel, seolah ia membutuhkan pegangan agar tetap berdiri.


"Anaya ...?" suaranya keluar nyaris bergetar.


Ia mengulang nama itu, lebih pelan kali ini, seakan sedang memastikan sesuatu pada dirinya sendiri. Di antara mereka terbentang jeda yang terlalu panjang untuk sekadar kebetulan.


"Kamu ... Anaya?" Tatapannya tak lepas dari wajah Anaya itu. "Putrinya Mulyo dan Dian?" lanjutnya, dengan napas yang berat.


Dunia Anaya seolah berhenti berputar. Nama itu terdengar begitu telanjang di udara. Dadanya mengencang, matanya melebar, dan untuk sesaat ia benar-benar lupa di mana ia berdiri.


Namun sebelum satu pun pertanyaan sempat keluar dari bibirnya, Lita sudah keburu memanggilnya.


"Anaya! Kamu ke mana aja sih?" Suara Lita datang tergesa dari arah dapur. Langkahnya cepat, nadanya sudah bercampur kesal.


"Lama amat ngelapnya. Tolong bantuin antar--" kalimat itu terputus. Lita berhenti tepat di ambang pintu. Matanya menangkap sosok Mahendra yang masih berdiri di sana. Ada detik singkat yang canggung.


Anaya bereaksi lebih dulu. Ia melangkah cepat melewati Mahendra, nyaris tanpa menoleh dan tanpa berkata apa-apa, ia menuju pintu dapur.


Lita menoleh mengikuti langkah Anaya yang menjauh, lalu kembali memandang Mahendra. Tatapan mereka bertemu sekilas. Cukup lama untuk menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak biasa barusan terjadi.


Namun tak ada waktu untuk bertanya. Mahendra segera kembali mencuci tangannya. Sementara Lita tersadar akan tumpukan pesanan yang menunggu. Ia berbalik cepat untuk meraih nampan, dan masuk ke dapur--meninggalkan tanda tanya yang menggantung di udara.


Di dapur, suasana jauh lebih riuh. Anaya berdiri di depan celah kecil, jendela sempit tempat para koki menyerahkan hidangan. Dari baliknya, Cipto sudah siap dengan beberapa piring yang berjejer.


"Lo ke mana aja sih? Pesanan sampai numpuk begini. Kalau kelamaan, kita yang kena semprot pelanggan." ocehnya begitu melihat Anaya.


"Iya, maaf, maaf." jawab Anaya cepat.


Tangannya sigap menerima piring-piring itu, menyusunnya di atas nampan. Ia berusaha mengabaikan getaran halus di dadanya.


Di belakangnya, Lita sudah menyusul, mengambil nampan lain dengan gerakan tergesa. Tanpa banyak bicara, mereka keluar bersamaan, masing-masing menuju meja yang berbeda.


***


Mahendra telah kembali ke tempat duduknya. Ia duduk di antara teman-temannya, memasang ekspresi setenang mungkin. Sanusi melirik sekilas, lalu berkomentar ringan.


"Pak Hendra lama amat cuci tangannya." Mahendra hanya tersenyum kecil. Tak menjawab.


Tak lama, Lita datang membawa pesanan mereka. Nampan diturunkan, piring-piring diletakkan rapi. Senyum profesional kembali terpasang di wajahnya, seolah tak ada apa-apa yang baru saja terjadi.


Percakapan di meja itu kembali dilanjutkan setelah sempat tertunda. Tanti, seorang guru Bahasa Inggris, memiringkan kepalanya. Ia menghela napas panjang sambil mengaduk nasi di piringnya.


"Aduh, Pak ... sekarang ngajar rasanya makin ribet ya," keluhnya. "Kurikulum tuh kok rasanya sering banget berubah. Baru juga anak-anak mulai ngerti, eh kita disuruh pakai pendekatan baru lagi."


Mahendra mendengarkan semuanya dengan sikap yang tenang, tidak menghakimi. Sebagai kepala sekolah di SMA Negeri, ia sudah terbiasa mendengar keluhan seperti ini.


"Sudah sewajarnya kita sebagai guru harus senantiasa beradaptasi ... anak-anak berubah, zaman juga berubah. Yang penting kita ikutin aja arahan dari dinas." ujarnya akhirnya, suaranya rendah dan mantap.


Suara Mahendra membuat rekan-rekannya menjadi sedikit tenang. Meski kegelisahan akan sistem yang tak pasti dan terus berubah, masih menggantung di benak mereka. Mahendra kembali melanjutkan makannya, namun pikirannya tidak sepenuhnya berada di meja itu.


Tanpa sadar, pandangannya beberapa kali melenceng ke arah lain, ke sudut restoran tempat Anaya lalu-lalang membawa nampan. Dan entah mengapa, dada Mahendra terasa menghangat setiap kali matanya menangkap sosok Anaya.


Ia segera memalingkan pandangan, takut jika tatapannya terlalu lama akan terasa janggal bagi orang lain.


Percakapan di meja perlahan mereda seiring piring-piring yang mulai kosong. Suara restoran pun berubah tidak lagi riuh. Beberapa pelanggan bangkit, beberapa kursi kosong ditinggalkan begitu saja.


Sanusi melirik jam tangannya. "Waduh, udah jam tujuh lewat. Kalau kelamaan, pulangnya makin macet nih."


Mahendra meletakkan sendoknya perlahan. "Bapak Ibu duluan saja. Saya masih mau pesan sebungkus lagi." katanya.


"Buat siapa, Pak?" tanya Tanti sambil tersenyum ringan.

Lihat selengkapnya