Hening menggantung di antara mereka setelah kalimat terakhir Anaya terucap. Tak ada lagi yang benar-benar perlu dikatakan. Namun, tak satu pun dari mereka segera beranjak. Seakan waktu berhenti sejenak di antara mereka.
Mahendra mengembuskan napas pelan. Lalu, seolah baru teringat sesuatu yang sejak tadi menggantung di ujung pikirannya, ia kembali membuka suara.
"Anaya."
Anaya mengangkat wajah.
"Kamu masih tinggal di alamat yang sama?"
Pertanyaannya terdengar sederhana. Namun bagi Anaya, kalimat itu seperti membuka satu ruang kecil di hatinya yang selama ini tertutup rapat.
"Iya, Pak," jawabnya setelah jeda singkat. "Masih di sana. Tapi sekarang, tinggal di rumah kakek."
Mahendra mengangguk perlahan. Ia memang tahu.
Dulu, ia cukup sering datang ke rumah Dian dan Mulyo. Rumah itu berada tak jauh dari rumah orang tua Mulyo--hanya berjarak 100 meter saja, dipisahkan beberapa rumah. Anak menantu, dan orang tua yang tinggal di kawasan yang sama. Pada tahun-tahun itu, pemandangan seperti ini masih mudah dijumpai di banyak sudut Jakarta.
"Kalau ... suatu hari saya punya waktu, bolehkah saya berkunjung?" ucapnya perlahan, seolah menimbang setiap kata.
"Kalau kamu tidak keberatan." tambahnya lagi.
Anaya tidak langsung menjawab. Ia menunduk. Ujung jarinya meremas ringan tepi buku catatan di tangannya. Ada sesuatu yang bergerak di dadanya, bukan kecurigaan.
Lebih seperti kebingungan tentang bagaimana seharusnya ia menanggapi seseorang, yang ia lupa pernah hadir.
"Saya tidak keberatan." ucapnya lembut. "Bapak bisa berkunjung kapan saja."
Mahendra menatapnya sejenak, seolah memastikan ia tidak salah dengar. Napas lega meluncur begitu saja dari dadanya.
***
Tak lama setelah itu, percakapan mereka berakhir dengan sendirinya. Anaya kemudian berbalik, melangkah menuju dapur. Beberapa menit kemudian, ia kembali membawa pesanan Mahendra. Sebungkus nasi goreng. Ia memberikannya pada Mahendra dengan senyuman.
"Pesanannya, Pak."
Mahendra menerima bungkusan itu dengan kedua tangannya. "Terima kasih."
Ia berdiri, lalu melangkah ke arah kasir. Hampir bersamaan, Lita muncul dari arah belakang. Wajahnya tampak lebih segar--sisa istirahat singkat yang baru saja ia ambil. Melihat Mahendra, Lita bergegas mendekati meja kasir. Ia menoleh sejenak pada Anaya seraya berbisik.
"Biar aku saja Nay."
Anaya hanya mengangguk, dan membiarkan Lita melakukannya. Jari-jari lentik itu bergerak cekatan saat menggunakan mesin kasir, sebelum menatap ke arah Mahendra.
"Totalnya jadi empat puluh ribu, Pak." ucap Lita dengan senyum ramah sesuai SOP.
Mahendra membuka dompet dan membayar. Namun sebelum benar-benar beranjak, pandangannya bergeser. Anaya berdiri tidak jauh dari meja kasir. Dari saku dalam jaketnya, Mahendra mengeluarkan selembar kertas kecil yang terlipat rapi. Ia melangkah satu langkah mendekat.
"Ini," katanya pelan.
Anaya refleks menerimanya. Di atas kertas itu tertulis sebuah nomor telepon dan alamat rumah Mahendra yang baru.
"Kalau suatu saat ada apa-apa, kamu bisa menghubungi saya."
Anaya tertegun. Jemarinya menahan lipatan kertas itu sedikit lebih lama dari yang ia sadari. Ia lalu mengangguk kecil, tersenyum sopan.
"Makasih, Pak."
Mahendra membalas dengan senyum tipis. "Panggil Om saja. Waktu kecil kan, kamu selalu manggil saya Om."
Anaya sedikit terkejut. Namun senyum kecil tetap terbit di wajahnya.
"Om ... Hendra," ucapnya perlahan. Masih canggung.
Mahendra tertawa singkat, tangan kanannya terangkat perlahan untuk menepuk lembut bahu Anaya. "Jaga kesehatanmu Anaya. Titip salam buat Nenek sama adikmu."
Ia melirik ke arah pintu kaca. "Saya pamit dulu."
Anaya mengangguk. "Iya Om, hati-hati di jalan."
Mahendra melangkah pergi. Pintu kaca terbuka. Angin malam menyelinap singkat ke dalam ruangan, lalu pintu itu menutup kembali di belakang punggungnya. Beberapa detik setelah sosok Mahendra menghilang di balik pantulan kaca, Lita langsung menoleh ke arah Anaya. Alisnya terangkat.
Anaya masih berdiri di tempatnya. Tatapannya tertahan di pintu kaca yang sudah kembali memantulkan cahaya ruangan. Kalimat Mahendra tadi kembali terlintas di kepalanya.
"Saya mengenal ibumu."
"Anaya," Lita memanggilnya sekali.
Namun Anaya tidak menjawab.
Lita memperhatikannya sejenak, menyadari bahwa temannya sedang melamun.
"Anaya," dia memanggil lagi dengan sedikit lebih keras.
Karena tak kunjung mendapatkan respons, Lita yang mulai khawatir menepuk pundak Anaya.
"Anaya!"
Anaya tersentak.
"Ya Allah, Nay. Kamu ngelamunin apa sih? Dari tadi aku manggil kamu," ujar Lita dengan khawatir, ia sedikit mencondongkan tubuhnya untuk melihat wajah Anaya lebih jelas, memastikannya baik-baik saja.
"Kamu kenapa sih, Nay? Ada masalah?"
"Enggak kok," Anaya cepat menggeleng. "aku nggak apa-apa. Aku cuma ... kecapean aja."
Mendengar itu, Lita tampak tidak yakin. Ia tahu betul bahwa Anaya sedang tidak baik-baik saja. Namun ia juga tidak ingin menekannya. Karenanya, ia memilih untuk diam dan mengangguk-anggukkan kepalanya, sebelum rasa penasaran menghantuinya lagi.
"Anaya, maaf nih ya. Aku nggak bermaksud apa-apa. Maaf banget, kalau aku terkesan ikut campur masalah kamu. Tapi ... apa aku boleh tahu, siapa Bapak tadi?" tanyanya pelan.
Anaya menunduk, menatap kertas kecil di tangannya. Tak lama, pandangannya tertuju pada Lita dengan senyum tipis.
"Beliau teman lama orang tuaku."
Lita memicingkan mata. "Jadi Bapak itu, kerabat kamu?"