When Fate Brought Us Together

Raffa Akbar
Chapter #16

Bab 16 - Senyum yang Menyimpan Luka


"Ada apa, Pak?" tanya Anaya pelan.


Zainal tampak sedikit ragu, sesuatu yang jarang terlihat dari pria itu. Ia berdeham kecil sebelum akhirnya berbicara.


"Rumahmu jauh dari sini?"


Pertanyaan itu membuat Anaya sedikit mengernyit, seolah mencoba memahami arah pembicaraan.


"Enggak terlalu, Pak. Masih di daerah sini." Ia berhenti sebentar, lalu menambahkan, "Memangnya kenapa, Pak?"


"Kamu mau saya antar pulang?"


Suasana mendadak berubah canggung.

Udara malam yang semula terasa biasa saja, kini seperti menahan napas di antara mereka. Anaya menatapnya beberapa detik, memastikan ia tidak salah dengar.


Zainal--atasannya sendiri--baru saja menawarkan untuk mengantarnya pulang.

Selama ini pria itu selalu terlihat tenang dan menjaga jarak. Berbicara seperlunya, bersikap profesional, dan hampir tidak pernah mencampuri urusan pribadi karyawannya. Karena itu, tawaran sederhana tadi terasa jauh lebih mengejutkan dari yang seharusnya.


Anaya terdiam. Bukan karena tidak tahu harus menjawab apa, melainkan karena ia tidak pernah membayangkan situasi seperti ini sebelumnya.


Di dalam restoran, dari balik jendela kaca, dua pasang mata memperhatikan mereka.

Cipto yang sejak tadi berdiri dekat jendela langsung menyikut pelan lengan Baldi.


"Pak Zain ngajakin Anaya pulang?" bisiknya pelan. "Gua nggak salah lihat, nih?"


Baldi tidak menjawab.


Ia hanya berdiri dengan kedua tangan di sisi tubuhnya, matanya tertuju pada dua sosok di luar pintu. Ekspresinya sulit ditebak, seperti sedang berpikir, sebelum ia akhirnya menghembuskan napas pendek. Cipto masih menatap ke arah pintu dengan alis terangkat.


"Ini di luar dugaan," gumamnya pelan. "Kenapa mendadak Pak Zain mau nganterin Anaya pulang?"


Ia melirik Baldi. "Lo tahu sesuatu, Bal?"


"Nggak tahu," jawab Baldi singkat.


Nada suaranya datar. Dan dari caranya kembali memandang ke luar jendela, jelas ia tidak berniat menambahkan apa pun lagi.


Sementara itu, di luar restoran, Anaya masih berdiri di tempat yang sama. Pikirannya bergerak cepat. Kalau diantar pulang, berarti ia tidak perlu naik angkot malam ini. Tidak perlu keluar ongkos lagi.


"Kalau ... nggak merepotkan Bapak," katanya hati-hati.


Jawaban itu membuat Zainal sedikit terdiam, seperti tidak benar-benar menyangka Anaya akan menerimanya.

Namun tak lama kemudian ia mengangguk pelan.


"Tidak merepotkan."


Nada suaranya tetap tenang, namun sudut bibir Zainal terangkat tipis--senyum kecil yang bahkan mungkin tak ia sadari sendiri.

Pandangannya jatuh pada kantong plastik di tangan Anaya. Ia lalu mengulurkan tangan.


"Biar saya bawakan barangmu ke mobil."


"Makasih, Pak."


Zainal mengambil dua kantong plastik besar dari tangan Anaya, lalu berjalan menuju mobilnya yang terparkir di ujung deretan. Ia membuka bagasi dan menaruh kantong-kantong plastik itu dengan hati-hati di dalamnya. Setelah memastikan semuanya rapi, ia menutup bagasi perlahan.


Disaat yang bersamaan, Anaya sudah berjalan ke sisi mobil menuju pintu penumpang. Tangannya baru saja hendak meraih gagang pintu.


Klik.


Pintu itu terbuka lebih dulu.


Anaya sedikit terkejut. Ia menoleh. Zainal sudah berdiri di sana, satu tangan masih memegang gagang pintu yang baru saja ia tarik.


Pria itu berdehem pelan, seperti seseorang yang tiba-tiba sadar sedang melakukan sesuatu yang tidak biasa.


"Ehem, silakan." ucapnya singkat. Lalu ia sedikit memiringkan kepala ke arah kursi penumpang.


Anaya berkedip beberapa kali, masih sedikit kaget dengan perlakuan itu. Namun ia segera tersenyum kecil.


"Makasih, Pak."


Ia masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi penumpang. Pintu tertutup kembali dengan bunyi pelan. Tak lama, Zainal sudah berada di kursi pengemudi.


Mobil hitam itu perlahan keluar dari parkiran restoran, lalu bergabung dengan jalan yang tidak terlalu ramai malam itu.

Di dalam mobil, suasana mendadak terasa canggung. Tak ada yang berbicara. Hanya suara mesin yang berdengung lembut dan sesekali bunyi kendaraan yang melintas dari arah berlawanan.


Anaya menatap keluar jendela. Lampu-lampu jalan lewat satu per satu, memantul di kaca seperti garis-garis cahaya yang bergerak. Zainal memegang setir dengan kedua tangan. Pandangannya lurus ke depan, namun pikirannya jelas sedang mencari sesuatu untuk dikatakan. Dan kemudian, akhirnya ia membuka suara.


"Anaya,"


Anaya menoleh sedikit ke arahnya.


"Saya dengar dari Baldi, katanya kamu masih kuliah?" lanjut Zainal, masih fokus pada jalan.


"Iya, Pak," jawab Anaya.


Zainal mengangguk kecil. "Kuliah jurusan apa, kalau saya boleh tahu?"


"Ekonomi, Pak."


Zainal meliriknya sekilas, lalu tersenyum tipis.


"Ekonomi? Wah, sama dong sama saya."


Anaya terlihat sedikit terkejut. Ia menoleh lebih penuh ke arahnya.


"Pak Zain jurusan ekonomi juga?"


Zainal menggeleng kecil sambil tetap mengemudi.


"Lebih tepatnya manajemen bisnis," katanya santai. "Masih satu keluarga lah sama ekonomi."


Anaya tertawa kecil.


"Iya juga sih, Pak."


Suasana di dalam mobil perlahan mulai mencair. Canggung yang tadi menggantung di udara pelan-pelan memudar, digantikan percakapan ringan yang mengalir lebih mudah.


Mobil terus melaju di jalan malam yang diterangi lampu-lampu kota. Dan tanpa mereka sadari, perjalanan yang awalnya terasa canggung itu mulai berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih nyaman.


Zainal ikut tertawa pelan mendengar jawaban Anaya tadi. Tawa ringan yang keluar begitu saja, tanpa beban. Tangannya meraih tombol radio di dashboard. Tak lama, musik lembut mengalun memenuhi kabin mobil. Lagu lama dengan tempo santai, cukup pelan untuk menemani perjalanan tanpa mengganggu percakapan. Mobil hitam itu terus melaju menembus jalan malam yang diterangi lampu-lampu kota.


Beberapa menit berlalu.


Zainal tetap menatap jalan di depannya, kedua tangannya mantap di setir. Namun kemudian, seolah teringat sesuatu, ia kembali membuka percakapan.


"Kamu umur berapa, Anaya?"


"Dua puluh, Pak."


Tepat saat itu mobil berhenti di persimpangan lampu merah. Zainal menoleh sekilas ke arah kursi penumpang.


"Dua puluh?" Ia mengangkat alis sedikit. "Masih muda banget, berarti."


Anaya ikut menoleh, lalu tersenyum kecil.


"Ya masih lah, Pak. Bapak kan bisa lihat."


Zainal tertawa pelan. "Iya ya."


Lampu merah masih menyala. Untuk sesaat, percakapan mereka kembali berhenti. Musik dari radio tetap mengalun pelan di latar. Lalu Zainal menoleh lagi, kali ini dengan sudut bibir yang sedikit terangkat.


"Kamu nggak nanya umur saya berapa?"


Anaya yang sedang menatap ke depan langsung menoleh cepat, sedikit salah tingkah.


"Eh, emm," Ia berdehem kecil. "Emangnya umur Pak Zain berapa?"


"Lebih tua empat tahun dari kamu," jawab Zainal santai. "Tapi belum cukup tua untuk dipanggil Bapak."


Anaya langsung menunduk sedikit, senyumnya muncul tapi malah terlihat canggung.


"Sebenarnya ...," lanjut Zainal sambil kembali mengarahkan pandangan ke jalan, "saya nggak masalah kamu manggil saya Bapak."


Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada ringan. "Cuma rasanya, agak aneh aja di telinga saya."


"Kan bukan saya doang yang manggil Pak Zain begitu," kata Anaya pelan.


"Iya, memang benar."


Zainal menoleh lagi ke arahnya, kali ini dengan tatapan yang sedikit lebih lama.


"Tapi kalau itu kamu ... saya bisa buat pengecualian."


Anaya terdiam.


Tatapannya sempat bertahan beberapa saat pada wajah Zainal, sebelum akhirnya ia menunduk pelan. Jemarinya bergerak kecil di atas pahanya, seolah mencari sesuatu untuk dilakukan agar tidak terlalu terlihat canggung.


Lampu lalu lintas berubah hijau. Mobil kembali melaju perlahan menyusuri jalan malam. Zainal kembali membuka percakapan.


"Apa kamu nggak nyaman sama saya, Anaya?" Nada suaranya hangat, tanpa tekanan.


Anaya langsung menggeleng cepat. "Enggak kok, Pak."

Lihat selengkapnya