Jakarta, 1999
Fajar baru saja merambat pelan di langit Jakarta. Langit masih berwarna biru gelap, namun garis tipis cahaya mulai muncul di ufuk timur. Dari kejauhan, suara azan subuh menggema, saling bersahutan dari satu masjid ke masjid lain, mengisi ruang-ruang sunyi yang belum benar-benar terbangun.
Seorang pria terbangun di atas sofa, di ruang tamu.
Mulyono Hadi Saputro, atau yang biasa dipanggil Mulyo--menggerakkan bahunya pelan, mencoba mengusir pegal yang menempel setelah semalaman tidur di sana. Kemeja yang ia kenakan masih rapi, meski sedikit kusut di beberapa bagian. Ia belum sempat berganti sejak semalam.
Ia berjalan menuju kamar mandi. Tak lama kemudian, ia keluar dengan pakaian yang sudah berganti. Langkahnya kemudian beralih ke lantai atas.
Pintu kamar pertama dibukanya perlahan.
Di dalam, seorang anak perempuan masih terlelap di atas kasurnya. Rambut pendeknya sedikit berantakan, sebagian menutupi wajahnya yang tenang.
Mulyo mendekat. Tangannya terangkat, mengusap lembut rambut itu.
"Nay," suaranya rendah. "Anaya, sayang ... bangun yuk. Kita salat."
Anaya menggeliat pelan. Matanya terbuka setengah, tangannya refleks mengusap wajah. Kemudian, pandangannya mulai fokus--menemukan sosok ayahnya di samping tempat tidur.
"Cuci muka dulu, ya," lanjut Mulyo lembut. "Habis itu ambil wudhu. Kita salat."
Anaya mengangguk kecil. "Iya, Ayah,"
Mulyo tidak menunggu lama. Ia berbalik menuju kamar berikutnya.
Lampu dinyalakan. Cahaya kuning menyebar pelan, menyingkap sosok kecil yang masih terbaring di atas ranjang.
Aldo.
Mulyo duduk di tepi kasur, tangannya langsung terangkat menyentuh keningnya.
"Aldo," panggilnya pelan. "Bangun, yuk."
Anak itu bergumam pelan. "Nggh ..."
Mulyo mengelus rambutnya.
"Aldo mau salat nggak, Nak?" tanya Mulyo lagi, masih dengan nada yang sama.
Aldo mengangguk. "Mau,"
Mulyo tersenyum tipis. Tangannya kembali mengusap rambut anak itu.
"Ya sudah. Cuci muka dulu, ya. Habis itu wudhu. Kita salat bareng."
Setelah memastikan Aldo bisa berdiri dengan baik, Mulyo bangkit. Ia keluar dari kamar itu dan pergi ke kamarnya. Kamar itu dibuka pelan. Di dalamnya, istrinya, Dian, masih terbaring di kasur.
Mulyo berdiri di ambang pintu. Diam sejenak. Dia sudah terbiasa dengan pemandangan seperti ini. Sudah empat hari, sejak ia memutuskan untuk tidak seranjang dengan Dian. Sebelumnya, saat masih satu kamar, Mulyo akan membangunkan istrinya dengan cara yang lebih lembut. Menyentuh bahunya, lalu mengusap pipinya. Tapi kali ini tidak.
"Dian," panggilnya akhirnya. Suaranya datar. "Bangun, sudah subuh. Waktunya salat."
Tidak ada jawaban. Mulyo menghela napas pelan. Mencoba membangunkannya lagi, tapi tetap sama. Karena tak kunjung mendapatkan respon, Mulyo akhirnya melangkah keluar kamar menuju ruang salat.
***
Setelah menunaikan ibadah salat subuh, Mulyo pergi ke dapur untuk memasak sarapan. Ia memasak cukup cepat, menyajikan empat piring nasi goreng dengan telur di atas meja. Tak lama, suara langkah kaki terdengar dari tangga.
Anaya muncul lebih dulu. Seragam merah putihnya sudah rapi dikenakan. Rambutnya disisir sederhana, tas sekolahnya ia letakkan di salah satu kursi sebelum duduk. Lalu, Aldo menyusul.
Mulyo sempat melirik ke arah lantai atas. Tidak ada tanda-tanda istrinya akan turun. Ia lalu menoleh pada Anaya.
"Nay, Ibumu udah kamu panggil buat sarapan?"
Anaya terdiam sebentar. Matanya sempat turun ke meja, lalu kembali ke ayahnya.
"Ibu udah aku panggil, udah aku bangunin juga. Tapi Ibu malah marah-marah." jawabnya pelan sambil mengaduk nasi.
Ada nada sedih yang terselip di kalimat itu. Mulyo tidak langsung menjawab. Tangannya terangkat, mengusap kepala Anaya, lalu berpindah ke Aldo.
"Kalian sarapan dulu, ya," katanya akhirnya. "Biar Ayah yang panggil Ibu."
Keduanya mengangguk. Mulyo berbalik.
Ia naik tanpa suara, lalu berhenti di depan pintu kamar. Tanpa mengetuk, ia langsung membukanya.
Di dalam, Dian sudah bangun. Dia duduk di depan meja rias, menatap bayangannya sendiri di cermin. Rambutnya disisir perlahan, wajahnya datar, tidak menunjukkan apa pun.
Mulyo masuk, kemudian menutup pintu.
"Kamu kenapa sih, Dian?" Nada suaranya tidak lagi lembut.
Dian menoleh. Tatapan mereka bertemu di cermin, sebelum akhirnya ia benar-benar menghadap ke arahnya.
"Kamu marahin Anaya cuma gara-gara bangunin kamu?" lanjut Mulyo. "Kamu kenapa, hah?"
Dian berdiri. Langkahnya mendekat, berhenti tepat di depan Mulyo.
"Mau kamu apa sih, Dian?" tanya Mulyo lagi.
Dian tidak langsung menjawab. Tatapannya tajam. Mulyo membalas dengan tatapan yang sama.
"Kamu kalau ada masalah sama aku, jangan marahin anak-anak!" Tangannya terangkat, menunjuk ke arah Dian--lalu ke arah pintu.
Dian menatap Mulyo, lama. "Mas kira aku sengaja marahin Anaya?" suaranya pelan, tapi nadanya menusuk. Ia tertawa kecil. "Atau sekarang apa pun yang aku lakuin selalu salah di mata Mas?"
Mulyo diam, tangannya mengepal.
Hening sesaat, Dian maju satu langkah menatap suaminya. "Mas terlalu sibuk sama prasangka Mas sendiri, sampai lupa lihat aku yang sebenarnya. Mas itu, nggak pernah merhatiin aku."
"Nggak merhatiin kamu?" Mulyo memicingkan matanya menatap sang istri.
"Aku selalu merhatiin kamu. Anak-anak. Aku selalu merhatiin keluarga kita, selalu memprioritaskan kalian. Tapi kamu? Kamu yang--" Kalimatnya terputus. Napasnya mulai berat. Mulyo menggeleng pelan, seolah menahan sesuatu yang hampir keluar.
Napasnya mulai berat. "Aku tuh ada di rumah ini, Mas. Tapi Mas yang terus ngejauh." Ia menyunggingkan senyum yang tampak seperti ejekan. "Terus sekarang aku yang disalahin?"
"Kamu sadar nggak sih kamu lagi ngomong apa?" Mulyo merendahkan suaranya. Ia maju satu langkah. "Kamu ngomong seolah-olah aku yang ninggalin kamu ..."
Tatapannya mengunci Dian. "Padahal kamu sendiri yang milih untuk pergi dari rumah ini." Rahangnya mengeras. "Kamu yang milih untuk ninggalin kami."
Merasa disudutkan, Dian justru mengangkat dagunya sedikit. Suaranya dinaikkan.
"Aku tuh capek, harus selalu nurutin kemauan kamu. Capek harus jadi apa yang kamu mau. Jadi istri yang sempurna ... yang harus selalu nurutin suaminya." Tatapannya tidak goyah, seolah menantang. "Atau Mas emang butuh aku jadi orang jahat, biar Mas ngerasa paling benar?"
Udara mulai terasa berat. Keheningan menyelimuti mereka selama beberapa saat. Hingga akhirnya Dian tertawa sejenak. Lalu menggeleng pelan.
"Mas itu nggak pernah ngerti," lanjutnya pelan. Ia menarik napas panjang, tapi justru terdengar bergetar. Matanya kembali menatap Mulyo--kali ini lebih keras. "Nggak pernah mau ngerti."
"Aku begini tuh gara-gara kamu, Mas. Aku jadi begini, itu semua gara-gara Mas. Mas nggak sadar apa?" Dadanya naik turun. Napasnya mulai tidak teratur. "Aku tuh udah capek sama kamu, Mas."
Dian menggelengkan kepalanya. Matanya bergetar menatap suaminya. Dengan tangan yang bergetar, Dian menunjuk wajah Mulyo lalu berteriak. "Aku capek, Mas!" suaranya pecah. "Aku capek sama kamu!"
"Kalau kamu capek sama aku, jangan marahin anak-anak! Jangan jadiin mereka pelampiasan kamu!" balas Mulyo, tak kalah keras.
"Terus aku harus gimana?!" bentak Dian. "Aku muak sama semuanya!"
Mulyo tertawa pendek, tanpa humor.