When Fate Brought Us Together

Raffa Akbar
Chapter #18

Bab 18 - Di Balik Pintu yang Terbuka

Halaman sekolah sudah ramai. Anak-anak berlarian, sebagian saling mengejar, sebagian lagi duduk berkelompok di bawah pohon tua yang menaungi sudut lapangan. Semuanya tampak biasa. Sampai-sampai, rasa tidak nyaman itu seolah ikut bersembunyi di antara keramaian.


Anaya menghentikan langkahnya. Ia menoleh ke arah adiknya.


"Kamu nggak apa-apa nih, Kakak tinggal?"


Aldo mengangkat wajahnya. Ia mengangguk pelan. Namun tangannya yang kecil sedikit gemetar, seolah menyimpan sesuatu yang tidak ingin ia tunjukkan.


Anaya mengulurkan tangan, mengusap rambut adiknya dengan lembut. Dalam hatinya, ada rasa takut yang sama. Ia juga pernah merasakannya.


"Nanti kalau ada yang gangguin kamu lagi, bilang ke Kakak," ucapnya, mencoba terdengar tegas. "Biar Kakak laporin ke guru!"


Kalimat itu terdengar seperti janji, seperti perlindungan. Aldo menatapnya sebentar, lalu bertanya polos.


"Emangnya guru bakalan nolongin, Kak?"


"Kayaknya sih, enggak." Anaya terkekeh, memperlihatkan giginya.


Bel sekolah berbunyi, memecah jeda yang canggung.


"Kakak masuk ke kelas dulu ya."


Anaya melambaikan tangan, berbalik tanpa menunggu jawaban. Aldo membalas lambaian itu, lalu berjalan menuju kelasnya sendiri.


***


Di dalam kelas, Anaya duduk di barisan tengah. Namun, seperti biasanya, tiba-tiba rambutnya ditarik dari belakang. Seketika kepalanya tersentak sedikit, tapi ia diam saja.


Ia sempat mendengar suara tawa yang diiringi cekikikan kecil. Anaya tidak menoleh. Ia tahu, kalau melawan hanya akan membuat semuanya lebih panjang. Lalu, sebuah bayangan jatuh di atas mejanya. Seorang anak laki-laki berdiri di depannya. Budi namanya.


"Anaya," katanya, nada suaranya santai, seolah hendak memulai obrolan biasa.


"Aku denger dari mamaku ..." Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan, "Katanya, mamamu itu jalang ya?"


Anaya tidak langsung merespons. Di sampingnya, Gita menoleh dengan wajah bingung.


"Jalang itu apa?" kata Gita.


Budi mengangkat bahu dengan acuh.


"Aku nggak tahu. Tapi mamaku bilang begitu. Kata mamaku, mama Anaya itu jalang."


Matanya kembali tertuju pada Anaya.


"Bener nggak, Anaya? Mama kamu itu jalang?" ulang Budi.


Anaya tetap diam. Kata itu asing di telinganya. Ia tidak benar-benar mengerti artinya. Namun dari cara mereka mengucapkannya, dan dari ekspresi mereka, ia tahu itu bukan sesuatu yang baik.


Budi kembali bicara, kali ini lebih keras. "Anaya anak jalang."


Kalimat itu menggantung sebentar, lalu diikuti yang lain.


"Anaya anak jalang,"


Nada mereka berubah. Bukan lagi sekadar mengulang. Ada ejekan di sana, ada kesenangan yang aneh saat melihat seseorang disudutkan. Anaya menggenggam ujung roknya. Dadanya terasa sesak.


"Mamaku bukan jalang!" suaranya pecah.

Lebih keras dari yang ia rencanakan.


Hening sejenak. Lalu, Budi kembali meledek.


"Yaah hahaha, dia nangis!"


***


Bel pulang berbunyi.


Di bawah pohon tua di sudut lapangan, Aldo berdiri sendirian. Tangisnya pecah tanpa bisa ditahan. Satu kakinya masih bersepatu. Sedangkan yang satunya lagi menapak tanah, dan lututnya berdarah.


Anaya yang baru keluar kelas langsung menangkap pemandangan itu. Dia segera datang menghampiri.


"Do!" Ia mendekat, berdiri di depan adiknya. "Sepatu kamu ke mana?"


Aldo mengusap air matanya dengan kasar.

"Sepatu aku ... ilang, Kak. Diumpetin sama mereka," suaranya putus-putus.


Anaya menoleh. Tak jauh dari sana, sekelompok anak laki-laki nakal berdiri sambil menahan tawa. Salah satu dari mereka tampak menyembunyikan sesuatu di belakang tubuhnya.


Anaya berdiri. Wajahnya berubah menjadi marah. "Balikin nggak sepatu adik aku!"


"Nggak mau!" jawab salah satu dari mereka. Disusul tawa yang saling bersahutan.


Anaya melangkah mendekat. Satu langkah, dua langkah.


"Balikin!" suaranya meninggi, bergetar antara marah dan takut. Namun sebelum ia bisa berbuat lebih jauh, sebuah dorongan keras mengenai bahunya, membuatnya kehilangan keseimbangan.


Bruk.


Ia jatuh duduk ke tanah. Debu menempel di seragamnya, roknya langsung kotor. Telapak tangannya perih menahan jatuh.


"Ya Allah-"


Suara langkah tergesa mendekat. Bu Nur, wali kelasnya, datang menghampiri dengan wajah yang panik. Ia segera membantu Anaya berdiri, mengangkatnya dengan hati-hati.


"Kamu nggak apa-apa, Anaya?"


Anaya mengangguk pelan. Bu Nur menepuk-nepuk rok Anaya, berusaha membersihkan debu yang menempel. Namun bekasnya tetap terlihat jelas.


Di belakang mereka, tangis Aldo masih terdengar. Bu Nur menoleh ke arah Aldo, lalu ke samping. Tatapannya langsung berubah saat melihat sekelompok anak laki-laki nakal itu.


"Kalian lagi rupanya. Kalian habis ngapain tadi?" suaranya tegas.


Anak-anak itu saling melirik. "E-enggak, Bu. Kita nggak ngapa-ngapain."


"Bohong."


Suara Bu Nur kali ini tidak tinggi, tapi cukup untuk membuat mereka diam. Matanya menangkap sesuatu, sepatu hitam yang disembunyikan di balik tubuh salah satu anak. Ia kembali melirik ke arah Aldo dan Anaya. Ia langsung paham melihat situasinya.


"Kamu ngumpetin sepatu Aldo lagi?"


Anak itu menunduk sedikit. "E-enggak, Bu,"


"Itu Ibu lihat di belakangmu. Kamu pegang sepatu. Balikin ke ibu." Nada Bu Nur semakin tegas, menunjuk ke arah mereka.


Anak itu ragu.


"Sekarang."


Perlahan, sepatu itu diserahkan.


"Terus, minta maaf sama Aldo dan Anaya."


"I-itu,"


"Cepat. Atau Ibu panggil orang tua kalian?"

Ancaman itu cukup untuk membuat mereka takut.


"Maafin kami,"


"Ulangi. Yang tulus."


Anak-anak itu menelan ludah.

"Maafin kami, Anaya. Maafin kami, Aldo."


Tak menunggu lebih lama, mereka segera berbalik dan berlari menjauh. Bu Nur menghela napas pelan. Ia berjongkok di depan Aldo, lalu memasangkan sepatunya yang tadi sempat hilang.


"Kamu nggak apa-apa, sayang?"


Aldo menggeleng. Tangisnya belum mereda.


Bu Nur terdiam. Ada sesuatu di matanya. Rasa kasihan, dan juga sedih yang tak bisa lagi disembunyikan.


"Kalian dijemput sama siapa?" tanyanya lembut.


"Sama kakek nenek kami, Bu," jawab Anaya pelan.


"Begitu ya."


Bu Nur tersenyum tipis. Lalu ia menggenggam tangan keduanya--hangat dan menenangkan.


"Ibu temani sampai mereka datang, ya?"


Keduanya mengangguk. Dan Bu Nur menemani mereka di depan gerbang. Anaya dan Aldo berdiri di samping Bu Nur.


Keduanya diam. Tak lama, sebuah mobil tua berhenti tepat di depan gerbang.


Pintu mobil terbuka.


Dari dalam, seorang wanita paruh baya turun lebih dulu. Nenek Yanti. Dan dalam satu pandangan saja, wajahnya langsung berubah. Di belakangnya, Kakek Beni ikut turun. Langkahnya lebih tenang, tapi sorot matanya tajam.


"Ya Allah, kalian habis diapain?" suara Nenek Yanti bergetar, penuh kekhawatiran.


"Astaghfirullah ... Aldo, Anaya," Kakek Beni menatap Bu Nur.


"Halo, Bapak, Ibu. Saya Nur, wali kelasnya Anaya."


Belum sempat suasana mereda, Nenek Yanti langsung melangkah maju.


"Cucu saya kenapa? Kenapa seragam mereka pada kotor begini?" Nada suaranya tegas, nyaris meledak. Kakek Beni segera memegang tangan istrinya, menahannya pelan.


"Tenang dulu," bisiknya pada istrinya. Lalu ia kembali menatap Bu Nur. "Apa yang terjadi sama cucu saya?"


Bu Nur menunduk sebentar. Ada rasa tidak enak yang jelas terlihat di wajahnya.


"Bapak, Ibu, silakan masuk dulu ke ruangan saya. Kita bisa bicara di sana."

Lihat selengkapnya