When Fate Brought Us Together

Raffa Akbar
Chapter #20

Bab 20 - Di Antara Dua Arah

Lorong itu kembali sunyi setelah pintu ruang rapat tertutup. Langkah-langkah kaki yang tadi memenuhi ruang kini perlahan menjauh. Lukman, Erwin, dan Ningsih berjalan lebih dulu. Suara mereka meredup di balik belokan koridor.

Yang tersisa hanya empat orang. Burhan berdiri di tempatnya, tangannya dimasukkan ke saku celana. Tatapannya lurus ke depan, seolah masih memikirkan sesuatu. Sementara di sisi lain, Suryo melirik sekilas ke arah Zainal, lalu ke Burhan. Ia mengerti isyarat Burhan yang ingin bicara berdua dengan Zainal.

"Saya duluan. Om tunggu kabar baiknya." ucap Suryo ringan, menepuk bahu Zainal sekali. Zainal hanya mengangguk tipis.

Irawan ikut mundur satu langkah. "Saya tunggu di bawah, Pak," katanya pada Burhan.

Burhan hanya memberi anggukan pendek.

Tanpa banyak kata, Suryo dan Irawan berjalan menjauh, meninggalkan lorong itu sepenuhnya untuk mereka berdua. Zainal berdiri beberapa langkah dari ayahnya. Jarak itu tidak jauh—tapi cukup untuk menunjukkan sesuatu yang tidak pernah benar-benar hilang sejak tujuh tahun lalu.

Burhan akhirnya berbalik. "Ayah tidak akan banyak ikut campur soal cara kamu menyelesaikan ini. Selama hasilnya jelas." kalimat itu terdengar seperti kepercayaan, yang memiliki batas.

Zainal mengangguk sekali. "Ya, saya tahu. Ayah nggak perlu khawatir. Saya pasti akan menangani ini dengan baik." ucapnya dengan ekspresi datar. Jelas sekali ia masih mempertahankan tembok itu di antara mereka.

Burhan menatapnya sejenak lebih lama. Ada sesuatu yang tertahan di sana—sesuatu yang tidak ia ucapkan.

"Ayah tidak memanggil kamu hanya karena kamu bisa," katanya akhirnya, lebih pelan.

Zainal sedikit mengangkat pandangan.

"Ayah memanggil kamu karena ... kamu memang seharusnya ada di sini."

Kalimat itu menggantung, tidak dijelaskan lebih jauh. Zainal tidak langsung menjawab. Lorong itu kembali hening, hanya suara pendingin ruangan yang terdengar samar.

Burhan menarik napas pelan, lalu mengembuskannya. "Ayah tahu, kalau kamu enggan datang kemari. Tapi Zain, Ayah harap, kamu bisa bersikap profesional. Terlepas dari apa yang terjadi di antara kita."

Ia melirik arlojinya sekilas, kembali menatap Zainal. "Dan satu hal lagi, jika kamu punya waktu, tolong telepon ibumu sesering mungkin. Dia kangen kamu di rumah. Setiap hari selalu ngomongin kamu."

Burhan menatapnya lurus, seolah memastikan bahwa perkataannya benar-benar masuk ke telinga Zainal. "Ayah mohon sama kamu, masalah kita ... jangan sampai bikin ibumu jadi ikut khawatir."

Tidak ada jawaban. Burhan tidak menunggu. Ia segera berbalik dan melangkah pergi, langkahnya tetap tenang seperti sebelumnya. Zainal tetap berdiri di tempatnya beberapa saat. Baru setelah sosok itu menghilang di ujung koridor, ia menghembuskan napas perlahan.

Getaran halus dari saku celananya menarik perhatian. Zainal mengeluarkan ponselnya. Nama yang muncul membuat sudut bibirnya terangkat tipis. Baldi. Ia mengangkat panggilan itu.

"Halo."

"Halo, Zain. Lo masih di kantor?" suara di seberang langsung terdengar.

"Masih."

"Rapatnya gimana?"

Zainal menyandarkan tubuhnya ke dinding, sedikit rileks. "Lancar-lancar aja."

Baldi menghembuskan napas kecil. "Alhamdulillah. Gua sempat kepikiran lo di sana."

Zainal tersenyum tipis. "Kepikiran apaan?"

"Ya ... lo tahu sendiri. Tujuh tahun nggak muncul, tiba-tiba balik lagi ke situ. Gimana gua nggak khawatir coba?"

Zainal tidak langsung menjawab. Di ujung sana, Baldi kembali bertanya, nadanya sedikit lebih hati-hati.

"Ketemu bokap lo tadi ... aman?"

"Aman," jawab Zainal singkat.

"Yakin?"

Zainal menarik napas pelan. "Gua nggak akan drama di kantor, Bal."

Baldi tertawa kecil. "Iya juga sih."

Zainal mengalihkan topik. "Sera gimana?" Langsung berubah nada di seberang sana.

"Sera aman. Ramai kayak biasanya," jawab Baldi cepat. "Bahkan dari pagi tadi udah penuh banget. Menu baru juga mulai banyak yang pesan."

Zainal mengangguk kecil, meski tidak terlihat. "Bagus, bagus."

"Tenang aja. Di sini aman. Lo fokus aja di sana dulu."

Zainal tersenyum tipis. "Lo emang bisa banget diandalkan, Bal."

Baldi mendengus ringan. "Ya iyalah. Siapa dulu yang pegang."

Zainal menggeleng kecil mendengar suara sahabatnya. Ia tidak habis pikir dengan tingkahnya.

"Bal," katanya kemudian, nadanya sedikit lebih rendah, "Lu bisa ke sini nggak siang nanti?"

"Ke kantor?"

"Enggak." Zainal melirik sekilas ke arah ujung lorong, menatap lurus ke depan. "Di kafe depan sini. Yang pojok."

"Yang dulu kita suka makan?" tanya Baldi, memastikan.

"Iya."

"Ya udah. Jam makan siang, ya?"

Zainal mengangguk kecil, meski tidak terlihat. "Iya."

"Siap. Gua ke sana."

Panggilan terputus. Zainal menurunkan teleponnya perlahan. Tatapannya sempat kosong sebentar-seolah pikirannya masih tertinggal di ruang rapat tadi. Tak lama, ia menghela napas pelan. Tubuhnya didorong menjauh dari dinding. Langkahnya kembali bergerak, menyusuri lorong yang sama--kali ini tanpa berhenti.

***

Siang itu merambat pelan di antara deretan gedung Jakarta yang berdiri rapat seperti tidak mau memberi ruang kosong sedikit pun. Kafe di sudut jalan itu tidak besar, tapi tetap menonjol. Menjadikannya sebagai tempat yang nyaman untuk sekadar beristirahat dalam aktivitas kantor yang panjang.

Dari kaca besar di sisi ruangan, cahaya matahari masuk miring, menabrak meja kayu tempat Zainal duduk. Di depannya ada dua cangkir kopi. Zainal tidak banyak bergerak sejak Baldi belum datang. Namun pikirannya sudah bekerja lebih dulu.

Pintu kafe terbuka, membawa suara kota masuk sebentar sebelum kembali tertutup. Baldi masuk dengan langkah santai, matanya langsung mencari tanpa perlu lama. Begitu menemukan Zainal, ia mengangkat dagu kecil sebagai salam.

"Zain."

Zainal menoleh. Baldi menarik kursi, duduk, lalu menghembuskan napas pendek karena jalanan.

"Sorry ya, macet tadi."

Zainal hanya mengangguk kecil. "Santai aja."

Baldi melirik dua cangkir kopi di meja, lalu tersenyum tipis. "Wah, udah disiapin duluan."

"Minum dulu," jawab Zainal seraya menyodorkan secangkir kopi ke arahnya.

Baldi tidak membuang waktu. Ia langsung minum sedikit, tanpa terburu-buru. Setelah itu, tatapannya naik ke Zainal.

"Gimana tadi?"

Zainal tidak langsung menjawab. Ia memutar cangkirnya pelan, seperti mencari urutan kalimat yang tepat di dalam kepala.

"Yaaa ... kayak biasalah. Lumayan ribet."

Baldi terkekeh. "Tapi yang penting udah beres, kan?"

Zainal mengangguk. "Ya begitulah." Ia menyeruput kopinya perlahan, seraya melirik ke arah jendela.

Beberapa menit berlalu sebelum tatapannya kembali pada Baldi.

"Ngomong-ngomong, gue ketemu om Suryo tadi." Nada suara Zainal tetap datar. Namun cukup membuat Baldi yang semula bersandar santai kini mengangkat pandangannya penuh perhatian. Zainal melanjutkan setelah menyeruput sedikit kopinya. "Beliau ternyata udah tahu banyak soal Sera. Nyokap yang cerita. Katanya restoran kita udah stabil secara pembeli. Terus ... nyokap juga sempat nyinggung ke om gua, kalau gua lagi kepikiran buka outlet kedua."

Baldi tetap diam. Ia tahu, kalau Zainal sudah mulai bercerita seperti itu, berarti ada sesuatu yang benar-benar mengusik pikirannya.

Zainal memutar pelan cangkir kopinya. "Awalnya beliau nanya soal Sera. Mulai dari kondisi restoran sampai rencana gue ke depan. Gue bilang, sementara ini fokus gue masih ngebesarin yang sekarang. Tapi kalau perkembangannya tetap bagus, gue memang kepikiran buka outlet kedua."

Ia tersenyum tipis, seolah masih mengingat nada bicara pamannya. "Soalnya kan pelanggan makin banyak. Di jam-jam kayak makan siang sama makan malam kan, Sera selalu penuh. Menurut gue, itu tanda kalau Sera udah siap naik satu langkah."

Zainal mengembuskan napas pelan. "Tapi menurut gua, walau Sera kelihatan udah mulai siap ... gua masih merasa banyak hal yang harus dirapikan lagi sebelum Sera benar-benar mantap ke sana. Nah, pas gue jelasin kenapa belum buru-buru buka cabang ... om malah senyum."

Ia menggeleng kecil, masih mengingat percakapan beberapa jam sebelumnya.

"Om malah bilang, 'Berarti yang lagi kamu siapin itu bukan cabangnya. Tapi sistemnya.' Terus dari situ pembicaraannya berubah. Beliau nggak lagi nanya kapan gue buka cabang. Yang beliau bahas justru ... gimana caranya kalau nanti Sera benar-benar berkembang."

Baldi masih diam. Matanya sedikit turun ke arah kanan.

"Om nawarin Wirya Mart buat jadi partner distribusi. Katanya bukan sekadar jadi pemasok bahan. Tapi bantu ngebangun sistem pasokannya dari awal. Awalnya gue ngira beliau cuma nawarin jalur distribusi. Tapi makin gue cerna, yang beliau tawarin ternyata bukan barangnya. Yang beliau tawarin itu cara kerja Sera sendiri."

Zainal memutar cangkirnya perlahan, mengamati air hitam di cangkir itu. "Intinya, beliau ngomongin gimana cara supaya nanti, kalau Sera berkembang, fondasinya udah siap."

Zainal mengangkat pandangan ke arah Baldi. "Gue akhirnya setuju buat uji coba." Ia tersenyum tipis, meski sorot matanya masih dipenuhi pikiran. "Cuma sejak keluar dari sana, gua malah kepikiran terus. Makanya gue pengen denger dulu dari lo. Kalau kita benar mau masuk ke tahap itu ... menurut lo, kondisi Sera sekarang seberapa siap?"

Lihat selengkapnya