When Fate Brought Us Together

Raffa Akbar
Chapter #21

Bab 21 - Yang Seharusnya Tetap Terkubur

Malam turun pelan di atas rumah itu. Lampu-lampu teras sudah menyala sejak tadi, memantulkan cahaya hangat ke halaman yang luas. Rumah itu tidak bertingkat, tapi memanjang ke belakang--ruang demi ruang tersusun rapi, dengan udara yang terasa lebih tenang.

Di dalam, suasana dapur dan ruang makan dipenuhi aroma masakan. Baldi sudah duduk di kursinya. Piring kosong di depannya. Tangannya sibuk menyendok nasi hangat yang baru saja disajikan. Uap tipis masih mengepul, naik perlahan sebelum menghilang di udara.

Di sampingnya, Endang berdiri sebentar di dekat meja, merapikan hidangan satu per satu. Telur balado, sambal ati kentang, ayam goreng, tempe tahu, dan sayur asem.

Menu rumahan sederhana, masakan Bunda yang selalu menjadi alasan Baldi untuk pulang. Endang akhirnya duduk. Senyum kecil tidak lepas dari wajahnya saat melihat anaknya mulai makan dengan lahap.

"Gimana kerjaan mu, lancar?" tanya Endang lagi, kali ini lebih lembut, seperti memastikan.

Baldi tersenyum tipis. "Alhamdulillah lancar, Bunda."

"Alhamdulillah. Bunda senang dengernya."

Endang mengambil nasi secukupnya, melirik sekilas ke arah Baldi. "Tadi kamu sempat ketemu Zainal?"

Baldi mengangguk. "Iya. Sempat."

"Ada masalah di sana?"

Baldi menelan makanannya, menjawab santai. "Ada. Tapi kayaknya dia bisa handle."

Endang mengangguk pelan, seolah sudah menduga jawaban itu.

"Bunda yakin Zainal bisa," ucapnya tenang. "Dia itu selalu bertanggung jawab sama tugasnya."

Baldi tidak menanggapi. Ia hanya mengambil sambal ati kentang, menaruhnya di atas nasi, dan menyuapnya perlahan.

"Bunda senang setiap kali dengar kabar soal Zainal," lanjut Endang, suaranya hangat. "Melihat dia sekarang, Bunda jadi bangga. Dia bisa tumbuh jadi laki-laki yang baik."

Ia berhenti sebentar, matanya turun ke piring. "Terlepas dari masa lalunya."

Hening sejenak menyelinap di antara mereka. Baldi tetap makan dengan tenang, tanpa menunjukkan reaksi berlebihan. Sudah terbiasa, dengan hal ini. Endang lalu mengangkat pandangannya lagi.

"Tapi Bunda juga bangga sama kamu, Baldi."

Gerakan tangan Baldi sempat berhenti sepersekian detik, sebelum kembali seperti biasa.

"Kamu juga sudah bisa tanggung jawab sama hidup kamu sendiri. Itu saja sudah cukup bikin Bunda bangga."

Baldi tersenyum kecil. Matanya memancarkan ketulusan. "Makasih, Bunda. Ini juga berkat doa dan dukungan dari Bunda."

Endang membalas dengan senyum yang sama. Suasana kembali tenang, hanya suara sendok yang sesekali beradu dengan piring.

Beberapa saat kemudian, Baldi meraih remote yang tergeletak di meja samping. Ia menyalakan televisi. Layar menyala, menampilkan siaran berita malam. Suara pembawa berita mengalun pelan, menjadi latar yang familiar.

Di luar jendela, malam semakin pekat. Di dalam, waktu terasa berjalan lebih lambat.

Endang kembali membuka suara. "Nak, pas kamu ketemu Zainal ... dia sehat, kan?"

Baldi mengangguk. "Sehat, Bun." Ia berhenti sebentar, seperti mengingat sesuatu. "Malah kelihatan lebih senang sekarang."

Endang sedikit mengernyit, penasaran. "Zainal ... lagi senang? Bunda baru denger. Senang kenapa, Nak?"

Baldi mengangkat bahu ringan. "Kayaknya dia lagi suka sama seseorang, Bun."

Sendok di tangan Endang berhenti di udara. "Suka ...? Sama siapa?" ulangnya pelan. Senyum kecil mulai muncul.

Baldi tidak langsung menjawab. Ia justru mengambil air minum, menyesap sebentar, lalu menurunkannya. Pandangannya beralih ke ibunya.

"Itu, Bun, di restoran kan ada karyawan baru ..."

Endang menunggu Baldi menyelesaikan kalimatnya.

"Perempuan. Namanya Anaya."

Sendok di tangan Endang terlepas, jatuh menyentuh piring. Suaranya tipis, tapi cukup untuk memecah suasana. Baldi langsung berhenti makan. Alisnya mengernyit.

"Anaya?" ulangnya, dengan nada lebih pelan. Seperti menguji bunyi nama itu di lidahnya sendiri.

Baldi mengangguk. "Iya."

Endang diam. Tangannya kembali bergerak, mengambil nasi tapi lebih lambat. Keningnya sempat berkerut sejenak sebelum kembali normal.

"Anaya ..." Endang bergumam pelan, "Seperti apa rupanya?"

Baldi menoleh, menelan makanannya pelan-pelan sebelum menatap bundanya. Dia berpikir sebentar, mencoba mengingat-ingat.

"Anaya itu ... cantik," jawabnya akhirnya. "Senyumnya manis, wajahnya juga ayu. Terus agak tinggi juga."

Sendok Endang berhenti lagi, kali ini lebih lama. Ia tidak langsung bereaksi. Hanya diam, yang cukup lama. Jantungnya mulai berdetak cepat begitu mendengarnya.

"Lalu ... kepribadiannya?" tanyanya lagi. Suaranya dijaga tetap tenang, agar anaknya tidak curiga.

Baldi bersandar sedikit ke kursinya. "Apa ya, Bunda." Baldi kembali berpikir, mencari kalimat yang tepat. "Yang aku lihat sih, sifatnya baik, dan murah senyum."

Sendok di tangan Endang tidak bergerak lagi. Pandangannya lurus ke depan, tidak benar-benar fokus. Kata-kata itu--terulang di kepalanya, satu per satu. Cantik, senyumnya manis, tinggi, baik. Namanya ... dan bahkan ciri-cirinya bukan lagi sebuah kebetulan. Hanya ada satu jawaban di kepala Endang--bahwa gadis yang membuat Zainal tertarik itu adalah gadis yang sama, yang ia kenal sejak sepuluh tahun yang lalu.

Kepala Endang langsung berputar, napasnya perlahan menjadi terputus-putus. Rasa takut mulai menjalar ke seluruh tubuhnya. Perasaan takut dan rasa bersalah yang dulu ia simpan begitu rapat, kini kembali menghantuinya.

"Bunda?" Baldi memanggil, melihat Endang mematung. Ia langsung berdiri dari kursinya, langkahnya mendekat. Tangannya terangkat, mengusap pelan punggung ibunya.

"Ada apa, Bun? Bunda kenapa?" Suaranya berubah—lebih serius, lebih khawatir.

Endang tidak langsung menjawab. Napasnya tersendat pelan, dadanya naik turun lebih cepat dari biasanya. Pandangannya lurus ke depan—menatap ke arah kosong.

"Bun ...?" panggil Baldi lagi. Tidak ada respon, seolah suara itu tidak sampai. Segalanya mendadak menjadi sunyi.

Di hadapannya, seseorang berdiri. Awalnya samar, namun perlahan ... menjadi jelas.

Sosok perempuan berdiri di sana. Diam, tidak bergerak. Gaun putih sederhana menjuntai lurus selutut, nyaris tanpa lipatan. Rambut panjangnya terurai, menutupi sebagian wajahnya yang pucat, seperti tidak ada darah yang tersisa di sana.

Endang membeku, pupil matanya melebar melihat sosok di hadapannya. Dian, mendiang ibu Anaya. Bibirnya robek di sudut. Darah mengalir, berwarna pekat, turun perlahan ke dagu. Menetes, satu ... dua ... tetesan itu jatuh ke lantai.

Lehernya dipenuhi bekas lebam, berwarna biru keunguan. Lengannya juga sama. Tatapannya dingin. Matanya perlahan terangkat, menatap langsung ke arah Endang.

Kosong--lalu perlahan pupilnya melebar. Air mata menggenang di pelupuk, tapi tidak jatuh. Tangannya terangkat perlahan-lahan, menunjuk tepat ke arah Endang.

"Endang ..."

Suaranya terdengar tidak utuh. Seperti dua suara bertumpuk menjadi satu. Satu terdengar pelan. Satu lagi--serak, seperti bisikan dari tenggorokan yang rusak.

"Mengapa kamu melakukan ini ... pada keluargaku?"

Endang ingin mundur, namun tubuhnya tidak dapat bergerak. Jari-jarinya mencengkeram ujung meja, sampai buku jarinya memutih.

"Mengapa ..."

Suara itu berubah lebih berat. Lebih dekat--padahal Dian belum bergerak.

"MENGAPA ..."

Sekejap, wajah Dian berubah. Matanya melebar. Air mata akhirnya jatuh, bercampur dengan darah di bibirnya.

"MENGAPA?!"

Dalam satu hentakan--Dian melesat maju.

Gerakannya cepat, dan tidak wajar. Tubuhnya seperti terseret ke depan. Tangannya terulur--kaku--menuju leher Endang, seolah ingin mencekiknya. Wajahnya kini sangat dekat--bau amis darah memenuhi udara.

"Bunda!"

Endang tersentak. Pandangan kosongnya kembali terisi. Sosok di depannya hilang. Tidak ada siapa-siapa. Hanya Baldi yang berdiri di sampingnya dengan wajah panik.

"Ya Allah, Bun ..."

Baldi langsung meraih bahunya. "Bunda kenapa?"

Endang berkedip beberapa kali. Nafasnya masih belum stabil. Ia menelan pelan, mencoba mengembalikan dirinya.

Baldi buru-buru meraih gelas di meja, menyodorkannya. "Minum dulu, Bun."

Endang menerimanya dengan tangan sedikit gemetar. Ia meneguk air itu perlahan. Sampai akhirnya napasnya mulai lebih teratur. Baldi masih berdiri di dekatnya, tidak beranjak sedikit pun.

"Bunda kenapa melamun begitu?" tanyanya pelan, tapi jelas penuh cemas.

Endang tidak langsung menjawab. Ia menurunkan gelas, lalu mengusap pelipisnya dengan punggung tangan. Keringat tipis terasa di sana.

"Bunda ... capek?" tanya Baldi lagi. Ia langsung menarik kursi di sebelah Endang, duduk lebih dekat.

"Istighfar, Bun ..." katanya pelan. "Wajah Bunda pucat banget, kayak habis lihat setan."

Endang menutup matanya sebentar.

"Astaghfirullah ..." lirihnya. Sekali.

"Astaghfirullah ..." Dua kali.

"Astaghfirullah." Tiga kali. Napasnya perlahan kembali stabil.

Baldi mengulurkan tangannya, menggenggam tangan ibunya. Ibu jarinya mengusap pelan, mencoba menenangkan.

Lihat selengkapnya