When Fate Brought Us Together

Raffa Akbar
Chapter #22

Bab 22 - Jakarta di Ujung Rindu

Sore itu, Jakarta terasa lebih sesak dari biasanya. Deru mesin kendaraan mengalun tanpa jeda, bercampur dengan bunyi klakson yang saling bersahutan di sepanjang jalan. Langit di atas kota perlahan berubah jingga, seolah menandai hari yang mulai lelah menanggung hiruk-pikuk manusia.

Di sebuah gang yang tidak terlalu lebar, berdiri rumah sederhana dengan pagar besi yang catnya mulai memudar dimakan waktu. Di depan rumah itu, seorang pria muda tampak baru saja tiba.

Sudah tiga tahun lamanya. Tiga tahun sejak pria yang kerap disapa Ilham itu meninggalkan rumah demi pekerjaannya di Bandung. Kota itu memberinya banyak hal--pengalaman, pekerjaan tetap, juga kehidupan yang perlahan menuntutnya menjadi lebih dewasa. Namun, di balik semua kesibukan dan tuntutan sebagai seorang auditor, ada satu hal yang tidak pernah benar-benar bisa ia biasakan--rasa rindu pada rumah.

Rindu pada suara ibunya yang selalu cerewet menanyakan apakah ia sudah makan atau belum. Rindu pada adik laki-lakinya, Ferdi, yang dulu sering merebut remot televisi lalu berakhir bertengkar hal sepele dengannya. Hal-hal kecil yang dulu terasa biasa saja, kini justru menjadi sesuatu yang paling sering ia pikirkan saat malam-malam panjang di perantauan.

Kini, Ilham akhirnya kembali berdiri di depan rumah yang selalu ia rindukan. Ia melangkah pelan menuju pintu. Tas besar di pundaknya sedikit bergeser ketika tangannya terangkat untuk mengetuk.

Tok. Tok. Tok.

"Assalamualaikum," ucapnya, dengan suara yang tanpa sadar terdengar lebih ceria dari biasanya.

Sesaat setelah salam itu lepas dari bibirnya, dadanya justru terasa semakin sesak oleh debar yang tak menentu. Kepulangan ini terasa jauh lebih menegangkan daripada hari pertamanya merantau ke Bandung tiga tahun lalu. Tak lama kemudian, pintu rumah terbuka.

"Waalaikumsalam ... eh, Ilham!"

Mega, ibunya, tampak tertegun sepersekian detik sebelum buru-buru menarik putranya ke dalam pelukan. Rindu yang selama ini ditahan seolah luruh begitu saja di pundak anak sulungnya itu.

"Ya Allah, Nak ..." suara perempuan itu bergetar, pecah oleh tangis. "Gimana kabar kamu?"

Ilham memejamkan mata sejenak di dalam pelukan itu. Aroma rumah yang begitu akrab, suara ibunya, juga kehangatan yang selama ini hanya bisa ia rindukan dari kejauhan, membuat dadanya terasa penuh.

"Aku baik, Bu," jawabnya lirih. "Aku kangen banget sama Ibu."

Mega mengusap wajah putranya berkali-kali, seolah ingin memastikan bahwa anak yang berdiri di hadapannya itu benar-benar telah pulang, bukan sekadar rindu yang terlalu sering ia bayangkan setiap malam.

Wajah perempuan itu tampak berbinar. Dengan mata yang masih basah, ia buru-buru menoleh ke dalam rumah.

"Ferdi! Ferdi!" panggilnya setengah berteriak, suaranya dipenuhi kegembiraan yang sulit disembunyikan. "Abang kamu pulang!"

Terdengar suara langkah tergesa dari arah dalam rumah. Tak lama, seorang remaja laki-laki muncul dengan wajah kebingungan. Namun sesaat setelah matanya menangkap sosok Ilham di depan pintu, langkahnya langsung terhenti.

"Abang ...?"

Nada suaranya terdengar tidak percaya. Lalu, tanpa menunggu lebih lama, Ferdi berlari menghampiri kakaknya.

"Abang!"

Tubuh remaja itu langsung menubruk Ilham dalam pelukan yang erat. Bahunya bergetar pelan. Tangis yang selama ini ditahan akhirnya luruh begitu saja. Ilham tersenyum kecil sambil membalas pelukan adiknya. Hangat yang sederhana itu entah kenapa terasa lebih menenangkan daripada apa pun yang ia miliki selama hidup sendiri.

"Eh, jagoan Abang udah bongsor badannya," godanya pelan sembari mengacak rambut Ferdi.

Ferdi langsung mendengus pelan sambil mengusap matanya yang basah. "Ya iyalah. Ferdi kan udah SMA sekarang," balasnya, meski suaranya masih terdengar serak karena tangis.

"Ferdi, sudah, Nak," tegur Mega lembut sambil tersenyum haru. "Jangan nangis begitu di depan abangmu."

"Tuh, kan," sela Ilham sambil terkekeh kecil. "Udah gede masih aja cengeng."

"Kayak Abang enggak aja," balas Ferdi cepat, membuat Ilham kembali tertawa.

Mega ikut tertawa kecil melihat tingkah kedua anaknya. Suasana rumah yang selama ini terasa sepi mendadak kembali hidup hanya karena kepulangan satu orang.

"Ayo, ayo masuk," ujar Mega kemudian, tangannya dengan lembut menepuk lengan Ilham. "Kamu pasti capek habis dari perjalanan jauh."

Setelah itu ia menoleh ke arah Ferdi. "Ferdi, bantu bawakan barang abangmu."

"Iya, Bu."

Ferdi segera mengambil koper milik Ilham, sementara Ilham melangkah masuk ke dalam rumah yang selama bertahun-tahun selalu ia rindukan.

Tak ada yang berubah banyak. Dinding yang mulai pudar warnanya, kipas angin tua di ruang tamu, hingga aroma masakan dari dapur yang sejak tadi samar-samar tercium--semuanya masih sama seperti yang ia ingat.

Ilham menjatuhkan tubuhnya ke sofa ruang tamu dengan napas panjang yang lega. Mega duduk di sebelahnya, tak henti-hentinya memandang wajah putra sulungnya itu. Perempuan itu lalu menoleh ke arah anak bungsunya.

"Fer, ambilkan abangmu minum."

"Iya, Bu."

Ferdi segera berjalan ke dapur. Tak lama kemudian, ia kembali sambil membawa sebuah nampan berisi tiga gelas es teh yang permukaannya dipenuhi embun dingin.

Nampan itu diletakkannya di atas meja. Ilham, yang baru saja melepas sepatunya, langsung meraih salah satu gelas. Begitu minuman dingin itu melewati tenggorokannya, ia mengembuskan napas pelan.

"Ah ... segarnya. Haus langsung hilang." gumamnya kecil, membuat Ferdi terkekeh.

Mega tersenyum tipis menatap putranya sebelum akhirnya bertanya pelan, "Gimana kerjaanmu di Bandung? Lancar, kan?"

Ilham menurunkan gelasnya perlahan ke atas meja. Ferdi kini duduk di dekatnya sambil memperhatikan dengan antusias.

"Alhamdulillah, semuanya lancar, Bu."

"Alhamdulillah," sahut Mega lega. Ada sorot bangga yang tak bisa disembunyikan dari matanya.

Ilham terdiam sejenak, lalu tersenyum kecil seolah baru teringat sesuatu. "Oh iya," katanya sambil membuka tas yang sejak tadi ia letakkan di samping sofa. "Aku bawa hadiah buat Ibu sama Ferdi."

Seketika mata Ferdi membulat antusias. "Hah? Serius, Bang?"

Ilham mulai mengeluarkan beberapa barang dari dalam tasnya. Satu per satu ia letakkan di atas meja dengan senyum kecil yang sejak tadi tak benar-benar hilang dari wajahnya. Tatapannya kemudian beralih pada sang ibu.

"Ini buat Ibu."

Ia menyerahkan dua set baju muslimah berwarna lembut lengkap dengan kerudungnya. Kainnya tampak jatuh dan elegan, dengan bordir sederhana yang justru membuatnya terlihat anggun. Namun ternyata belum selesai sampai di situ. Ilham kembali merogoh tasnya, lalu mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil berwarna hitam.

Mega tampak bingung ketika putranya membuka kotak itu perlahan. Di dalamnya terbaring sebuah kalung emas rantai dempet 22 karat dengan liontin kecil berbentuk bunga melati. Tidak berlebihan, tetapi tampak cantik dan berkelas--jenis perhiasan sederhana yang tetap terasa mewah saat dikenakan.

Ruangan itu seketika hening. Mega menatap kalung tersebut dengan mata yang perlahan memerah. Jemarinya bahkan tampak gemetar ketika menyentuhnya pelan.

"Ilham ... ini pasti mahal, Nak ..." suaranya lirih.

Ilham hanya tersenyum kecil. "Enggak semahal pengorbanan Ibu buat aku."

Kalimat sederhana itu justru membuat air mata Mega jatuh tanpa bisa ditahan lagi.

"Sini," ucap Ilham lembut sambil mengambil kalung itu dari dalam kotak. "Biar aku pasangkan."

Mega menundukkan kepala pelan. Tangisnya semakin pecah ketika Ilham dengan hati-hati memasangkan kalung emas itu di lehernya. Begitu pengaitnya terkunci, Ilham tersenyum puas melihat ibunya.

Lihat selengkapnya